LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Publik warganet Indonesia ramai-ramai takzim syukur, dan melempar pujian dialamatkan kepada pemerintah terutama Kementerian Agama RI, merespons apresiasi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi kepada Indonesia dalam penyelenggaraan Ibadah Haji 1446 H/2025.
Sebagaimana diungkapkan Putra Mahkota Kerajaan sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS) kepada Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, di depan 100-an delegasi 171 negara penyelenggara haji tahun ini, pada pertemuan di Istana Kerajaan Arab Saudi, Selasa (10/6/2025) waktu setempat.
Kontan saja, tagar #HajiArmuzna dan 'Saudi Apresiasi Indonesia' trending topic di media sosial terutama di jejaring mikroblogging X.
Penelusuran, dari ribuan cuitan, satu dipilihkan, “Wih keren banget ya Saudi Apresiasi Indonesia karena sudah tertib semuanya, semoga para jemaah pulang dengan selamat, Aamiin. #HajiArmuzna,” cuit akun Alysya @Berburudsknan, disitat, bagian ekspresi penghormatan atas profesionalitas Indonesia dalam mengelola jemaah haji, ujud kebanggaan atas peran Pemerintah RI dan petugas haji yang sukses menjaga pelayanan dan keselamatan jemaah, khususnya dalam fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Dilaporkan, dalam pertemuan silaturahim tersebut, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Menteri Haji dan Umrah, M. Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah, mengapresiasi mulai dari keteraturan, kesiapan, hingga kualitas pelayanan jemaah Indonesia pada tahun ini.
Indonesia selalu istimewa, pada pertemuan itu turut mendapatkan sorotan utama sebagai negara pengirim jemaah terbesar di dunia.
Penasaran, berapa total jemaah haji tahun ini, setelah Pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi memutuskan mengurangi drastis jumlahnya yang bahkan pernah mencapai 2,5 juta jiwa?
Otoritas Umum Statistik Arab Saudi, merilis jumlah jemaah haji tahun 1446 H/2025 ini sebanyak 1.673.230 orang, meliputi 877.841 orang jemaah laki-laki, dan 795.389 orang jemaah perempuan, dari 171 negara!
Dari total jumlah, terbanyak berasal dari luar negeri yakni 1.506.576 orang, sisanya jemaah dalam negeri Arab Saudi baik warga negara maupun ekspatriat sebanyak 166.654 orang.
Kemudian, sebagian besar jemaah luar negeri yaitu sejumlah 1.435.017 orang atau 96 persen tiba di Arab Saudi lewat jalur angkutan udara. Sisanya 66.465 orang setara 3,7 persen lewat jalur darat dengan kendaraan nonpribadi, dan 5.094 orang atau 0,3 persen melalui jalur laut.
Makkah Route Initiative yang memiliki tujuan mempermudah proses keberangkatan jemaah haji di negara asal mereka, tercatat memberi manfaat ke 314.337 orang jemaah tahun ini, mencakup layanan pengurusan dokumen, pemeriksaan kesehatan, dan proses keimigrasian di bandara keberangkatan.
Khusus Indonesia, jumlah jemaah haji tahun 1446 H/2025 ini sesuai kuota diberikan, yakni 221.000 jemaah, terdiri 201.063 jemaah reguler, dan 19.937 jemaah jalur khusus.
Total jemaah berasal dari 171 negara? Wow, Masyaallah! Fakta ini bukan saja kembali mencerminkan keberagaman umat Islam, fakta ini sekaligus mempertegasbhaji bukan hanya ritual ibadah Rukun Islam ke-5 semata, melainkan juga menjadi momen perjumpaan akbar umat Islam dari beragam latar budaya, ras dan etnis, bahasa, dan tata krama.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, yang terus berupaya keras sistematis meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah haji termasuk dengan modernisasi layanan yang semakin terintegrasi dan dukungan teknologi mutakhir semisal penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yakni drone pemadam kebakaran dan evakuasi jalur sulit jangkau: drone 'Falcon', karenanya banyak disanjung, dan patut diapresiasi.
Alhasil, penyelenggaraan haji pada tahun ini tidak saja dikelaim, akan tetapi banyak dipuji, dijadikan sorotan utama media arus utama di berbagai belahan planet Bumi, dijadikan buah bibir, dan disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji.
Bersyukur, Menteri Agama (Menag) RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, sekaligus Amirul Hajj RI saat konferensi pers di Makkah, Arab Saudi, Selasa (10/6/2025) waktu setempat, sekaligus membeber poin peningkatan layanan.
“Alhamdulillah saya diterima langsung oleh Pak MBS (Putra Mahkota Kerajaan sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammad bin Salman, red). Pertemuan di Istana Kerajaan. Peningkatan pelayanan tahun ini seperti fasilitas tenda lebih tertata, pasokan air bersih stabil, penambahan rumah sakit dan tim medis keliling. Alhamdulillah angka kematian menurun. Salah satunya karena fasilitas kesehatan yang lebih baik,” ujar Nasaruddin yang juga Imam Besar Istiqlal.
Menjelaskan pula fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (tenar Armuzna) sudah selesai, Menag Nasaruddin bilang, tahapan ini secara umum berjalan baik meski ada catatan perbaikan atas peristiwa yang menyebabkan ketidaknyamanan jemaah. Dia meminta maaf.
“Alhamdulillah seluruh tahapan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sudah selesai. Kita bersyukur tahapan Armuzna berjalan dengan baik. Seluruh jemaah haji Indonesia telah mengikuti wukuf di Arafah. Memang ada sebagian jemaah yang mengalami masalah selama fase kedatangan hingga puncak haji di Armuzna. Seperti pasangan suami istri, atau anak dan orangtua, atau lansia dan pendampingnya yang terpisah hotel saat di Makkah," terang Menag.
"Ada juga jemaah yang terkendala dalam penempatan tenda di Arafah. Terjadi juga keterlambatan penjemputan di Muzdalifah akibat kemacetan sehingga evakuasi baru selesai jam 09.40 waktu setempat, terlambat 40 menit dari target selesai jam 09.00 waktu setempat. Saya selaku Amirulhaj dan Menteri Agama menyampaikan permohonan maaf. Kemacetan dan keterlambatan evakuasi di Muzdalifah ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia, tapi juga negara lainnya yang melintas pada jalur 'taraddudi' yang sama,” terang Menag pula, menyejukkan.
Diketahui, sebelumnya sempat terjadi kemacetan lalu lintas dan kepadatan saat perpindahan jemaah dari Arafah ke Mina. Dan diketahui pula, tantangan terbesar jemaah tahun ini masih: cuaca ekstrem, 40⁰ Celcius.
Meski masih terdapat sejumlah kendala, tapi Menag Nasaruddin Umar sependapat dengan penjelasan dari Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, M. Tawfiq bin Fawzi Al-Rabiah, pada saat pertemuan di Mina.
Selain, pendapat dari Wakil Gubernur Makkah sekaligus Wakil Ketua Komite Tetap Haji dan Umrah, Pangeran Saud bin Mish’al. Yakni: "penyelenggaraan ibadah haji tahun ini lebih baik ditunjang dengan sejumlah perbaikan fasilitas infrastruktur, ketersediaan air, dan fasilitas kesehatan."
“Alhamdulillah angka kematian sampai saat ini juga lebih rendah. Semoga kondisi ini akan terus berlangsung hingga seluruh jemaah haji kembali ke negara masing-masing,” tuturnya.
Terkait, menilik data jumlah jemaah haji Indonesia wafat tahun ini menurun signifikan dibandingkan musim haji sebelumnya, benar adanya.
Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag) RI per waktu pemutakhiran hingga Rabu (11/6/2025) pukul 06.00 WIB, jumlah jemaah wafat: 221 orang.
Pembanding, angka kematian jemaah haji Indonesia musim haji 2023 tercatat 775 orang, dan pada 2024 lalu mencapai 461 orang.
Penyebab utama kematian jemaah, olah data merujuk keterangan Kepala Bidang Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, dr. Imran, hingga operasional penyelenggaraan haji hari ke-39, Minggu (8/6/2025) seperti disitat dari situs Kemenag, hari itu tercatat jemaah Indonesia wafat 175 orang (170 jemaah reguler, 5 jemaah khusus), disebabkan 3 penyakit umum diderita jemaah haji yang wafat: jantung (77 orang), kegagalan organ akibat infeksi berat (15 orang), serta pernafasan akut dan dehidrasi (11 orang).
Kebenaran informasi penyakit jantung jadi penyebab mayoritas kasus kematian, juga terkonfirmasi dari penjelasan anggota Tim Amirul Hajj RI 2025, yang juga Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, kepada RRI, Selasa (10/6/2025) seperti disitat.
"Terutama saat puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina," info Taruna, selain pula, cuaca ekstrem menjadi tantangan utama selama pelaksanaan puncak haji dengan suhu melebihi 40 derajat Celsius, serta yang menurutnya perlu ditambah pada musim haji tahun-tahun mendatang, yakni jumlah tenaga kesehatan yang tersedia, yang dia nilai tidak sebanding dengan total jemaah.
"Hanya ada 57 dokter untuk melayani 221 ribu jemaah. Karena itu, kami berstrategi dan jalin koordinasi ketat agar layanan tetap optimal. Apalagi banyak jemaah haji kita berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan seperti jantung dan pneumonia. Karena itu, tim kesehatan menyarankan jemaah tetap berada di dalam tenda antara pukul 10.00 hingga 16.00. Kami juga mengingatkan pentingnya konsumsi air untuk mencegah dehidrasi dan heat stroke," terang Taruna.
Melalui RRI, Taruna Ikrar usulkan sejumlah langkah peningkatan pelayanan haji, selain penambahan tenaga kesehatan tadi, lainnya yakni peningkatan komunikasi antarnegara, pembatasan usia jemaah dimana saran dia maksimal 65 tahun untuk pelaksanaan haji 1447 H/2026 mendatang, serta mendirikan fasilitas kesehatan permanen di Arab Saudi.
Pemulangan Jemaah Haji RI, 11 Juni-10 Juli
Adapun, berdasar jadwal operasional haji 1446 H/2025, tahap awal pemulangan jemaah haji Indonesia gelombang pertama dari Kota Makkah melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi menuju ke Tanah Air, dilaksanakan mulai 11 Juni hingga 25 Juni 2025 (15-29 Dzulhijjah 1446 H).
Dilaporkan, pada pemulangan jemaah dari Tanah Suci ke Tanah Air gelombang pertama ini, ada 266 kelompok terbang (Kloter) yang berangkat dan mendarat di Madinah. Para jemaah ini akan dipulangkan melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Namun demikian, ada 8 Kloter yang pulang melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah Al Mukaromah.
"Hari ini, saya melepas keberangkatan jemaah Kloter 1 embarkasi Makassar atau UPG 01 dari hotel mereka di wilayah Syisah ke Madinah. Alhamdulillah jemaah dalam keadaan sehat dan senang bisa menyelesaikan seluruh tahapan rangkaian hajinya. Mereka akan pulang dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, dijadwalkan terbang pada 11 Juni 2025, pukul 03.30 Waktu Arab Saudi,” ujar Menag Nasaruddin Umar kemarin.
Baru nanti mulai 18 Juni 2025, jemaah haji Indonesia yang berangkat pada gelombang II akan bergeser dari Makkah ke Madinah. Mereka akan tinggal kurang lebih 9 hari di Kota Nabi, sebelum kembali ke Tanah Air.
"Proses pemulangan jemaah haji gelombang kedua dari Madinah akan berlangsung pada 26 Juni hingga 10 Juli 2025. Kepada seluruh jemaah, saya berpesan untuk terus menjaga kesehatan dan kemabruran. Air Zamzam akan diberikan di embarkasi,” tutur dia berpesan.
Menggenapi, dari Jakarta, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag RI, Akhmad Fauzan dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (10/6/2025), mengimbau jemaah haji Indonesia jaga kondisi fisik agar tetap prima saat melaksanakan Thawaf Wada sebagai penutup ibadah.
“Laksanakan tawaf dengan tenang, penuh kekhusyukan, serta perhatikan kondisi fisik dan cuaca,” kata Akhmad Fauzan, infokan pula seiring persiapan kepulangan tersebut, proses penimbangan barang bawaan akan dilakukan secara bertahap oleh petugas haji. Untuk itu, Fauzan mengingatkan jemaah untuk menata barang bawaan agar tidak melebihi batas berat sesuai ketentuan maskapai.
“Kami imbau agar barang berharga disimpan dengan aman. Koper jemaah diberi tanda pengenal jelas untuk memudahkan proses pengambilan barang bagasi," wanti dia.
Adapun sebagaimana tercatat, terdapat tujuh Kloter jemaah yang pulang ke Tanah Air pada Rabu (11/6/2025), asal dari jemaah gelombang I yang telah tiba di Madinah awal Mei 2025.
Ketujuhnya termasuk Kloter 01 Embarkasi Makassar (UPG 01) tadi, lainnya yaitu Kloter 01 Embarkasi Lombok (LOP 01), Kloter 01 Embarkasi Pondok Gede Jakarta (JKG 01), Kloter 02 Embarkasi Makassar (UPG 02), Kloter 01 Embarkasi Surabaya (SUB 01), Kloter 02 Embarkasi Surabaya (SUB 02), dan Kloter 01 Embarkasi Jakarta (JKS 01).
Demi seluruhnya dapat kembali ke Tanah Air masing-masing dengan selamat sentausa tanpa kurang suatu apa pun jua, selain itu, Helo Indonesia turut munajatkan, semoga saudara-saudara kita jemaah haji tahun ini, Allah SWT jadikan haji mabrur dan diberikan ganjaran surga-Nya. Aamiin. (Muzzamil)
