Helo Indonesia

30 Jam Berdiri di Meja Dapur Terjebak Banjir Kini Selamat, Jannah Tiada Henti Bersyukur

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Jumat, 19 Desember 2025 09:32
    Bagikan  
30 Jam Berdiri di Meja Dapur Terjebak Banjir Kini Selamat, Jannah Tiada Henti Bersyukur

Ist

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Berikut cuplik kisah penyintas tiga pekan terakhir, sebelum sesudah bencana banjir dan longsor 52 kabupaten/kota tiga provinsi Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, 21-26 November 2025, dari sosok ibu muda pecinta dan pekebun tanaman sayur dan buah, Misbahul Jannah (30), warga Gampong Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara.

Jannah, gardenia blogger ini bersama Akmal Muhammad sang suami dan putri mereka, berhasil selamat dari dahsyatnya terjangan banjir bandang kala momen menegangkan detik-detik evakuasi warga Gampong dekat bandara ini, Rabu 26 November lalu. Tepat hari tahun kelima perkawinannyi.

Gampong, sebutan nomenklatur untuk Desa di wilayah administratif Aceh sesuai asas subsidiaritas UU Desa.

Saat hujan deras tak berhenti bertandang, Jannah dan keluarga bertahan. Namun sebegitu sadar ini banjir bandang yang datang menerjang, senada lainnya mereka menggesa mengungsi ke area lebih tenang.

Dan saat mereka telah turut mengungsi di rumah Geuchik (Kades) setempat yang dirasa lebih aman, tetap saja tiada ampun tetap menjadi "incaran" arus, turut jadi korban derasnya air terjang-menerjang.

"Air di tempat Geuchik tempat kami mengungsi, kami udah nggak bisa keluar dari rumah ini, karena arus air di luar deras. Mohon bantuannya untuk Desa Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Banyak warga yang masih terjebak di rumahnya," warta SOS Jannah, unggah foto suasana rumah kades termasuki air sepaha dewasa, Rabu pagi 26 November itu.

Sehari sebelumnya, ia sempat unggah video tanaman tomat dan cabai merahnyi yang kulitnya sampai terkelupas musabab dideras hujan lima hari terus-menerus.

"Kirain tomat aja yang bisa terbelah buahnya saat kena air hujan berlebihan. Ternyata cabe pun bisa. Pernah mengalami juga?" tulis Jannah bertanya, Selasa 25 November.

Mengaku baru mengetahuinya pertama kali: ternyata cabai pun bisa terbelah buahnya jika kena hujan terus-menerus. "Yuk kita petik aja," ujar Jannah, dirinai suara air hujan membasah, area kebun rumah.

Di hari yang sama, pukul 11.36 WIB, Jannah mewarta banjir akibat curah hujan tinggi sepekan sudah, telah merendam banyak tempat di daerahnyi. "Banyak tempat yang udah terendam banjir di daerahku. Udah semingguan hujan tanpa henti dan belum terlihat akan berhenti. Perekonomian masyarakat jadi lumpuh," warta ia.

"Mohon doanya semoga hujannya segera berhenti dan banjirnya gak makin meluas. Alhamdulillah tempatku tinggal lumayan aman dari banjir, tapi di banyak tempat lain ada yang harus mengungsi," imbuh Jannah.

Menyusul 3 jam 24 menit kemudian, selain unggah foto sejumlah tanaman sayur, buah dalam pot dan polibag di pekarangan turut digenang air, ia jua perbarui kabar rumah para tetangga telah pula terhampiri banjir.

"Media tanam jadi padat karena hujan terus menerus, akhirnya air tergenang di pot dan di polibag. Setelah musim hujan nanti, banyak hal yang harus dikerjakan, salah satunya menggemburkan lagi media tanam."

"Btw (by the way, red), beberapa rumah tetangga akhirnya kebanjiran di tempatku. Dan sampai detik ini hujan malah makin deras. Semoga air banjirnya gak sampai ke rumahku," warta Jannah mendoa.

30 Jam Berdiri Di Atas Meja Dapur Geuchik

Masih di hari itu, selepas Maghrib, ia telah lain warta: pilu, rumahnyi telah turut tenggelam. Padahal baru hitungan jam.

"Doakan kami, rumah sudah tenggelam. Sekarang kami mengungsi. Tempat pengungsian pun banjir, ini gak tau mau kemana," tulisnyi, pukul 18.30 WIB, pasrah.

Hingga Selasa malam itu berminap, ia dan keluarga bersama puluhan warga lainnya masih bertahan di rumah sang Geuchik, sampai Rabu siang.

"Siapapun yang lihat postingan ini tolong bantu kami, kami terjebak di rumah Geuchik (kepala desa), ada 30 orang, termasuk bayi baru lahir dan anak-anak. Tolong kami, hopeless. Kami bertahan udah dari setelah Subuh sampai sekarang dalam posisi berdiri," SOS ia Rabu pagi jelang siang.

Dalam unggahan 10.27 WIB itu, genangan banjir dalam rumah terlihat telah selutut nyaris sepaha dewasa. Berdiri kurang lebih 6 jam lamanya, ia dan 29 lainnya terjebak. Dari video yang ia susulkan, terekam air banjir yang mengalir menerjang cukup pekat.

Baru muncul sepekan kemudian, Jannah muncul lagi berkabar ia dan keluarganyi selamat dari bencana terparah kurun lima warsa terakhir pascapagebluk COVID-19 pada 2020-2021, bencana alam terparah dua warsa terakhir pascatsunami Aceh 2004 di Tanah Air; bencana kemanusiaan terbesar di Asia satu dekade terakhir. Ini.

Sepertinya tidak dengan "para" cantik bunga, sayur mayur, dan buah tetanaman, berikut pot-pot dan polibag media tanam, ia jua mengabarkan rumahnyi beserta isi tak ikut hanyut meski ia bilang nyaris tenggelam.

Jannah yang berkebetulan senada pewarta, sesama bagian dari 454 ribuan warganet anggota grup jejaring pertemanan sosial Facebook "Komunitas Tambulapot (Tanaman Bunga Dalam Pot)"; bersyukur bertestimoni.

"Teman-teman! Alhamdulillah aku, suami dan anakku, selamat. Makasih atas kepedulian kalian terhadapku dan keluarga kecilku, aku menangis baca sebagian komentar-komentar dan pesan dari kalian semua. Nanti suatu hari akan kuceritakan semuanya pengalaman pahit ini," haru ia.

"Alhamdulillah rumah kami juga tidak dibawa air, walau hampir tenggelam. Gak ada satu barang pun yang dibawa air karena semua pintu tertutup rapat," warta baik ia, Rabu 3 Desember lalu itu.

"Tapi, kabar dukanya. Di kecamatan tempatku tinggal (Kecamatan Muara Batu), desa kami yang paling parah banjirnya. Korban meninggal dunia sekitar 21 jiwa dari desaku aja. Yang selamat walau udah tenggelam ada 6 orang," warta lara ia.

Sedihnya, dari temukenali 21 korban jiwa tersebut, "sebanyak 19 orang itu keluarga suamiku. Suamiku sangat terpukul. Aku kenal baik dengan semua yang meninggal itu, (semasa hidupnya) mereka semua memperlakukanku dengan baik. Allahummaghfirlahum," duka lara ia.

Senada jutaan penyintas di total wilayah terdampak: tersandera keterputusan akses listrik, logistik dan air bersih, internet, serta moda transportasi yang kontan lumpuh total, Jannah lagi bermaaf.

"Maaf telat memberi kabar, batre HP habis, listrik, air, jaringan internet semua gak ada. Bantuan pun ada hari ke-3. Bayangkan anak-anak kelaparan saat itu, tiap ingat itu aku selalu nangis, anakku lapar tapi diam aja, gak minta makanan apa-apa, cuma tidur dan sesekali bangun untuk bercanda," ujar ia ilustrasikan cekam situasi dialami.

Dua hari kemudian, ibu muda asal Kota Lhokseumawe, lulusan SMKN 3 sana jurusan Akuntansi angkatan 2013 dan S1 Akuntansi FEB Universitas Malikussaleh angkatan 2018, setelah resmi berkeluarga lantas menetap di kampung halaman si suami ini mengunggah suasana terbaru rumah pascabencana.

"Halaman depan, sebelum dan setelah kena banjir bandang. Jangan tanya rumah, walau masih berdiri utuh tapi di dalamnya lumpur semua, lumpur aja selutut. Semua barang elektronik rusak, kulkas, mesin cuci, rice cooker, blender, setrika dll. Kasur, lemari dan segala perabot berlumpur semua. Motor juga semua gak bisa dipake, mati total," ujar Jannah, plus foto pekarangan penuh lumpur.

Mendapatinya demikian tetap bersyukur. "Tapi penderitaan kami gak ada apa-apanya dibandingkan warga desa kami yang lain, yang rumahnya hilang tanpa sisa, dibawa banjir," tutur Jannah.

"Akses listrik, air bersih dan jaringan internet, sampai detik ini masih nihil. Untuk upload satu postingan aja butuh 3 jam lebih," imbuhnyi 5 Desember pagi lalu, ini.

"Aku mengandalkan air sumur mertua walau airnya gak terlalu bagus, tiap hari suami bolak balik ambil air. Aku juga bolak balik ke rumah mertua untuk cuci baju dan barang-barang yang diperlukan," ujar ia.

Jannah menyadari, keperkasaan Ilahi. Cuma Allah Maha Pencipta Lagi Maha Perkasa.

"Semua titipan dari Allah, dalam sekejap Allah bisa ambil kembali semua itu. Yang terpenting kami masih diberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki semua," lugas Jannah menabahkan jiwa.

Pun menyadari titik beranjak, ia meminta doa. "Kami harus mulai lagi semua dari nol, Insyaallah kami kuat. Doakan kami semoga segera pulih," tegar pintanyi.

3 Desember siang, ia lanjut testimoni. "Untuk yang tanya keadaan anakku, Alhamdulillah dia baik-baik aja. Dia sabar sekali, gak rewel sama sekali. Kalau dibilang trauma pasti ada, kadang saat tidur suka terkejut sampai tersentak kuat, katanya takut jatuh," ungkap Jannah. Kebayang semengerikannya imbas psikis menyergap para penyintas selamat.

"Tiap flashback dan ingat ke hari banjir itu, aku selalu nangis. Posisi Subuh itu kami mengarungi arus deras dengan air udah sedada dan hampir terbawa air saat di depan rumah kepala desa. Alhamdulillah ada pohon di dekat pagar, kami memeluk pohon itu, dan gak lama kemudian datang beberapa orang untuk tarik kami ke dalam rumah kepala desa," kenang ia, momen detik-detik pilu 26 November itu.

Yang mana, bukan cuma enam tetapi 30 jam ternyata, momen ia dan suami harus berdiri di atas sebuah meja dalam rumah Geuchik Paloh Raya saat mengungsi itu, ulah kadung terjebak genangan banjir, demi tak terseret deras arusnya.

"Tapi baru sebentar di dalam rumah kepala desa, airnya makin banyak, pintu belakang rumah akhirnya jebol, karena air datang dari belakang rumah Kades. Aku dan suami langsung naik, ke atas meja dapur. Nah di situ kami berdiri selama 30 jam. Dari Subuh jumpa malam, malamnya suami dan anak tiba-tiba demam di dalam air banjir itu. Aku nangis lagi saat itu karena aku kira cuma aku yang punya kekuatan," sambung Jannah.

"Gendong anak ganti-gantian, kadang saling berpelukan biar makin kuat. Ada sekitar 30 orang di dalam rumah itu, beda-beda tempat. Kami bertiga terpisah dari yang lain," sambungnyi lagi.

Dan, "Yang paling menyayat hati saat bayi baru lahir itu menangis semalam penuh, ibunya udah lemah karena menyusui tapi tanpa makan apapun, anaknya yang lain nangis semua. Syukurnya anakku walau demam dia cuma tidur di gendongan kami, tanpa nangis, walau udah lemas dan lapar. Anakku mau makan beras aja dan jagung yang belum direbus," ungkap ia.

Demi kerabat, sejawat, hingga warganet tak terus kuatirkan termasuk keselamatan sang putri, ia lewat foto tengah menggendong putrinyi menjelaskan, itu ia abadikan saat mereka telah 15 jam terendam genangan air. "Selimut itu dan baju kami basah."

Berikut, foto ruangan dalam rumah Geuchik saat air mulai menyurut, di mana sejumlah sepeda motor sebelumnya diparkir, telah raib. "Hilang semua dibawa air."

Berikutnya, seperti ia singgung sebelumnya, usai mengungsi dari rumahnyi ke rumah Geuchik, kemudian 30 orang yang 30 jam terjebak di situ dievakuasi ke meunasah (musala) setempat, seperti terekam dalam foto ketiga.

Foto itu, "saat kami udah dievakuasi ke meunasah (mushalla) pakai kabel listrik dari rumah kades sampe ke mushalla, karena tiang listrik padam tumbang. Tanpa bantuan karena arus terlalu deras, jadi gak ada satu perahu pun yang bisa lewati daerah kami. Jadi gak ada tim SAR, atau penyelamat apapun. Kami bergelantungan di kabel listrik dari rumah kades sampe ke meunasah," ujar ia, saat evakuasi si putri digendong suami.

Sementara terpisah, seperti disitat dari Serambi Indonesia, secercah benderang menyambang Paloh Raya, saat seorang perantau asal Paloh Raya di Banda Aceh, Zulfadhli Kawom, datang menyerahkan bantuan lampu tenaga surya hasil donasi "meuripee-ripee" atau sokongan bareng para rekannya dan diterima oleh Tuha Peut Gampong Paloh Raya, M Yahya di meunasah yang sekaligus difungsikan jadi posko darurat pengungsi banjir Gampong ini.

Zulfadhli mengaku sempat ke PLN bertanya kapan listrik bisa nyala. Sembari menempuh alternatif, berusaha sampai harus berkeliling lintas wilayah berkendara motor cari toko genset, yang dicari langka tak didapat.

Usai janji PLN tiga hari terlewat, firasat bakal lama, dia akhirnya beli lampu tenaga surya itu. Itupun didapat di toko bilangan Bieureun.

Dan dari meunasah itu esok paginya, Sabtu 6 Desember lalu, Jannah menunjukkan foto tangannyi tengah menadah nasi putih barang beberapa kepal di atas gambas (oyong) rebus dialasi kertas nasi bungkus; menu darurat didapat demi sekadar perut terganjal.

"Ini makanan pertama yang kami dapat setelah 2 hari. Ya, cuma secuil nasi yang masih terasa butiran berasnya dan sayur gambas yang entah bagaimana rasanya. Tapi, semua sangat bersyukur, apalagi untuk mereka yang memiliki anak-anak yang udah kelaparan," warta darurat Jannah.

Ia menuturkan, para ibu sesama pengungsi di situ menangis haru. Akhirnya bisa jua beri makan anak-anaknyi yang kelaparan.

"Anakku tetap mau makan, yang penting tidak merasakan lapar lagi, tapi aku dan para orangtua lain tetap menahan lapar."

Menyebut dari mana asal nasi didapat, "Ini pun bantuan nasi dari kampung tetangga yang gak terlalu parah kena banjir. Untuk sampai ke meunasah (mushalla) kami, ada orang yang benar-benar berjuang antara hidup dan mati di derasnya air demi bisa membawa nasi ini untuk para anak-anak yang sedang kelaparan di meunasah."

Sebelumnya, anak-anak di meunasah cuma minum air hujan dan makan kelapa tua yang dipetik di dekat situ.

Jannah jua mengisahkan kejadian seorang kakek tenggelam hanyut terseret arus, saat berusaha hendak carikan makanan buat cucu-cucunya dan anak-anak warga yang kelaparan. Kejadian tragis di depan mata para penyintas pengungsi meunasah. Sang kakek diketahuinyi kemudian, tak tertolong.

"Ada satu cerita yang sangat bikin sedih hatiku, seorang kakek di dalam meunasah melihat cucu-cucunya ada yang masih bayi dan ada yang kecil-kecil pada menangis kelaparan. Karena gak tega, beliau turun dari meunasah dan akan berenang menyeberang ke desa tetangga agar mendapatkan makanan untuk.cucu-cucunya. Tapi berakhir pilu, beliau terbawa arus di depan orang-orang di dalam meunasah yang gak bisa berbuat apa-apa. Terakhir terlihat tangannya, setelah itu hilang dalam air. Jenazahnya ditemukan di hari ke-6. Allahummaghfirlahu," tutur ia mendoakan.

"Untuk makanan saat ini, Alhamdulillah kami udah bisa makan, walau nasi dan mi instan setiap hari. Setidaknya kami udah gak kelaparan lagi. Dari hari pertama sampai ketiga kami kelaparan. Setelah itu ada makanan sekali sehari udah bersyukur. Dan saat ini udah bisa makan dua kali sehari. Alhamdulillah," warta syukur ia soal logistik.

Dari penuturannya kemudian diketahui ia pengguna layanan provider telko Temkomsel yang saat itu berikan layanan akses kuota gratis hingga ia dapat tetap berkabar pun tertolong akses listrik nyala desa tetangga terdekat, Jannah juga menggantang harap.

"Btw, jangankan untuk balas komentar, kadang orang udah berkomentar, aku gak bisa lihat komentarnya. Karena jaringan lambat parah. Jaringan internet, listrik dan air bersih, sampai detik ini masih gak ada sama sekali di kampungku. Jadi bisa upload satu postingan aja udah bersyukur untuk memberi kabar. HP-ku tiap malam dibawa adik ipar ke kampung yang udah ada listriknya. Internetnya masih dapat gratis dari Telkomsel walau lambat luar biasa."

"Semoga semuanya yang bertanggung jawab terhadap banjir ini bisa lebih lancar lagi melakukan tugasnya," harap ia.

Kembali online dua hari kemudian, Senin (8/12/2025) pagi, Jannah bawa warta merta. Sang kakek tiada. Ia bersedih ulah banjir tak bisa hadir ke Lhokseumawe membersamai hingga pusara, cuma bisa melangitkan doa.

"Inna Lillahi wa Inna Iaihi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah, kakekku, dini hari tadi jam 1:50 AM," warta ia, menyebut nama mendiang Abuchik, sapaan kekerabatan bagi kakek di Aceh.

Bertubi, "Seolah-olah penderitaanku belum berakhir, setelah banjir bandang memporak-porandakan tempat tinggalku, sekarang kakek pun pergi untuk selamanya, tanpa aku di sana. Padahal di sana baru saja selesai bebersih dari banjir juga."

"Sakit banget rasanya belum bisa pulang dan gak bisa melihat beliau untuk terakhir kalinya, kendaraan kami masih belum bisa digunakan karena tenggelam di banjir. Allahummaghfirlahu, Abuchik. Mohon doanya," tutur Jannah.

Melanjut warta kisah pada petangnya, Rabu 8 Desember lalu itu, diketahui pula jika di Gampong Jannah tinggal, senada wilayah lain di sejumlah kabupaten, saat bencana datang tengah menanti masa panen padi.

Jannah menunjukkan foto hamparan sawah di mana seluruh padinya terbaris rapi tetapi bukan hijau menguning siap panen, runtuh tersapu banjir berubah cokelat kepekatan.

"Banyak mayat ditemukan di persawahan ini, termasuk ada beberapa mayat yang ditemukan di dekat sawah suamiku. Setelah banjir bandang itu, ada sekitar 5 mobil di dalam lumpur dan puluhan sepeda motor."

"Sawah padi se-hektar lebih punya suami dan keluarganya yang seharusnya saat itu panen dalam hitungan hari, lenyap hanya dalam waktu 2 hari, karena banjir bandang itu. Bukan sawah kami aja, puluhan hektar sawah orang lain juga bernasib sama. Jadi kebanyakan warga di sini telah kehilangan mata pencahariannya."

"Terlalu mudah bagi Allah mengambil kembali semua titipan-Nya," ujar Jannah menandaskan. "Bencana ini jadi pengingat sekaligus renungan untuk kita semua, mungkin selama ini telah lalai dan lupa terhadap-Nya. Astaghfirullah," ucapnyi.

Sempat Dikunjungi Najwa Shihab

Tiba Kamis (9/12/2025), "Update kampungku hari ini. Ada yang tanya kenapa kami ke meunasah (mushalla) semua, apa meunasah lebih tinggi? Iya, meunasah tinggi sekali, sekitar 2,5 meter dari tanah," ujar Jannah, meunasah jadi tujuan hampir semua orang di kampungnyi saat banjir bandang datang.

Ternyata dalam perjalanan ke situ ada yang terbawa arus dan meninggal, ada yang bisa selamat di atas pohon, di atap rumah. "Termasuk aku, suami dan anak, kami hampir terbawa arus kuat saat menuju meunasah dan selamat karena ada yang tolong tarik kami ke rumah Geuchik."

"Di kecamatan tempatku tinggal, hanya kampungku yang belum nyala listriknya dan belum berfungsi air PDAM. Karena parah dampak banjirnya. Tiang listrik pada tumbang. Tanah tergerus air, dalamnya hingga 3 meter ke bawah tanah, sehingga pipa-pipa PDAM juga putus dan pipanya digulingkan air ke dalam sawah. Rumah rumah di dekat jalan itu hilang semua tanpa sisa," ilustrasi Jannah, semengerikannya.

Lanjut ia, "Karena kampung kami dekat bandara. Jadi, Mbak Najwa Shihab dan beberapa publik figur udah berkunjung ke desaku untuk meliput berita dan sekedar memberi bantuan kemarin."

Dicek betul, Paloh Raya, desa ia, notabene desa tetangga Gampong Pintu Makmur, Kecamatan Muara Batu, lokasi Bandara Malikussaleh berada.

Bantuan makanan? "Alhamdulillah udah mencukupi. Dokter juga udah berkunjung ke tempat kami untuk memberi pemeriksaan dan pengobatan gratis. Katanya, listrik di tempatku akan nyala sekitar 10 hari lagi. Jadi, untuk saat ini, malamnya kami masih harus gelap-gelapan."

Merujuk keterangan Jannah, khusus untuk layanan listrik PLN berarti selambatnya 19 Desember nanti nyala.

"Alhamdulillah aku kuat, walau sebenarnya pengen menangis sekuat-kuatnya tiap lihat rumah, bebersih gak ada habis-habisnya karena kena lumpur semua, air untuk bebersih juga gak ada," tegar ia.

"Tapi malu mengeluh, karena ada yang lebih parah lagi ujian hidupnya di kampungku, mereka yang rumah(nya) hilang, harta benda hilang, keluarganya meninggal dan ada anggota keluarganya yang belum ditemukan hingga hari ini," imbuhnyi lagi, pada 9 Desember lalu itu, musibah ini jadi teguran, ujian, renungan dan peringatan untuk kita semua. "Semoga Allah selalu melindungi kita, di manapun kita berada."

Tercatat, hingga hari Jannah perbarui warta pascabencana di kampungnya, 9 Desember itu. Hingga 9 pagi WIB, merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah ada 962 korban tewas: 389 jiwa di Aceh, 338 di Sumut, dan 235 di Sumbar.

Selain 62 orang di Aceh, 136 orang di Sumut, 93 orang di Sumbar; yang masih dinyatakan hilang akibat tersapu banjir 3-10 meter itu, atau tertimbun longsoran, dan hingga kini belum diketemukan tim penyelamat.

Penasaran, lanjutan kisah Misbahul Jannah sang penyintas? Bersambung. (Muzzamil)