Helo Indonesia

Obituari: Jejak Panjang Alex Noerdin, dari Arena Olahraga hingga Panggung Hukum

Annisa Egaleonita - Opini
Rabu, 25 Februari 2026 15:38
    Bagikan  
Obituari: Jejak Panjang Alex Noerdin, dari Arena Olahraga hingga Panggung Hukum

H. Alex Noerdin

Oleh : Majid Lintang*

KABAR wafatnya Alex Noerdin menghadirkan gelombang duka yang berlapis-lapis: duka keluarga, duka para pendukung, juga duka mereka yang mengenangnya sebagai sosok pemimpin dengan capaian besar sekaligus kontroversi yang tak kecil. Ia adalah figur yang namanya lama bergema di Sumatera Selatan—disebut dengan hormat oleh sebagian, diperdebatkan oleh sebagian lain.

Lahir pada 9 Maret 1950, Alex meniti karier dari jalur birokrasi dan politik lokal hingga mencapai puncak sebagai Gubernur Sumatera Selatan selama dua periode (2008–2018). Di masa kepemimpinannya, provinsi itu menjadi tuan rumah perhelatan olahraga internasional seperti SEA Games dan Asian Games. Stadion megah berdiri, infrastruktur dipercepat, dan Palembang menjelma etalase Sumatera di hadapan Asia.

undefined

Ruang ICU

Di bawah sorot lampu pembukaan Asian Games 2018, nama Alex disebut sebagai salah satu arsitek ambisi besar itu—mendorong percepatan pembangunan Jakabaring Sport City dan mengangkat kepercayaan diri daerah. Banyak warga mengenangnya sebagai pemimpin yang berani “memasang target tinggi” dan menggerakkan birokrasi untuk mengejar ketertinggalan.

Namun perjalanan hidupnya tak hanya berisi tepuk tangan. Setelah lengser dari jabatan, ia menghadapi proses hukum yang panjang. Statusnya sebagai terpidana kasus korupsi membuat namanya kerap hadir di ruang sidang, bukan lagi di mimbar peresmian. Bagi sebagian masyarakat, babak itu menjadi noda dalam catatan pengabdian; bagi yang lain, ia tetap dikenang atas kerja-kerja fisik dan warisan infrastruktur yang kasatmata.

undefined

Wafat

Dalam tahun-tahun terakhirnya, kondisi kesehatannya disebut menurun. Kabar tentang perawatan medis yang dijalaninya beberapa kali mencuat ke publik, memantik simpati sekaligus refleksi tentang rapuhnya tubuh manusia, betapapun dulu ia berdiri gagah di panggung kekuasaan.

Kepergiannya menutup satu bab penting sejarah politik Sumatera Selatan. Ia meninggalkan keluarga, para sahabat, serta jejak kebijakan yang akan terus diperdebatkan. Seperti banyak tokoh publik lain, hidupnya adalah mozaik: ada keberanian, ada ambisi, ada pencapaian, dan ada pula konsekuensi.

Sejarah kelak akan menuliskan namanya dengan tinta yang tak tunggal warna. Tetapi bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, menyaksikan gebrakan pembangunannya, atau bahkan mengkritik keras kebijakannya, Alex Noerdin tetaplah bagian dari cerita panjang tentang kekuasaan, tanggung jawab, dan harga yang kerap menyertainya.

Selamat jalan, Alex Noerdin. Waktu akan menjaga kenangan—dan menimbangnya dengan jernih.

*Jurnalis