Penulis Ali Rukman
Pelaku Pemberdayaan Masyarakat
EMPAT bulan sudah saya mengantar dan menjemput anak ke sekolah. Selama itu pula, jalan raya Kota Bandarlampung selalu membuat saya deg-degan. Kekhawatiran yang saya tulis dalam artikel Memanusiakan Manusia Dimulai dari Perjalanan ke Sekolah, yang dimuat di HeloIndonesia pada Rabu, 15 Juli 2026, kini semakin terpampang nyata.
Jalanan kian padat, sepeda motor berjubel, dan perjalanan menuju dan meninggalkan sekolah menjadi ujian kesabaran sekaligus kecemasan. Subhanallah, ternyata apa yang saya khawatirkan semakin terasa hari ini.
Di tengah rutinitas itu, saya membaca pengumuman di media sosial tentang rencana kepolisian di Lampung yang hendak melakukan razia kendaraan yang belum membayar pajak hingga Desember mendatang.
Baca juga: Memanusiakan Manusia Dimulai dari Perjalanan ke Sekolah
Saya memahami bahwa pajak merupakan kewajiban warga negara. Namun, sebagai orang yang hampir setiap hari berada di jalan raya, saya bertanya-tanya: bukankah keselamatan pengguna jalan juga membutuhkan perhatian yang mendesak?
Setiap hari kita masih menjumpai pengendara tanpa helm, sepeda motor roda dua yang membawa penumpang lebih dari dua orang, Sepeda motor tanpa pelat nomor, pengendara yang melawan arus, knalpot racing yang suaranya memekakkan telinga, dan berbagai pelanggaran lain yang membahayakan nyawa.
Bukankah hal-hal seperti ini juga perlu menjadi prioritas penertiban? Saya membayangkan betapa tenangnya masyarakat jika kehadiran aparat semakin terasa dalam mengurai kemacetan, mencegah pelanggaran berbahaya, dan melindungi pengguna jalan, terutama pelajar dan mahasiswa.
Saya tidak bermaksud mempersoalkan razia pajak. Saya hanya berharap penegakan aturan berjalan seiring dengan upaya menjaga keselamatan. Sebab, tugas kepolisian bukan hanya menegakkan hukum, tetapi juga melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Ketika jalanan semakin padat dan risiko kecelakaan meningkat, kehadiran polisi yang membantu masyarakat merasa aman tentu sangat berarti. Dengan begitu, rakyat tidak hanya merasakan kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi juga perlindungan yang mereka butuhkan.
Selain penertiban lalu lintas, saya juga masih menunggu realisasi wacana Pemerintah Kota Bandarlampung tentang transportasi publik. Alangkah baiknya jika bus kembali melayani berbagai rute jalan protokol, seperti Bus DAMRI dahulu. Tentu, rute dan pelayanannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Jika tersedia angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau, pelajar, mahasiswa, pekerja, dan masyarakat umum akan memiliki pilihan selain sepeda motor pribadi. Kepadatan jalan pun berpeluang berkurang.
Kita memahami bahwa menghadirkan transportasi publik membutuhkan anggaran dan perencanaan yang matang. Namun, masyarakat tentu berharap agar wacana tidak berhenti sebagai janji. Kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki jalan, tetapi juga kota yang memudahkan warganya bepergian dengan aman dan nyaman.
Pembangunan seharusnya tidak hanya terlihat dalam perubahan fisik, tetapi juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Empat bulan mengantar dan menjemput anak membuat saya semakin memahami bahwa jalan raya bukan sekadar tempat kendaraan berlalu-lalang. Di sana ada anak-anak yang mengejar masa depan, orangtua yang mencari nafkah, dan keluarga yang menunggu orang-orang tercinta pulang dengan selamat. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik lalu lintas. Mereka adalah manusia yang keselamatannya harus dijaga bersama.
Karena itu, saya berharap kepolisian terus memperkuat penertiban yang berorientasi pada keselamatan, sementara pemerintah daerah semakin serius menghadirkan transportasi publik.
Akhirnya, memanusiakan manusia bukan sekadar kalimat indah. Ia harus hadir dalam tindakan: ketika aturan ditegakkan dengan adil, aparat menjalankan tugas dengan kepedulian, dan pemerintah membuat kebijakan yang menjawab kebutuhan rakyat.
Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai kegelisahan seorang ayah yang setiap hari mengantar anak ke sekolah.
Subhanallah, semoga kita tidak hanya sibuk menertibkan aturan, tetapi juga menjaga ruh di baliknya, yaitu kepedulian terhadap sesama. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan jalan yang bisa dilalui, tetapi juga perjalanan yang aman dan keyakinan bahwa keselamatan mereka sungguh menjadi perhatian bersama. ***