Oleh Gino Vanollie*
KEBIJAKAN Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana untuk membuka sekolah SMA Sigers, dari sisi niat dan semangat, kita layak sambut baik dan apresiasi. Niat dan semangat kepala daerah ikut berupaya agar anak-anak putus sekolah dan yang tidak diterima di sekolah negeri dari warga kurang mampu dapat terakomodir lewat SMA Sigers.
Namun sejatinya yang ditunggu dari Wali Kota Bandarlampung, upaya yang lebih serius dan sungguh-sungguh untuk mendorong lahirnya regulasi atau kebijakan yang memberi akses lebih luas bagi Pemkot Bandarlampung untuk bisa mengurus sekolah menengah (SMA, SMK sederajat).
Atau, setidaknya, Wali Kota Eva melahirlan kebijakan atau regulasi yang memberikan perlindungan, pembinaan dan penguatan bagi sekolah swasta, baik tingkat SLTP maupun SLTA (SMA, SMK Sederajat) yang kondisinya serba terbatas dan sangat membutuhkan dukungan untuk menjadi lebih baik.
Oleh karena itu, ketika Wali Kota Eba Dwiana dengan begitu bersemangat membuat terobosan baru membangun sekolah swasta SMA Siger dan langsung membuka penerimaan murid baru Tahun Pelajaran 2025/2026, justru menjadi menuai kontroversi.
Publik menilai, langkah yang dilakukan Wali Kota Eva Dwiana terlalu terburu-buru dan mengabaikan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Bahkan terkesan mengabaikan keberadaan SMA dan SMK swasta di kota Bandarlampung, terutama yang kondisinya sangat membutuhkan dukungan untuk bisa bertahan hidup.
Dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) TP 2025/2026 yang belum mampu mengakomodir keberadaan dan kepentingan sekolah swasta, maka kondisi sekolah swasta hari ini semakin tertekan, khususnya bagi sekolah swasta yang kemampuannya serba terbatas.
Oleh karena itu, langkah strategis untuk memberdayakan sekolah-sekolah swasta dengan memberikan dukungan yang maksimal, rasanya jauh lebih bijak dan produktif.
Wali Kota dapat mengundang mereka untuk berdialog, dengar apa yang menjadi keluhan, aspirasi, dan kebutuhan mendasarnya, serta apa harapan mereka terhadap Walikotanya. Melalui dialog, maka program program yang diluncurkan Walikota akan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.
Sebagai contoh, program beasiswa untuk siswa SMA, SMK yang sudah diinisiasi oleh Wali Kota Bandarlampung bisa menjadi terobosan program yang sangat produktif dan efektif. Beasiswa diberikan dalam bentuk pemberian kuota (dengan jumlah siswa tertentu) kepada sekolah-sekolah swasta yang ada dengan pembiayaannya penuh dari Walikota.
Sekolah yang menerima kuota haruslah sekolah yang telah memenuhi syarat, ijin operasionalnya lengkap, selama ini sudah eksis, punya sarana dan prasarana sekolah yang memadai, memiliki guru dan tenaga kependidikan lainnya, serta punya komitmen jelas untuk memberikan layanan pendidikan yang baik.
Jika terobosan ini yang dilakukan, maka kebijakan yang diambil akan sangat membantu sekolah swasta menengah dan kecil kembali hidup, kembali bergairah untuk terus bergerak maju meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan begitu, maka angka putus sekolah dapat ditekan, rata-rata lama sekolah akan meningkat, yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan IPM Lampung secara lebih baik.
Tentu, kita semua berharap keberadaan sekolah-sekolah swasta kita makin membaik dan berkualitas, bukan makin memprihatinkan dan terpinggirkan.
Kenapa kita mesti memberikan apresiasi dan penghargaan tinggi kepada sekolah-sekolah swasta, karena sejatinya sekolah swasta adalah pejuang pendidikan.
Ketika pemerintah belum memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun sekolah dan memberikan layanan pendidikan yang layak dan merata di seluruh wilayah tanah air, sekolah negeri masih sangat terbatas jumlah dan sebarannya, maka sekolah swasta yang dibangun oleh masyarakat dan stakeholder lain, yang kondisi dan kemampuanya sangat beragam, berjuang nyata mencerdaskan anak bangsa.
Jangan kemudian, ketika pemerintah sudah memiliki kemampuan, lantas keberadaan sekolah swasta yang kondisinya masih tetap memprihatinkan, justru makin dinafikan dan terpinggirkan oleh karena kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak dan bias sekolah negeri.
Menjadi ironi, bagaimana sekolah Taman Siswa yang lahir di Yogyakarta dan INS Kayutanam Bukittinggi-Sumatera Barat (2 contoh dari banyak contoh lain) yang begitu berjaya dan hebat di jaman penjajahan, justru meredup dan mati di zaman kemerdekaan. (**)
*Pemerhati Pendidikan
Ketua Dewan Pakar Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung.