Oleh: Hajim
Bandarlampung terus berkembang. Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, kota ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa, tetapi juga semakin ramai sebagai tujuan wisata.
Wisatawan dari Jakarta, Pulau Jawa, Palembang, dan berbagai daerah lainnya datang menikmati sejumlah destinasi yang ada di Bandarlampung dan sekitarnya. Bahkan, wisatawan mancanegara mulai mengenal Lampung sebagai salah satu tujuan perjalanan.
Pertumbuhan itu tentu membawa dampak positif. Hotel-hotel semakin banyak, kawasan wisata mulai berkembang, UMKM tumbuh, dan usaha kuliner semakin beragam. Perputaran ekonomi masyarakat pun ikut bergerak.
Namun, ada satu hal yang semestinya tidak luput dari perhatian,wajah infrastruktur kota.
Di beberapa ruas jalan utama, kondisi jalan memang terlihat cukup baik. Apalagi pada malam hari, ketika lampu-lampu kota menyala dan aktivitas masyarakat masih berlangsung. Bandarlampung terlihat hidup.
Tetapi di sisi lain, masih terdapat jalan yang bergelombang, rusak, atau berulang kali diperbaiki dengan pola tambal sulam.
Sudah Saatnya Naik Kelas
Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah jalan masih bisa dilalui kendaraan atau tidak.
Persoalannya adalah: apakah kondisi jalan tersebut sudah mencerminkan sebuah ibu kota provinsi yang ingin menjadi kota tujuan wisata?
Bandarlampung tidak lagi berada pada tahap kota yang baru berkembang.
Aktivitas ekonomi semakin besar, jumlah kendaraan terus bertambah, sektor pariwisata bergerak, hotel tumbuh, pusat kuliner bermunculan, dan mobilitas masyarakat semakin tinggi.Karena itu, pembangunan jalan tidak seharusnya hanya berpikir bagaimana menutup lubang yang ada hari ini.
Pemerintah perlu memikirkan kualitas jalan untuk beberapa tahun ke depan.Tambal sulam mungkin menjadi solusi cepat, tetapi belum tentu menjadi solusi terbaik untuk wajah kota dalam jangka panjang.
Jika kerusakan terjadi berulang di lokasi yang sama, tentu patut dipertanyakan apakah persoalannya hanya pada permukaan jalan atau ada persoalan lain yang perlu dibenahi, seperti kualitas konstruksi, drainase, beban kendaraan, hingga sistem pemeliharaan.
Jalan yang baik bukan sekadar jalan yang kembali rata setelah diperbaiki. Jalan yang baik adalah jalan yang mampu bertahan dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat dalam waktu yang panjang.
Wisatawan Melihat Kota, Bukan Hanya Destinasi
Wisatawan tidak hanya menilai sebuah daerah dari tempat wisatanya. Mereka juga merasakan bagaimana perjalanan menuju tempat tersebut.
Jalan yang mulus, marka yang jelas, penerangan yang baik, trotoar yang nyaman, drainase yang tertata, dan lingkungan yang bersih merupakan bagian dari pengalaman wisata.
Apa artinya memiliki kawasan wisata yang menarik jika perjalanan menuju lokasi membuat pengunjung harus berjibaku dengan jalan yang bergelombang?
Apa artinya hotel-hotel semakin banyak dan kuliner semakin berkembang jika akses jalannya belum memberikan kenyamanan yang sebanding.Di sinilah pembangunan kota harus dilihat secara utuh.
Pariwisata bukan hanya soal destinasi. Pariwisata juga soal akses, kenyamanan, kebersihan, keamanan, dan kesan yang dibawa pulang oleh wisatawan.
Bandarlampung Punya Potensi Besar
Bandarlampung sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat untuk berkembang menjadi kota wisata dan jasa yang lebih maju.Letaknya strategis. Kota ini menjadi pintu gerbang menuju berbagai destinasi wisata Lampung. Ekonomi masyarakatnya aktif. UMKM dan kulinernya berkembang. Hotel dan sektor jasa terus tumbuh.
Potensi tersebut semestinya diikuti dengan pembenahan infrastruktur secara serius dan berkelanjutan.Bukan hanya memperbaiki jalan ketika rusak, tetapi membangun jalan dengan standar yang mampu bertahan lebih lama.Bukan hanya mengejar panjang jalan yang dibangun, tetapi juga memperhatikan kualitas, keselamatan, dan kenyamanan pengguna.
Pemerintah kota bersama pemerintah provinsi juga perlu melihat persoalan jalan secara menyeluruh. Ruas jalan yang cepat rusak perlu dievaluasi, bukan sekadar kembali ditambal. Drainase harus diperhatikan, karena jalan yang bagus sekalipun akan cepat rusak jika persoalan air tidak ditangani dengan baik.
Begitu pula dengan pengaturan beban kendaraan dan sistem pemeliharaan. Infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar semestinya memiliki perencanaan umur layanan dan pemeliharaan yang jelas.
Kota Tapis Berseri Harus Benar-Benar Berseri
Julukan Kota Tapis Berseri tentu bukan sekadar slogan.Kota yang berseri bukan hanya kota yang terang pada malam hari. Bukan hanya kota dengan gedung, hotel, pusat kuliner, dan kawasan wisata.Kota yang benar-benar berseri adalah kota yang infrastrukturnya tertata, jalannya nyaman, lingkungannya bersih, transportasinya baik, dan masyarakat maupun wisatawan merasa aman serta nyaman berada di dalamnya.
Karena itu, sudah waktunya Bandarlampung naik kelas dalam urusan infrastruktur jalan.Jalan-jalan di pusat kota semestinya tidak lagi identik dengan tambal sulam yang dilakukan berulang-ulang. Bandarlampung sudah tumbuh menjadi kota perdagangan, jasa, dan wisata.
Maka wajah jalannya pun harus mencerminkan kota yang sedang tumbuh dan ingin maju.
Jangan sampai wisatawan datang karena tertarik dengan destinasi dan kulinernya, tetapi pulang dengan satu kesan yang berbeda.
“Kota wisatanya menarik, tetapi jalannya masih tambal sulam.”Bandarlampung bisa lebih dari sekadar kota yang ramai.
Bandarlampung harus menjadi kota yang nyaman, tertata, aman, dan benar-benar layak disebut Kota Tapis Berseri.
Jangan hanya tambal jalannya. Naikkan kelas kotanya.