Bangkitkan Harapan Petani-Peternak Lewat MBG

Minggu, 29 Maret 2026 15:35
Suwardi

Oleh: Suwardi


DALAM beberapa tahun terakhir, kita tentu masih ingat bagaimana harga hasil pertanian dan peternakan sempat terpuruk. Ayam, telur, sayur, hingga buah-buahan dijual jauh di bawah biaya produksi. Bahkan tak sedikit yang akhirnya terbuang sia-sia karena tak terserap pasar. Pemandangan memilukan itu kini mulai mereda.

Hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa secercah harapan baru. Program ini tak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi petani dan peternak. Permintaan bahan pangan meningkat, harga menjadi lebih stabil, dan produk hasil tani ternak lebih terserap pasar.

Peternak unggas, sapi perah, hingga petani hortikultura kini tidak lagi berada dalam posisi merugi. Petani padi pun mulai menikmati harga yang lebih layak. Ini menjadi sinyal positif bahwa kebijakan yang tepat mampu menggerakkan sektor riil, khususnya ekonomi berbasis pangan.

Indonesia sebagai negara agraris sejatinya memiliki potensi besar dalam sektor agrobisnis. Namun selama puluhan tahun, petani dan peternak kerap berada dalam ketidakpastian. Profesi yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan justru kurang mendapatkan perhatian yang layak.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, MBG mendorong perputaran uang langsung di masyarakat. Dampaknya terasa luas karena menyentuh sektor riil, bukan sekadar berputar di lembaga keuangan. Lebih dari itu, terbuka pula peluang usaha baru yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Meski demikian, program ini tetap memerlukan perbaikan tata kelola. Regulasi yang mengatur batas keuntungan bagi pelaku MBG perlu diperjelas agar tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar program ini tetap berjalan sesuai tujuan.

Jaga Stabilitas

Selain itu, pemerintah juga harus menjaga stabilitas harga agar tidak memicu inflasi yang berlebihan. Keseimbangan antara kepentingan produsen dan daya beli konsumen harus terus dijaga.

Ke depan, dibutuhkan strategi komprehensif dalam membangun ekonomi berbasis pangan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa sebagai bangsa besar dengan kekuatan agraris, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada produk impor.

Tantangan global yang dihadapi bukan hanya perang fisik, tetapi juga perang ekonomi dan pangan. Ketahanan pangan menjadi bagian penting dari kedaulatan bangsa.

Pada akhirnya, persoalan utama yang kerap menghambat bukan semata kebijakan, melainkan praktik korupsi yang merusak sistem. Tanpa integritas, kebijakan sebaik apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal.

Sudah saatnya kita membangun kesadaran bersama. Petani dan peternak harus sejahtera, konsumen merasa aman, dan negara tetap stabil.

Petani tenang, konsumen nyaman, negara aman dan damai.

Penulis, Anggota DPRD Kendal Partai Nasdem dan Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera

Berita Terkini