LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Tokoh masyarakat Lampung, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Ike Edwin, SIK, SH, MH, atau yang akrab disapa Dang Ike, menyatakan dukungan penuh atas wacana penggabungan empat desa di Kabupaten Lampung Selatan ke wilayah administrasi Kota Bandarlampung.
Menurutnya, ide tersebut sejalan dengan konsep Astagatra yang mencakup unsur alamiah, sosial, geografis, demografi, sumber daya alam, serta ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan.
“Saya sangat mendukung gagasan ini. Tinggal bagaimana warga berjuang dan memperjuangkannya secara bersama-sama,” ujar Dang Ike yang juga bergelar Suttan Raja Diraja Lampung, kepada Helo Indonesia, Jumat (8/8/2025).
Lebih Rasional daripada Membentuk Kabupaten Baru
Dang Ike menilai, opsi bergabung ke Kota Bandarlampung jauh lebih realistis, cepat, dan efisien dibanding menunggu pembentukan Kabupaten Bandarnegara yang masih terhambat moratorium pemekaran daerah oleh pemerintah pusat.
Menurutnya, pencabutan moratorium akan memicu gelombang permintaan pembentukan daerah otonomi baru (DOB) di berbagai wilayah, yang memerlukan anggaran besar di tengah kondisi ekonomi yang masih menuntut efisiensi.
“Kalau bergabung ke Kota Bandarlampung, prosesnya akan lebih mudah dan cepat. Dari sisi Astagatra, kawasan ini memang lebih banyak manfaatnya jika menjadi bagian dari Kota Bandarlampung,” jelasnya.
Empat Desa Strategis
Empat desa yang dimaksud adalah Wayhuwi, Jati Mulyo, Kota Baru, dan Sabah Balau. Desa Wayhuwi dan Jati Mulyo berada di Kecamatan Jati Agung, sedangkan Kota Baru dan Sabah Balau masuk wilayah Kecamatan Tanjungbintang.
Berdasarkan data BPS Lampung Selatan 2024, total penduduk di empat desa ini mencapai lebih dari 75 ribu jiwa. Desa Wayhuwi menjadi pusat niaga yang berkembang pesat dengan deretan ruko, pusat perbelanjaan, dan akses langsung ke jalur tol Trans Sumatera. Jati Mulyo dikenal sebagai kawasan permukiman padat yang menjadi penyangga pergerakan ekonomi Kota Bandarlampung.
Kota Baru awalnya dirancang sebagai pusat pemerintahan Provinsi Lampung, dengan fasilitas megah seperti Polda Lampung, Masjid Raya At-Tanwir, dan kampus Institut Teknologi Sumatera (Itera). Sedangkan Sabah Balau menjadi kawasan strategis yang menghubungkan akses ke Jalan Lintas Sumatera dan Bandara Radin Inten II.
Perkembangan Sudah Terintegrasi
Secara faktual, keempat desa ini telah menjadi bagian dari pengembangan wilayah Kota Bandarlampung, terlihat dari arus migrasi penduduk, pola belanja, hingga mobilitas harian yang sebagian besar terhubung dengan pusat kota.
Jika rencana ini terealisasi, jumlah penduduk Kota Bandarlampung akan melonjak menjadi sekitar 1.073.451 jiwa, berpotensi menempatkan ibu kota Provinsi Lampung dalam 10 besar kota dengan penduduk terbanyak di Indonesia.
Dukungan Masyarakat
Warga dan berbagai elemen masyarakat menyambut antusias wacana ini. Para tokoh setempat juga memberikan sinyal positif, asalkan ada dukungan kuat dari masyarakat dan para pemangku kepentingan.
“Ini soal kemajuan bersama. Kalau secara ekonomi, sosial, dan infrastruktur sudah menyatu, administrasinya juga harus mengikuti,” ujar seorang tokoh pemuda Jati Agung. (Hajim)
