Oleh: Andi Firmansyah
Pemerhati Kebijakan Korporasi
DALAM anatomi sebuah korporasi besar, ada bagian yang bekerja dalam sunyi namun menentukan hidup matinya seluruh sistem. Ia adalah nadi. Begitu pula posisi Regional 7 bagi PTPN I saat ini.
Namun, laporan arus kas per Maret 2026 mengungkapkan sebuah realitas yang getir: nadi yang terus berdenyut kencang demi menghidupi tubuh korporasi ini justru menjadi bagian yang paling sering terabaikan dan terlupakan.
Angka-angka yang tersaji dalam laporan realisasi bukanlah sekadar statistik tanpa jiwa. Di balik surplus Rp61 Miliar yang dihasilkan Regional 7, ada tetesan keringat dan dedikasi manusia-manusia yang memilih tetap produktif di tengah badai.
Saat regional lain terengah-engah dalam kepungan defisit—dengan angka kebocoran yang menyentuh ratusan miliar—Regional 7 justru tampil sebagai penyelamat yang menyuntikkan likuiditas. Tanpa "nadi" ini, tubuh PTPN I mungkin sudah lama kehilangan kesadaran di bawah beban defisit yang melampaui Rp220 Miliar.
Namun, ironi manajerial terjadi di sini. Prestasi Regional 7 yang mampu menyumbangkan pendapatan nyata sebesar Rp461 Miliar seolah dianggap sebagai kewajiban yang lumrah, bukan sebuah pencapaian yang patut diselebrasi.
Ada ketimpangan yang sistematis; mereka yang bekerja paling keras menyelamatkan kapal dari karam, justru menjadi pihak yang paling terakhir dipikirkan kesejahteraannya. Menghukum wilayah yang sehat untuk menutupi kegagalan wilayah yang sakit tanpa adanya diferensiasi apresiasi adalah sebuah bentuk ketidakadilan yang dibungkus dengan narasi "kepentingan kolektif".
Penderitaan ini kian terasa sunyi karena saluran aspirasi yang seharusnya menjadi pelantang suara karyawan justru mengalami "mati suri". Serikat pekerja, yang secara filosofis adalah penjaga api keadilan, kini tampak lebih sibuk menjaga harmoni dengan meja kekuasaan. Ada keheningan yang melukai di saat seharusnya ada pekik protes atas distribusi kesejahteraan yang tidak proporsional.
Ketika para pemimpin serikat lebih nyaman berada dalam pelukan kebijakan manajemen daripada berdiri di samping buruh yang berdarah-darah di lapangan, maka integritas organisasi tersebut sedang berada di titik nadir.
Ketidakhadiran pembelaan ini menciptakan jurang emosional yang dalam. Karyawan di Regional 7 kini berjuang dalam kesendirian, memacu target yang ambisius namun dibiarkan tanpa nutrisi apresiasi yang layak. Padahal, keberlanjutan sebuah industri perkebunan tidak hanya diukur dari produktivitas lahan per hektar, melainkan dari rasa dihargai yang tumbuh di hati para pekerjanya.
Menjadikan Regional 7 sebagai "nadi" yang terus diperas tanpa dirawat adalah sebuah bom waktu. Loyalitas memiliki batas, dan dedikasi bisa luntur jika terus-menerus dibalas dengan pengabaian. Sudah saatnya manajemen PTPN I berhenti memandang surplus hanya sebagai angka statistik untuk menambal kerugian.
Sudah saatnya manajemen memanusiakan prestasi. Sebab, jika nadi ini akhirnya lelah dan berhenti berdenyut karena merasa tak lagi dihargai, maka seluruh tubuh korporasi—sebesar apa pun ia—akan ikut tumbang bersamanya. Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya sebuah nadi justru ketika ia sudah berhenti mengalirkan kehidupan.
