LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Pernah dengar toponimi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tersebut cabang onomastika (bidang ilmu linguistik yang menyelidiki asal usul, bentuk, makna diri, nama orang dan tempat) yang spesifik menyelidiki nama tempat. Simplenya: "cucu" dari linguistik dan "putra" dari onomastika.
Sebagai "penyelidik" nama tempat, toponimi sudah barang tentu menjadi kecabangan ilmu yang kini kedepan pantang disepelekan alih-alih diabaikan. Pasalnya, sebagaimana pernah diingatkan oleh Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia, Multamia Lauder, seperti disitat Tempo, "nama memberi kontribusi besar dan merupakan bagian yang penting dan berguna dalam kehidupan kita sehari-hari."
Di Bumi Ruwa Jurai, kata toponimi meng-akrab sepekan ini. Berkat "ugat-uget" Perpustakaan Universitas Lampung (Unila) menggamit Komunitas Baca Perpustakaan Unila, menaja even literasi Bedah Buku "Toponimi Sumatra Bagian Selatan (Berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920–1940-an)" karya bersama dua budayawan Lampung ternama, Anshori Djausal dan Iwan Nurdaya Djafar, di area perpustakaan ini, Selasa (27/10/2026), pukul 10.00–12.00 WIB. Bagian dari tangkai Library Expo 2026.
Sebagai informasi, buku ditulis bersama Anshori Djausal dan Iwan Nurdaya Djafar (dengan pemeriksa aksara, yakni budayawan Lampung lainnya pelanggan Anugerah Sastra Rancagé khususnya atas karya sastra Lampung, Zulkarnaen Zubairi a.k.a. Udo Z. Karzi), diterbitkan Pustaka LaBRAK dan Akademi Lampung, Februari 2025.
Buku, memuat hasil penelitian terhadap 3.560 toponimi berdasar peta periode 1920 hingga 1940-an. Selain duet penulis buku ini, Anshori dan Iwan jua duet ketua sekretaris di Akademi Lampung. Iwan sendiri sebelumnya jua pernah menerbitkan buku "Toponimi Bandarlampung" karyanya, ulas asal usul nama tempat kota ini, 300-an halaman.
'Perpus', nama karib lidah, Unit Pelayanan Akademik (UPA) pusat informasi, referensi, literasi sivitas kampus hijau Jl Prof Dr Sumantri Brojonegoro Gedong Meneng, Rajabasa, Bandarlampung, buka tiap Senin–Jumat (08.00–17.00 WIB) dan Sabtu (08.00–14.00 WIB), menggeber gelaran ini, yang amat direkomendasikan bagi khalayak ramai umumnya.
Juga, para tokoh masyarakat adat dan hukum adat, anak muda, geng kutu buku, penelusur sejarah, sejarawan dan akademisi, sastrawan, pegiat budaya, kepala daerah, birokrat pemerintahan dan legislator terutama yang berkelindan dengan isu-isu stratejik terkait penamaan tempat dan jalan, pemimpin informal, praktisi media massa, para pemengaruh dan pendengung, serta lainnya.
Kesempatan ini, UPA pengampu situs library.unila.ac.id, katalog online OPAC (Online Public Access Catalog) di opac.unila.ac.id demi memudahkan pencarian koleksi buku secara daring, layanan WhatsApp 082119970406, aplikasi digital baca e-book bagi pengguna Android di Google Play Store dan iOS di Apple App Store, serta koleksi fisik dan digital ribuan judul buku cetak, jurnal, skripsi, tesis, akses e-book via jaringan SSO Unila, menghadirkan salah satu penulis buku, Anshori Djausal.
Saat berlangsungnya, bedah buku dipandu moderator Ir. Bayzoni, M.T. dengan pembahas Listumbinang Halengkara, M.Sc. ini berjalan gayeng bin menarik. Sesuai niat ajakan, diskusi narasumber, hadirin, mengalir menuju pengayaan pemahaman sejarah serta identitas wilayah Sumatra Bagian Selatan melalui kajian toponimi. Peserta yang beruntung jua mendapatkan doorprize.
Sebelumnya, penaja helat sampai mengobar kata tanya demi mempenasarankannya. "Bagaimana peta lama merekam jejak sejarah dan perubahan wilayah Sumatra Bagian Selatan? Temukan jawabannya dalam Bedah Buku Toponimi Sumatra Bagian Selatan (Berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920–1940-an). Kegiatan ini menjadi kesempatan menyelami sejarah melalui nama-nama tempat, peta lama, serta jejak geografis yang menyimpan cerita tentang masa lalu," rilis Perpus Unila.
"Sebab, nama sebuah tempat bukan sekadar penanda di peta, melainkan juga jejak perjalanan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat," demikian 'betul sekali' pemantiknya.
Adapun, kisi-kisi pointers penting yang diarusutamakan Anshori Djausal sang multitalenta, kesempatan berbicara, Selasa, sejatinya bertolak jua dari buah tekunnya serba berkedalaman dalam proses dia melihat mendengar, serta menyaksikan dan merekam, menelaah serta menganalisa, hingga mengabadikannya secara paten. Bukan imajiner tapi produk perbendaharaan kata buah observasi mendalam.
Diamati secara seksama, ketekunannya itu secara arsiparis semirip sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam wujud berbeda. Seturut Pram pula, setidaknya diapun telah cukup syarat menjelma bak manuskrip. Intelektual organik.
SERBA SERBI TOPONIMI
Kembali ke toponimi, per etimologis berasal dari bahasa Yunani: tópos berarti tempat, dan ónoma berarti nama; cabang ilmu dari onomastika (bagian dari linguistik) yang mempelajari asal-usul, arti atau makna, penggunaan, bentuk dan jenis nama-nama tempat atau unsur geografis di muka bumi.
Toponimi sejatinya punya dua unsur utama. Yakni asal usul dan etimologi (menelusuri bagaimana sebuah nama wilayah atau jalan bisa tercipta: apakah dari peristiwa sejarah, legenda, kondisi alam, atau bahasa daerah), serta makna (menggali informasi di balik penamaan tersebut yang sering kali merekam kondisi masa lalu).
Toponimi mencakup sedikitnya lima tipologi/penggolongan, yaitu Hidronim (nama yang berkaitan dengan wilayah perairan misal sungai, laut, danau); Oronim (nama yang berkaitan dengan bentuk relief muka bumi misal bukit, pegunungan); Agronim (nama yang berkaitan dengan jenis tumbuhan); Geonim (nama wilayah geografi secara umum); dan Kormonim (nama fitur kosmos atau luar bumi).
Lantas, secara aspek toponimi (sudut pandang atau dasar pertimbangan digunakan dalam menamai suatu wilayah, tempat, atau unsur rupa bumi baik alami/buatan). Dalam kajian linguistik, geografi, dan budaya, aspek toponimi umumnya dibagi menjadi tiga kategori utama atau tiga klasifikasi berdasarkan faktor pemicunya.
Pertama, berdasar aspek perwujudan (kondisi alam atau geografis). Penamaan didasarkan pada bentuk fisik, rupa bumi, atau unsur alam wilayah tersebut. Misal nama tempat merujuk pada aliran sungai (Kuala, Sungai), jenis tumbuhan (pohon pauh, kelapa), bentuk dataran tinggi/pematang, dll.
Contohnya:
1. Bukittinggi —dinamakan demikian karena letak geografis berupa wilayah perbukitan yang tinggi.
2. Gunung Kidul —dinamakan demikian merujuk wilayah kabupaten berada di pegunungan bagian selatan Yogya.
3. Rancaekek, Ranca Bolang, atau Ranca Upas, Bandung —berawalan "ranca" berarti rawa, mencerminkan kondisi wilayah dulunya kawasan danau purba/rawa-rawa.
4. Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan —dari bahasa Bugis benrang atau pindra-pindra berarti genangan air atau rawa.
Kedua, berdasarkan aspek kebudayaan (sejarah, legenda, mitos, dan sistem nilai). Penamaan dipengaruhi warisan budaya, cerita rakyat, legenda, sistem kepercayaan, atau peristiwa bersejarah. Misalnya nama daerah diambil dari kisah kepahlawanan, legenda lokal, peristiwa kedatangan tokoh atau tentara, hingga filosofi harapan hidup (seperti tunas kelapa atau cikal).
Contohnya:
1. Jambi —berasal dari kata jambe (bahasa Jawa/Sunda kuno) berarti buah pinang, yang berkaitan dengan sejarah kekuasaan ratu atau perintah raja setempat.
2. Jakarta —dari kata Jayakarta berarti "kemenangan yang sempurna", mencerminkan sejarah penting wilayah sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan.
3. Lampung —berasal dari kata dalam bahasa Batak lappung berarti besar atau luas, merujuk pada kelompok masyarakat yang berlayar mencari pemukiman baru.
4. Surabaya —diyakini berasal dari legenda pertarungan antara ikan hiu (sura) dan buaya (baya).
Ketiga, aspek kemasyarakatan (aktivitas, sosial, budaya). Penamaan didasarkan pada kebiasaan, mata pencaharian, atau kesepakatan sosial masyarakat pemakainya. Misalnya wilayah yang dinamai berdasar profesi mayoritas penduduk seperti pertanian, tempat berkumpulnya kelompok tertentu, atau sejarah permukiman.
Contohnya Pasar Rumput, Jakarta Selatan —dinamakan demikian ulah era kolonial Belanda, tempat berkumpulnya penjual rumput pakan kuda, transportasi utama saat itu. Atau Kampung Nelayan —berdasar mata pencaharian atau aktivitas utama mayoritas warga setempat: nelayan.
Mempelajari toponimi bermanfaat penting bagi kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan, dan bangsa. Terangkum, sedikitnya ada delapan fungsi dan manfaat toponimi, yakni:
Pertama, sebagai rekam jejak sejarah dan budaya (menjadi sumber informasi kondisi geografis, migrasi penduduk, dan nama tempat acap kali menyimpan cerita tentang nenek moyang, legenda, tradisi, peristiwa penting di masa lalu yang tidak tercatat dalam dokumen resmi).
Kedua, memperkuat identitas daerah (nama yang khas membantu membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya serta membangun rasa kebanggaan masyarakat terhadap wilayah kampung halamannya).
Ketiga, mendukung mewujudkan tertib administrasi dan dan kebijakan publik. Pembakuan nama rupabumi dan wilayah penting untuk pemenuhan kebutuhan perapian tata kelola pemerintahan, penentuan batas wilayah, pendataan, dan perencanaan pembangunan, serta koordinasi antarwilayah.
Keempat, mempermudah navigasi dan geolokasi (menjadi elemen dasar dalam sistem penunjuk lokasi, penamaan jalan, kode pos, pemetaan wilayah digital atau peta digital).
Kelima, senjata legal penyelesaian sengketa (menjadi acuan penting keabsahan wilayah atau sengketa teritori). Keenam, membantu mitigasi bencana (nama toponim yang akurat dan terkelola basis data seperti daerah rawa, jalur air, atau bekas gempabumi berguna untuk analisis kebencanaan).
Ketujuh, mengembangkan pariwisata. Asal-usul nama yang unik, bernilai historis, dapat menjadi daya tarik pelancong serta bahan pelengkap cerita pemandu wisata apatah lagi di era wisata minat khusus (Special Interest Tourism/SIT, kadang disebut pariwisata spesialis atau wisata alternatif, atau pariwisata tematik) seperti wisata berbasis budaya, wisata berbasis kearifan lokal, wisata sejarah, ekowisata, dengan nilai unggul storytelling kini.
Kedelapan, sebagai media penelitian bahasa dan migrasi (bantu ahli bahasa dan sejarah melacak pola penyebaran manusia, perpindahan penduduk, serta perkembangan bahasa lokal masa ke masa).
Fungsi toponimi jadi satu unsur utama untuk berkoordinasi dan berkomunikasi antarbangsa, bantu penetapan batas administrasi untuk mengurangi konflik. Penamaan tempat jua bernilai tinggi berkaitan dengan jatidiri bangsa melalui bukti tahapan migrasi penduduk dan sejarah permukiman di suatu wilayah meski semua bukti telah tergerus waktu. Pengekalan jatidiri ini juga terkait pengakuan publik terhadap tempat dalam suatu negara.
Bila toponimi dikait dengan nama jalan, nomor rumah, nama kota, kode pos, nama telah jadi elemen sistem geolokasi. Ini berguna untuk menemukan tempat yang belum dikunjungi sebelumnya. Selain itu toponimi berperan penting dalam pengambilan referensi satu data khususnya data spasial atau data ruang kebumian untuk perencanaan pembangunan lebih terintegrasi lebih mudah.
Khusus toponimi penamaan jalan yang jamak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia: banyak dinamai pahlawan (nasional/daerah) untuk melestarikan nilai sejarah dan identitas bangsa. Misal Kota Cimahi, Jawa Barat, ganti nama ruas jalan pada 2006 untuk mengenang jasa pahlawan atau tokoh muasal: Jl Cimindi Leuwigajah berubah jadi Jl Mahar Martanegara, Jl Citeureup menjadi Jl Encep Kartawiria, Jl Balai Kota Cimahi jadi Jl Raden Demang Hardjakusuma, dll.
Atau di Kota Bandarlampung, era Walikota Herman HN di era kepemimpinan periode keduanya, mengganti nama Jl Perintis Kemerdekaan di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, menjadi Jl HM Thabranie Daud pada 9 Februari 2018 berdasar SK Walikota yang sebenarnya telah diterbitkan sejak 2017.
Perubahan nama, sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari Pemerintah Kota Bandarlampung atas jasa pengabdian mendiang almarhum Thabranie Daud, Walikota 1969–1976. Pengukuhan peresmian jalan ditandai pemasangan plang nama jalan baru secara simbolis bersama perwakilan pihak keluarga almarhum dihelat pada Jumat, 9 Februari 2018.
Penamaan suatu jalan pada sebuah kota, selain untuk menghargai atau mengenang peristiwa, hingga suatu tempat bernilai historis ternyata tidak bisa sembarang dilakukan. Toponimi sering diabaikan selama ini. Padahal dalam kasus-kasus terkait teritori, seperti sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia vs Malaysia atau gugatan teritori maritim pada Laut Cina Selatan (kini Laut Tiongkok Selatan), pemberian nama dan identitas menjadi kunci penting.
Dan, terkait buku karya bersama Anshori Djausal dan Iwan Nurdaya tersebut, lantaran kebingungan (bayangkan, ada 3.560 toponimi!), saat pewarta berkesempatan terhubung via pesan singkat pada H-1 bedah buku, Senin (26/10/2026) pukul 09.47 WIB, menanyakan kepada Anshori, di antara sekian toponimi, manakah yang paling sering terngiang di benaknya.
Adakah misal, nama Pulau Puhawang, pulau desa wisata ternama Kabupaten Pesawaran, Lampung yang lantas kemudian secara 'menggeregetkannya' laju dipelesetkan lidah hingga terlanjur karib bahkan tenar disebut dituliskan menjadi 'Pahawang' sampai detik ini? Atau lainnya?
Pukul 10.34, Anshori menjawab terbahak. "Hahaha.., iya. 'Puhawang' itu artinya 'posisi penting'. Nakhoda, dalam folklore Lampung ada di dalam panggeh Lampung namanya 'Puhawang Batin'. Sedangkan 'Batin' adalah gelar tertinggi untuk pemimpin, sebelum masuknya pengaruh dari budaya Banten (hingga kemudian) memakai gelar 'Suntan'. Contoh, HBM, Herman Batin Mangku, ini lebih sahih lagi," sahutnya.
Pun ada lagi, "Banyaknya tempat di Lampung Kuno yang menggunakan nama Negara. Misalnya seperti Negara Ratu, Negara Batin. Mungkin itu (bermakna) ibukota 'negara kecil' yang independen," imbuhnya dengan sedikit menduga.
Anshori Djausal, yang juga salah satu tokoh adat Lampung Pepadun, tokoh masyarakat adat (marga) Sungkai Bunga Mayang, Lampung Utara bergelar Ratu Sepahit Lidah dan Ketua Umum Lembaga Musyawarah Masyarakat Adat (LMA) marga tersebut atau bernama Gunom Ragom Marga Bunga Mayang Sungkai (terbentuk di Ketapang, Lampung Utara 11 November 2001) menyebut nama-nama kuno lainnya yang gunakan nama Batin.
"Seperti Cemecek Batin, Puhawang Batin, Pangkal Batin, Batin Gegoran, banyak lagi," pungkasnya.
Dengan penafian (disclaimer) ini bukan pesan sponsor, pembaca pegiat dan pendahaga literasi sekaligus pecinta budaya lokal,
memiliki buku ini sebagai penambah koleksi perpustakaan mini anda di rumah, direkomendasikan.
Pembaca silakan ngakak, tetapi adakah rasionalisasi secara toponimi, terhadap penamaan dua saja, nama gang: Gang Buntu dan Gang Bahagia, yang di Indonesia acap ditemui? Menarikkan? (Muzzamil)