Helo Indonesia

Intip Jibaku KDM ft. Helmy Yahya, Lesatkan Megaproyek Metropolitan Baru Utara dan Timur Jawa Barat, REBANA

Senin, 5 Januari 2026 20:09
    Bagikan  
Intip Jibaku KDM ft. Helmy Yahya, Lesatkan Megaproyek Metropolitan Baru Utara dan Timur Jawa Barat, REBANA

REBANA - Peta masterplan REBANA, KDM, dan Helmy Yahya. | dok/KDM/Barrie Mhz/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM  ----- Ada kawasan aglomerasi gadangan curi mata, di peta utara dan timur Jawa Barat. Lokasi nan disulam mimpi baru oleh pemerintah dan di daerah diampu sang gubernur Dedi Mulyadi a.k.a KDM, menjadi 'calon' metropolitan baru Bumi Pasundan meliputi Kabupaten Subang, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kuningan, plus Kota Cirebon: REBANA.

Itu kan alat musik marawis, qasidahan? Ya. Pakai nama familiar itu, jadi singkatan nama lokus pengembangan kawasan (Ci"RE"bon, Patim"BAN", Kert"A"jati), untuk menarik investasi pembangunan dan jadi mesin pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi unggulan lewat pengembangan industri hijau, infrastruktur, agribisnis, dan pariwisata.

Didukung Peraturan Presiden (Perpres) 87/2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan REBANA dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan (Jabarsel), yang ditetapkan Presiden ke-7 Jokowi, 9 September 2021.

Adapun, selain ke-7 kabupaten/kota basis pengembangan kawasan REBANA tersebut, Kawasan Jabarsel dimaksud meliputi enam kabupaten, yaitu Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.

Dalam instruksinya, Presiden saat itu Jokowi menegaskan percepatan pembangunan dua kawasan harus terpadu terintegrasi lewat penyediaan infrastruktur guna tumbuhkan investasi yang diharapkan berdampak pada peningkatan perekonomian nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Per literatur, salah satu referensi teknokratik proses penggadangan proyek hingga terbit Perpres terbujur dalam Buku Pengembangan Kawasan Rebana dan Jawa Barat Bagian Selatan (Implementasi Perpres Nomor 87 Tahun 2021) —buku diseminasi kegiatan dan program pengembangan, tebal 310 halaman terbitan (saat itu) Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Buku catatan iptek populer, kumpulan artikel nan sebagian pernah terbit di situs Kemenko Marinves dan Sains Indonesia (ulas dinamika iptek kemaritiman) ini disusun penulis Djoko Hartoyo, Sri Fatkhiati Sa’diah, Supardiono, Dhodik Christanto D, Erlangga Putra U, Thias Anggoro, Narulita Altari, Krisnanto Nugroho, Joyce Dearni S, Nadya Rachmi, Nurcahyani Wulandari; per September 2021-September 2023 agar kebermanfaatan pengembangan dua zona ekonomi baru ini luas terpublikasi.

REBANA: TERBANG MEMBAHANA, ATAU?

Seperti dihimpun dari sejumlah sumber, disitat di Bandarlampung, Senin (5/1/2026), kini kulik, tetek bengek Kawasan REBANA dengan lembaga khusus pengampunya, Badan Pengelola Kawasan REBANA (BP REBANA), dipimpin Kepala Pelaksana pertama, Bernardus Djonoputro (Bernie) hingga lalu digantikan September 2025.

Pejabat penerus pengganti Bernardus, tak asing: eks presenter kuis dan produser program acara tivi, bos rumah produksi, penulis, pembicara publik, motivator bisnis, pakar personal branding, pengusaha sukses, mantan Dirut TVRI: Helmy Yahya, didapuk KDM nahkodai itu.

Dinilai sosok tepat, KDM menugasi sosok komunikator ulung ini sebagai Kepala Pelaksana BP REBANA untuk tugas tepat.

Mengorganisir, memanajerialisasi, sekaligus mengampu kepemimpinan organisatoris dan mandatori seluruh tugas melekat BP, yakni mengoordinasikan, memfasilitasi, dan mengendalikan pengembangan kawasan koridor ekonomi strategis ini untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi regional, sampai terwujud nyatanya cipta kondisi kawasan metropolis baru sisi utara dan timur Jabar.

Tepatnya, Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Jabar, kawasan agregat 43,9 ribu hektar. Ini.

Helmy sendiri, lewat keterangan tertulisnya sekaligus pernyataan perdana sehari usai dilantik, menyebut pembangunan REBANA sudah berada di jalur yang tepat.

"Tantangan sekarang bagaimana melangkah lebih serius dan lebih cepat. Saya mengajak semua pemangku kepentingan untuk beri masukan dan dukungan. Kita perlu perkuat networking dan menghadirkan tata kelola yang lebih business-like agar REBANA lebih dinamis, adaptif, mampu bersaing di tingkat global," ujar Helmy, 11 September 2025.

Melalui BP REBANA, KDM menugasi Helmy gapai tujuan jadikan kawasan ini mesin pertumbuhan ekonomi baru Jabar bahkan Indonesia, dorong pembangunan industri rendah emisi atau industri hijau dan berkelanjutan, menarik investor dengan beri pelayanan terbaik dan promosi potensi kawasan, memanfaatkan mengembangkan potensi infrastruktur eksisting.

Helmy diharap mampu buka pintu lebih lebar masuknya investasi global. Dengan jejaring global luas, dia dituntut beri semangat baru untuk perkuat promosi investasi kawasan, menarik minat investor lintas negara, memastikan REBANA tampil sebagai destinasi investasi kompetitif Asia Tenggara.

Kata apresiasinya, Helmy menyebut capaian awal kinerja Bernie termasuk duduknya REBANA dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional, penyusunan kerangka kelembagaan, dan inisiasi kerja sama strategis lintas sektor dengan lembaga dalam luar negeri: modal pijakan penting.

Adapun Bernie, fokus tugas selaku Komisaris PT BIJB Aerocity Development, pengelola kawasan aerocity sekitar Bandara Kertajati.

Catat Bernie, REBANA sudah pasti akan jadi tujuan investasi baru pascaera Karawang hingga Bekasi. "Yang harus kita lakukan, pembangunan kapasitas para pemangku kepentingan di REBANA, baik pemerintah lokal maupun masyarakat," catat dia.

Btw, per teknis operasional pembangunan kawasan, BP REBANA berperan mengampu koordinasi, fasilitasi, dan pengendalian; meningkatkan kualitas SDM dan pelayanan investasi, mendorong pengembangan sektor strategis (makanan, tekstil, kimia, otomotif listrik, komersial), menjadi narahubung aktif antara pemerintah, investor dan masyarakat.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, dalam hal ini dilaporkan terus berupaya mendorong pengarusutamaan percepatan peran BP ini untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur kawasan yang gadang konsep green, smart, and sustainable city dengan efisiensi energi dan digitalisasi ini.

Saat bersamaan, menarik investasi dan mematerialkan peminatan prospektus menjadi portofolio baru bagi pengembangan kawasan industri dan metropolitan tersebut.

Disaripatikan dari sejumlah keterangan Helmy di beberapa kesempatan publik dan bincang media, sebagai kawasan ekonomi koridor penggabung daerah aglomerasi dengan peruntukan KPI di Jabar dengan 14 kawasan industri eksisting, dan jadi lokus proyek strategis nasional (PSN) pemerintah pusat senilai Rp235 triliun, Kawasan REBANA tinggal lagi memoles diri, perluas skala penggalian potensi kawasan.

Dari sadar potensi itu, fokus BP kemudian, gali potensi Kawasan REBANA demi menarik peminatan investasi: menggalakkan promosi investasi, lipatgandakan jejaring kemitraan kepada investor domestik investor global.

Mengingat, hingga akhir 2025, notes Helmy; dari 43,9 ribu hektare lahan kawasan yang bisa menampung hingga 1,8 juta tenaga kerja ini baru 5 persen yang termanfaatkan.

Bisa gitu? Seret investasi didapatkan? Imbas ketidakpastian global pasca pemulihan ekonomi global lamban? Birokrasi rénté? Skema investasi kurang seksi? Kalah saing sama negeri tetangga, Thailand, Vietnam?

Helmy Yahya berambisi copas Vietnam. Terutama sekali urusan pepet, gaet, gebet: investor. Strategi negeri sosialis tersebut, kabarnya Helmy tiru habis demi percepatan progresif eksekusi program pengembangan metropolis baru Jabar ini.

Helmy tampaknya sadar betul, sebagai satu inisiatif pembangunan ekonomi strategis, BP REBANA butuh tidak saja strong and 'satset' leadership, tetapi juga strategi gila-gilaan.

Dari itu, dia misalnya menempuh strategi utama menarik investasi jumbo dari dalam dan luar negeri, dengan meniru pendekatan negara-negara sukses seperti Vietnam dalam hal kemudahan perizinan investasi.

Dia mengaplikasikan strategi optimalisasi infrastruktur terintegrasi: manfaatkan dan integrasikan keberadaan infrastruktur utama eksisting (pelabuhan, jalan tol, rel KA ganda, terminal, bandara) dukung pertumbuhan ekonomi dan industri kawasan.

Dia juga melinifokus strategi pengembangan klaster industri, fokus mengembangkan kawasan sebagai klaster industri, logistik, dan pariwisata baru.

Selain itu dia juga berkolaborasi dengan ahli perencanaan, melanjutkan dan terus bekerja sama dengan para urbanis dan perencana kota kelas dunia untuk memastikan rencana induk kawasan berjalan baik.

Serta sesuai basis ekspertise, lantaran sebelumnya kurang dikenal luas bahkan acap disalahmengertikan sebagai alat musik, Helmy juga menempuh strategi peningkatan popularitas dan kesadaran kawasan, gunakan latar figur publiknya untuk promosikan REBANA agar kian dikenal khalayak investor dan khalayak luas.

Overall, strategi terfokus Helmy: akselerasi investasi dan promosi gencar untuk ubah Kawasan REBANA Metropolitan jadi motor penggerak ekonomi baru Jabar dan RI.

Baik Helmy pun KDM, sudah ngéker dan ngukur. Ngéker, bidik target mulai dari paling minimal, target antara, pun target maksimal. Ngukur, besaran keunggulan komparatif pun keunggulan kompetitif, bentang keterbatasan bentang kendala, digdaya peluang digdaya prospektus, dan jurus pamungkas sekaligus pemula "what's to be done" alias " dari mana kita mulai".

Keduanya "gabat gibut" mengincar dengan beranjak dari potensi eksisting, berseraknya industri manufaktur ragam produk ekspor, suku cadang ekspor, kendaraan listrik, pusat data, dengan kawasan industri yang luas.

Ambil contoh beranjak dari kesiapan infrastruktur eksisting mulai dari kawasan Pelabuhan Patimban, Subang; Jalan Tol Trans Jawa ruas Tol Cisumdawu dan Tol Cipali; Bandara Internasional Kertajati, Majalengka; Pelabuhan Cirebon.

Pelabuhan Patimban bakal dirancang sebagai auto export hub. Dengan kalkulasi valuatif bakal irit 30 persen memangkas beban biaya logistik bila dibanding melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Jalan Tol Trans Jawa ruas Tol Cisumdawu dan Tol Cipali bakal menjadi infrastruktur konektivitas terpadu sektor darat mudah akses dari pelabuhan pun bandara. Selain, terhubung jalur KA ganda dan terminal.

Bandara Internasional Kertajati selain oleh pemerintah melalui sentuhan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, bakal sentra perbengkelan pesawat kelas dunia, sekaligus dirancang jadi hub logistik dengan fokus target pengangkutan kargo ekspor dari ke kawasan industri terdekat sekitar.

Belum ditambah daya dukung potensi energi panas bumi, dan sumber mata air (terutama Sumedang dan Kuningan); potensi agribisnis dan perikanan; potensi pariwisata Gunung Tangkuban Perahu di Subang, Bendungan Jatigede di Sumedang, Teras Panyaweuyan di Majalengka, Gunung Ciremai di Kuningan, potensi wisata urban (wastra, kuliner) di Cirebon, serta Pelabuhan Cirebon sebagai perkuatan arus mobilitas dan distribusi sektor laut sisi timur, timur jauh, tenggara.

Urusan sumber daya, guna atasi sekaligus akali problem akut kesenjangan kapasitas —komposisi tenaga kerja terdidik terlatih terampil siap zahir batin siap kerja— dengan daftar kebutuhan —tenaga kerja, kecakapan khusus, keterampilan kerja, keselarasan dan keterhubungan (link & match) sumber daya ketenagakerjaan dan kebutuhan riil dunia usaha dunia industri dunia kerja (DUDIKA).

Pemerintah via Kemendiktisaintek telah berbenah siapkan, salah satunya dengan mendirikan perguruan tinggi vokasi (PTV) Politeknik Manufaktur (Polman) Majalengka sebagai pengembangan Polman Bandung dan bagian PSN dibangun per 2024, sebagai center point afirmatif ketersediaan tenaga kerja vokasi terampil dibutuhkan. Politeknik ini dirancang berbasis technopole.

'Technopole' ini kawasan dirancang khusus dorong pertumbuhan dan inovasi ekonomi via konsentrasi lembaga penelitian, universitas, dan perusahaan teknologi tinggi.

Konsepsi di baliknya: penciptaan lingkungan kondusif kolaborasi interaksi dan pertukaran ide akademisi, peneliti, dan pelaku bisnis; inovasi teknologi, produk, dan layanan baru; pengembangan ekonomi dengan menarik investasi, cipta lapangan kerja berkualitas, tingkatkan daya saing regional nasional.

Dalam praktiknya, ketersediaan infrastruktur canggih (lab, internet high speed, kantor modern), hadirnya unsur perguruan tinggi atau pusat riset ternama sebagai sumber talenta saintek dan korporat industrialis mitra utama adalah di antara ciri karkhas technopole. Pun Polman Majalengka. Ini.

Berikutnya, sebagaimana klaim Helmy, telah pula hadir peminatan khusus dari negara Timur Tengah, yakni Uni Emirat Arab (UEA) dalam program peningkatan keterampilan khusus warga sekitar kawasan industri ini.

Naga-naganya, indra penciuman investor global dua tahun belakangan telah pula mengendus lokus "ceruk" baru potensial gali cuan ini.

Sebut, dari raksasa global produksi dan distribusi kendaraan listrik asal Tiongkok BYD, dirian yatim piatu ahli kimia Wang Chuanfu 1995, yang berinvestasi di kawasan industri Subang Smartpolitan (dengan PT Suryacipta Swadaya atau Suryacipta, anak usaha Surya Semesta Internusa Tbk selaku pengembang pengelola kawasan), dan telah serah terima lahan Agustus 2024 lalu.

Telisik portofolio investasinya: BYD kucurkan awal sekitar Rp11,2 triliun hingga Rp16,38 triliun (US$1 miliar), bangun pabrik mobil listrik di luasan lahan semula 108 hektare dirasa kurang diperluas hingga 126 hektare, menarget kapasitas produksi 150.000 unit (termasuk PHEV) per tahun, serap 18.814 tenaga kerja, memulai produksi komersial awal 2026 menjadikannya salah satu fasilitas otomotif terbesar di ASEAN.

Garis lurus investasi BYD ini sebangun tujuan strategis memanfaatkan cadangan nikel RI untuk baterai EV, perkuat posisi RI sebagai pusat ekspor kendaraan listrik di ASEAN, sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 60 persen.

Menyusul, raksasa komponen elektronik asal Jepang, Sanwa Musen Co Ltd pimpinan Presdir Tadashi Kotani, melalui anak usaha PT Sanwa Musen Indonesia jua telah buka pabrik di lokasi ini di luasan lahan 2 hektare, tercatat sebagai investor perdana yang buka tenant di Subang Smartpolitan, peresmian buka operasional 18 September 2024.

Di situ, Sanwa Musen Indonesia yang dikenal sejak memulai produksi komponen elektronik (transformers, line filters, choke coils) pada 1996 dan konsisten hadirkan solusi-solusi teknologi terkini bagi industri elektronik, benamkan investasi mula Rp160 miliar.

Sanwa Musen, dirikan pabrik berteknologi produksi mutakhir berkapasitas produksi hingga 3,5 juta unit per bulan, terutama guna memenuhi permintaan Panasonic Group di pasar domestik pun manca. Sejak memulai produksi massal Desember 2024 hingga Januari 2025 lalu, pabrik baru ini start kapasitas produksi awal 50 persen.

Sebagai catatan kaki referensi, kutip data GM Sales & Tenant Relations Suryacipta, Binawati Dewi: butuh tempo 2 tahun efektif dari pembebasan lahan hingga peresmian operasi pabrik Sanwa dengan pengawalan one stop service assistance dari prainvestasi hingga operasionalisasi bisnis.

Lalu, investor domestik anak usaha Garuda Indonesia, GMF AeroAsia gamit PT BIJB (pengelola Bandara Internasional Kertajati) mengembangkan Kertajati Aerospace Park, kawasan industri dirgantara terpadu untuk Maintenance, Repair, Overhaul (MRO), pusat bengkel mesin dan komponen pesawat, zona manufaktur, pusat pelatihan teknisi dan aviasi, serta pusat bisnis di bandara ini.

Tahap awal pasca groundbreaking perdana 8 Desember 2025: fokus infrastruktur dasar, hanggar rotary wing, fasilitas pendukung MRO sektor pemerintah. Target beroperasi sebagian di Q3 2026, proyek ini akan tarik investasi bertahap, total perkiraan US$771 juta jangka panjang.

Bicara dampak visioner, proyek bertujuan bangun ekosistem aviasi terintegrasi untuk jadikan Kertajati ini pusat aviasi nasional mandiri sekaligus mendorong kemandirian industri aviasi nasional, dukung ekonomi teritori sekaligus jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar, ciptakan lapangan kerja baru dan perkuat rantai pasok industri kedirgantaraan Nusantara.

Terakhir, korporat terbuka pengembang kakap properti pengembang kawasan, Metland Kertajati; jua turut berinvestasi dengan siapkan kawasan kota mandiri dan perhotelan sebagai ujud fasilitasi dukungan riil percepatan pengembangan kawasan.

Metland (Metropolitan Land Tbk, MTLA) ini perusahaan publik berpemegang saham pengendali utama (47,45 persen) PT Karuna Paramita Propertiindo, diikuti grup Ciputra lewat Ciputra Nusantara dan afiliasinya (15 persen), Grup Salim via Indolife Pensiontama (5,08 persen), sisanya investor publik.

Metland Kertajati, investasi pengembangan kawasan kota mandiri terintegrasi mencakup hunian (rumah tapak, rumah kos, ruko), area komersial (ruko premium boulevard utama, pusat perbelanjaan, hotel berbintang seperti Metland Smara), fasilitas publik (pendidikan, kesehatan, RTH), jaringan bisnis berkonsep modern dekat Bandara Kertajati dan tol, menjadikannya lokus potensi prospektif.

Dengan manajer puncak: Preskom Junita Ciputra (mengafirmasi peran kunci keluarga Ciputra di situ) dan Presdir Anhar Sudradjat, Metland Kertajati per teropong bidik target pasar masyarakat lokal yang ingin lesatkan kualitas hidup tanpa harus pindah jauh, dan ingin jadi bagian dari entitas baru pemanfaat peluang bisnis dari corak pengembangan kawasan dan fasilitas pendukungnya di zona metropolis baru itu.

Keseluruhan potensi raksasa infrastruktur publik penunjang percepatan progresif eksekusi pengembangan kawasan itu, itu pula yang jadi nilai unggul, menjadi daya jual. Pun oleh BP REBANA.

Sadar rakyat paling utama butuh makan dan ketercukupan pangan, sadar pula kemudian infrastruktur nasional dan daerah yang telah ada hasil jerih kerja-kerja teknokratik sekian tahun pantang dibiarkan terbiar tertidur.

Maka demi untuk satu kata "makmur", daya dukung itu butuh kapitalisasi segera agar cuan didapat kelak digadang mampu buat roketkan agregat pendapatan asli daerah sekaligus daya ungkit raksasa penaikan derajat kesejahteraan ekonomi rakyat Jabar.

Dan sejatinya BP REBANA hadir bekerja memulai meniti menata dengan hati-hati penuh tertata, agar produk keluarannya kelak kemudian jua mampu memenuhi syarat material satu kata, beragregat.

Ditelisik, KDM pun Helmy sejatinya mahfum. Investasi bukan cuma sekadar abstraksi. Investasi bukan cuma sebatas kapitalisasi. Investasi bukan cuma hanya basa basi.

KDM pun Helmy sejatinya mahfum, investasi (yang serius, well organized, sama untung, pro-lingkungan, pro-rakyat) juga adalah orkestrasi, adalah resonansi, juga itu.

Yang tereksekusi sudah barang tentu. Pun, kendati semua sama tahu, masih tetap sedemikian njelimet-nya mulur mungkret bias harmonisasi bauran kebijakan investasi antara pusat-daerah hingga kini. Sampai bikin investor pegal nunggu lantas berlalu. Pergi tanpa pesan, tahu-tahu dapat kabar dia gunting pita pengoperasian pabrik baru di Vietnam. Misal.

BP REBANA dengan begitu, jadi senjata legal keyakinan keduanya biar mimpi baru tersulapnya wilayah Subang, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon, Kuningan, plus Kota Cirebon jadi kawasan metropolis terpadu Utara dan timur Jawa Barat nan menggelegar kelak, terbujur membaru.

Apalagi, eksisting kini: realisasi investasi Kawasan REBANA per akhir 2025 dilaporkan telah tembus Rp25 triliun dengan 36 tenant operasional, dari total target Rp169,5 triliun bidikan.

Jakarta, konon sudah jenuh. Sudah kelewat mahal ongkos ekonominya. Sudah kelewat tinggi pula beban biaya harga keekonomian satuan demi satuan entitas investasinya dan memaksa investor berpikir keras peras otak efisienkan beban operasional investasinya.

Mungkinkah kelak mimpi baru KDM featuring Helmy Yahya ini nyata terwujud termasyhur? Ataukah justru sebaliknya mimpi baru ini bakal megap tengah jalan atau tersungkur?

Kemustahilan hanya milik Ilahi. Tiada yang mustahil bagi-Nya. Tugas umat manusia di dunia inilah, untuk separipurna mungkin menjadi sebaik-baiknya khalifah Bumi.

Berbagi tugas, KDM tukang monitor, Helmy tukang gaet investor. Selamat bekerja keras, 'menabuh' REBANA lebih genderang lagi, KDM featuring Helmy. (Muzzamil)