Helo Indonesia

Memanusiakan Manusia Dimulai dari Perjalanan ke Sekolah

Herman Batin Mangku - Opini
1 jam 12 menit lalu
    Bagikan  
TRANSPORTASI
HELO LAMPUNG

TRANSPORTASI - Ilustrasi penulis dan mimpi keberadaan bus sekolah untuk mengurangi kemacetan dan membantu pelajar tepat waktu sampai di sekolah

Penulis Ali Rukman
Pelaku Pemberdayaan Masyarakat

TIGA hari ini, saya merasakan langsung bagaimana perjalanan seorang orangtua mengantar anak menuju sekolah. Dari Kemiling menuju SMA di kawasan Gotongroyong, saya melewati jalan-jalan protokol Kota Bandarlampung pada jam sibuk, saat berangkat pagi dan ketika pulang sore hari.

Mungkin, pengalaman saya belum seberapa dibandingkan dengan orangtua lainnya yang setiap hari harus berjibaku dengan kondisi jalan yang sama. Namun bagi saya, tiga hari perjalanan itu cukup menghadirkan satu perenungan. Kalau hari ini saja kondisi jalan Bandarlampung sudah seperti ini, bagaimana dengan dua, tiga, empat, bahkan lima tahun ke depan?

Beberapa tahun ke depan, apakah jalan-jalan kita akan terus mampu menampung semuanya? Ketika jumlah pelajar dan mahasiswa terus bertambah. Ketika aktivitas ekonomi semakin meningkat. Ketika kendaraan, khususnya sepeda motor yang digunakan pelajar dan mahasiswa, juga ikut bertambah memenuhi ruas-ruas jalan kota.

Atau jangan-jangan, kemacetan yang hari ini masih kita keluhkan hanya menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar di masa depan.

Liburan sekolah dan mahasiswa memang telah usai. Bersamaan dengan itu, Kota Bandarlampung kembali memperlihatkan wajah yang begitu akrab. Jalan-jalan protokol dipenuhi kendaraan. Waktu tempuh yang sempat terasa bersahabat, perlahan kembali memanjang. Macet seolah pulang ke rumahnya.

Barangkali beginilah harga sebuah kota yang sedang bertumbuh. Kendaraan terus bertambah, sementara ruang jalan tetap itu-itu saja. Setiap pagi, ribuan orang bergerak dengan tujuan yang sama. Ada yang menuju sekolah, kampus, dan tempat kerja. Semua mengejar waktu, tetapi pada akhirnya dipaksa berbagi satu hal yang sama: kesabaran.

Kemacetan bukan hanya soal terlambat sampai tujuan. Ia menguras energi sebelum hari benar-benar dimulai. Ia menguji emosi. Ia menuntut setiap pengendara lebih waspada agar perjalanan tidak berakhir menjadi musibah.

Di antara lautan kendaraan itu, sepeda motor menjadi pemandangan yang paling mendominasi. Banyak dikendarai oleh pelajar dan mahasiswa. Sebagian sudah tertib, tetapi tidak sedikit yang masih terburu-buru. 

Mungkin mereka sedang mengejar bel sekolah. Mungkin pula sedang mengejar waktu. Namun jalan raya tidak pernah mengenal siapa yang paling tergesa. Jalan raya hanya mengenal siapa yang paling berhati-hati. Lalu muncul pertanyaan sederhana.

Benarkah kita sudah memberikan cara terbaik bagi anak-anak kita untuk berangkat menuntut ilmu? Saya justru membayangkan sesuatu yang pernah akrab, tetapi perlahan menghilang dari ingatan kita. Bus sekolah.

Bayangkan jika sekolah-sekolah, terutama sekolah favorit dengan jumlah siswa besar, bekerja sama dengan Dinas Perhubungan atau asosiasi pemilik bus menyediakan angkutan sekolah yang terjadwal. Perguruan tinggi pun dapat mengambil peran dalam pola yang sama.

Satu bus dapat menggantikan puluhan bahkan ratusan sepeda motor yang setiap pagi memenuhi jalan utama Bandar Lampung. Dampaknya bukan hanya mengurangi kepadatan, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi anak-anak dan ketenangan bagi orang tua.

Perjalanan menuju sekolah tidak lagi sekadar berpindah tempat. Di dalam bus dapat diputar video tentang keselamatan berlalu lintas, pendidikan karakter, etika berkendara, hingga wawasan kebangsaan. Waktu yang selama ini habis di jalan berubah menjadi ruang belajar yang sederhana, tetapi bermakna.

Bukankah pendidikan tidak selalu dimulai ketika guru memasuki kelas? Kadang pendidikan dimulai dari cara kita menghargai perjalanan menuju sekolah. Ada manfaat lain yang sering luput dari perhatian. Soal biaya.

Selama ini banyak orangtua harus menyediakan anggaran harian untuk bahan bakar, parkir, hingga perawatan kendaraan yang digunakan anaknya berangkat sekolah atau kampus. Dengan adanya bus sekolah, pengeluaran transportasi keluarga menjadi lebih terukur.

Bahkan akan jauh lebih membantu apabila pemerintah daerah hadir mengambil peran melalui dukungan biaya operasional atau subsidi tarif, sehingga ongkos yang harus ditanggung pelajar dan mahasiswa menjadi lebih ringan.

Biarlah orangtua atau ojol cukup mengantar atau menjemput anak-anak di titik pemberhentian bus yang telah ditentukan. Lebih sederhana. Lebih tertib. Lebih menenangkan.

Di sisi lain, Polisi Lalu Lintas pun akan mendapatkan manfaat yang besar. Energi mereka tidak lagi habis untuk mengurai kepadatan kendaraan pelajar maupun orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah.

Tidak lagi setiap pagi disibukkan menghadapi pengendara yang "sen kiri belok kanan", berhenti mendadak, atau berpindah jalur tanpa memberi ruang bagi pengguna jalan lain.

Mereka dapat lebih fokus membangun budaya tertib berlalu lintas daripada sekadar mengurai persoalan yang sama setiap hari.

Selama ini kita sering berbicara tentang pelebaran jalan, pembangunan flyover, atau penambahan simpang. Semua itu memang penting. Namun sesekali kita perlu bertanya.: Apakah solusi kemacetan selalu harus berupa beton dan aspal?

Mungkin yang kita perlukan adalah keberanian menghadirkan kembali sistem transportasi pelajar yang lebih manusiawi. Bus sekolah memang bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan transportasi kota.

Tetapi ia adalah langkah nyata yang bisa dimulai. Kemacetan berkurang. Risiko kecelakaan dapat ditekan. Pengeluaran keluarga lebih ringan. Anak-anak lebih aman.

Pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki banyak kendaraan. Tetapi kota yang mampu membuat warganya bergerak dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

Sebab menyediakan, atau menghidupkan kembali, bus sekolah sesungguhnya bukan hanya menghadirkan moda transportasi. Lebih dari itu, ia adalah cara kita memanusiakan manusia.

Anak-anak tidak lagi dipaksa bertarung dengan kemacetan sebelum mereka belajar. Orang tua tidak lagi mengawali hari dengan kecemasan. Jalan raya kembali menjadi ruang bersama, bukan arena berburu waktu yang menguras energi, kesabaran, bahkan keselamatan.

Mungkin kita memang tidak bisa menghilangkan kemacetan dalam semalam. Namun kita bisa memulai dari satu langkah sederhana. Memberikan perjalanan yang lebih baik bagi anak-anak kita. Karena memanusiakan manusia tidak selalu dimulai dari hal besar. ia tentu bisa dimulai dari sebuah perjalanan kecil. Perjalanan menuju sekolah. ***