LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Pahlawan Radin Iten II sudah 169 tahun gugur pada usia muda 22 tahun pada 1856. Namun, walau usianya relatif singkat, sang anak muda telah mengukir sejarah bahkan masih mewarisi spirit kebangsaan hingga di HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Tepatnya, Radin Inten II gugur sebelum berkeluarga pada tanggal 5 Oktober 1856. Dia menyandang gelar sebagai Ratu pemimpin Keratuan Darah Putih di usia ke 16 tahun dan memperoleh gelar pahlawan berdasarkan Kepres RI No.082/TK/Tahun 1986.
Baca juga: Jenguk Makam Pahlawan Radin Inten II Jelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI
Selanjutnya pimpinan adat Keratuan Darah Putih dilanjutkan oleh sepupunya yaitu Muhammad Djamil Dalom Kesuma Ratu dan keturunannya hingga sekarang ini hingga kini salah seorang pewarisnya adalah Yogha Pramana bergelar Raden Mas Kesuma Ratu.
Kontributor Helo Indonesia, Arsiya Heni Puspita menemui Yogha Pramana untuk menggali sekilas Silsilah Keturunan Radin Inten II? Apa harapan dan pesan bagi pemerintah terkait kompleks makam Radin Inten II? Bagaimana sikap pemuda-pemudi pada perayaan 80 tahun Indonesia Merdeka dalam konteks kepahlawanan Radin Inten II? Apa saja pesan dan harapan bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan?
Menurut Yogha Pramana bergelar Raden Mas Kesuma Ratu seorang Tokoh Muda Keratuan Darah Putih, perang melawan penjajahan Belanda sudah berjalan tiga generasi. Mulai dari Radin Inten I berlanjut ke generasi ke dua masa Radin Imba II sampai masa Radin Inten II.
Dari awal generasi sampai generasi Radin Iten II Belada selalu mencari cara bagaiman menerapkan kebijakan politik devide et impera. Ini merupakan kebijakan Belanda (VOC) dalam menguasai wilayah Nusantara dengan memecah belah kerajaan-kerajaan dan kelompok-kelompok masyarakat Indonesia.
Pada masa Radin Inten II Belanda memanfaatkan kedekatannya dengan paman Radin Inten II mengundang untuk menghadiri jamuan makan. Acara ini lokasinya di antara Desa Gayam dan Desa Tata’an.
Saat jamuan makan inilah Radin Iten II disergap. Ia mengadakan perlawanan bersama beberapa anak buahnya dan ketika itu juga ia gugur. Kemudian jenazahnya dibawa ke Benteng Cempaka (makamnya saat ini) karena inilah lokasi yang terdekat.
Benteng pertahanan lainnya berada di pesisir dan di puncak gunung. Masa pemerintahan Kerajaan Radin Iten I, masyarakat banyak tinggal di sekitar benteng dengan tujuan untuk pertahanan serangan dari penjajah Belanda.
Saat ini keturunan Keratuan Darah Putih lebih banyak berdomisili di Desa Kuripan setelah 14 tahun terpisah. Kemudian disatukan oleh Muhammad Djamil bergelar Dalom Kesuma Ratu.
Tokoh Muda Keratuan Darah Putih
Pada kesempatan ini juga, Yogha Pramana menyampaikan sekilas silsilah keluarga Radin Inten II. Radin Inten II adalah putra kebanggaan yang berasal dari Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan.
“Beliau merupakan putra tunggal dari Radin Imba II, cucu dari Radin Inten I. Berasal dari garis keturunan Muhammad Aji Saka Ratu Darah Putih bin Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati”, kata Aden Yogha sapaan akrabnya.
Ia menyebut dari leluhurnya, beliau mewarisi semangat juang, keberanian, dan rasa tanggung jawab untuk melindungi rakyat serta mempertahankan tanah Lampung dari penjajah. “Jadi, silsilah ini bukan hanya soal darah keturunan, tetapi juga warisan nilai dan perjuangan yang terus kami jaga sampai hari ini,” tegasnya.
Aden Yogha berharapan dan berpesan bagi pemerintah terkait keberadaan kompleks makam Radin Inten II. “Kami berharap pemerintah terus menjaga dan merawat kompleks makam Radin Inten II, ini bukan hanya sebagai tempat peristirahatan pahlawan, tetapi juga sebagai pusat edukasi sejarah dan sumber inspirasi bagi generasi muda”, imbuhnya.
Dengan pengelolaan yang baik, kompleks ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah, tempat penelitian, dan ruang belajar tentang nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Radin Inten II, ujar penggiat dan pelestari seni dan budaya.
Pemilik Sanggar Intan Kuripan Kalianda itu juga mengingatkan bagaimana sikap pemuda-pemudi pada perhelatan 80 tahun Indonesia Merdeka dalam konteks kepahlawanan Radin Inten II. “Kalau dulu Radin Inten II berjuang melawan penjajah dengan senjata, maka sekarang pemuda-pemudi harus berjuang dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, inovasi, dan integritas,” ucapnya.
Tantangan kita sekarang adalah kemunduran moral, kemiskinan, dan kebodohan. Semangat pantang menyerah, keberanian, dan keteguhan hati Radin Inten II harus kita terapkan dikehidupan sehari-hari untuk menjaga dan memajukan Indonesia, ucapnya penuh semangat.
Aden Yogha juga menyampaikan pesan bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. “Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan,” tambahnya.
Pesan saya untuk generasi muda, isi kemerdekaan ini dengan prestasi, jaga persatuan, dan utamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Terus belajar, berkarya, dan menjaga jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, agar cita-cita para pahlawan untuk melihat Indonesia merdeka, adil, dan makmur benar-benar terwujud, pungkas Aden Yogha. (x)
-
