Helo Indonesia

Belajar Arti Kebersamaan dari Nenek 90 Tahun yang Hilang 6 Hari di Kaki TNBBS

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Rabu, 5 November 2025 12:54
    Bagikan  
Belajar Arti Kebersamaan dari Nenek 90 Tahun yang Hilang 6 Hari di Kaki TNBBS

Nenek yang hilang

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Enam hari terasa seperti enam tahun bagi warga Pekon Karang Sari, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Selama itu, mereka cemas atas hilangnya nenek usia 90 tahun di kawasan perkebunan dan hutan kaki Taman Nasionañ Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Hingga suatu senja menjelang adzan Maghrib, kabar itu akhirnya datang, sang nenek ditemukan selamat. Siyam binti Diran, 90 tahun, seorang janda yang menjalani hari-harinya seorang diri tanpa keluarga dekat, hilang sejak Kamis (30/10/2025).

Sebelumnya, informasi hilangnya Mbah Siyam dilaporkan ke Polsek Pulaupanggung, Polres Tanggamus, pada Jumat (31/10/2025). Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Siyam meninggalkan rumah sekitar pukul 14.30 WIB.

Sejak diketahui hilang, warga turun tangan. Mereka memasuki setiap sudut perbukitan dan kebun yang ia kenal sejak muda—tempat ia biasa mencari kesejukan dan menatap langit saat rindu pada masa lalu.

Hari keenam, seorang pemilik gubuk kebun kawasan Umbul Kepala Gajah, perbatasan menuju Pekon Air Kubang, 2 km dari rumah sang nenek, Mang Seran tiba-tiba mendengar suara lirih memanggil dari kejauhan. Sang nenek tidak berteriak, hanya permintaan sederhana dari seorang nenek yang kehilangan arah: “Nak… ada wedang kopi?”

Suara itu membuat Mang Seran tertegun dan langsung mencari sumbernya. Di sana, berdiri sosok renta dengan tubuh menggigil, pakaian lusuh, namun matanya masih menyimpan cahaya kehidupan.

Tak butuh waktu lama, warga yang tergabung dalam tim pencarian datang berlarian. Ada yang menangis haru, ada yang memeluk satu sama lain. Mereka menggendong Nenek Siyam dengan hati-hati, seolah mengangkat orangtua mereka sendiri.

"Alhamdulillah, Mbah Siyam ditemukan masih sehat, hanya lemas,” ucap Aiptu Agus Triyanto, Bhabinkamtibmas Pekon Karang Sari, tak mampu menyembunyikan kelegaan dalam suaranya.

Kepala Pekon Karang Sari, Wahit Hasyim, menahan getar di dadanya ketika berkisah tentang perjuangan itu. “Warga mencari siang dan malam. Tidak ada yang mau pulang sebelum Mbah Siyam ditemukan,” katanya.

“Saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Malam ini, kita tak hanya menemukan seseorang… kita menemukan kembali rasa kebersamaan yang mungkin sempat hilang,” ujar Wahit Hasyim.

Di balik senyum Nenek Siyam saat dipulangkan ke rumahnya, tersimpan cerita betapa rapuhnya hidup seorang lansia yang tinggal sendiri. Ia pernah muda, punya keluarga, punya rumah penuh kehangatan. Kini ia harus menghadapi hari-harinya dengan kesepian yang tak kasatmata.

Wahit berharap, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa para orangtua kita tidak butuh kemewahan, tapi hanya butuh ditemani dan diperhatikan.

Setelah pemeriksaan kesehatan, kondisi Nenek Siyam dinyatakan stabil. Ia kini berada dalam pengawasan warga dan perangkat pekon, ditemani banyak orang yang tak ingin lagi membiarkannya sendirian.

Malam itu, Pekon Karang Sari kembali terang. Bukan hanya karena listrik menyala…
tetapi karena hangatnya syukur dari setiap rumah. Nenek Siyam pulang.

"Kami sangat mengapresiasi kekompakan warga. Ini bukti nyata semangat kebersamaan masih kuat di Desa Karang Sari ,” pungkas Aiptu Agus Triyanto.

Setelah dilakukan pengecekan kesehatannya oleh medis, saat ini, mbah Siyam berada di rumah dan dalam pengawasan warga serta perangkat pekon setempat. (Hdi)