Helo Indonesia

TNWK-GGP Gerak Cepat Antisipasi Munculnya Kembali Harimau

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
12 jam 46 menit lalu
    Bagikan  
TNWK
HELO LAMPUNG

TNWK - Pemasangan spanduk

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) gerak cepat memasang sedikitnya tiga titik spanduk yang mengingatkan para pekerja perkebunan nanas PT Great Giant Pineapple (GGP) kemungkinan berkeliarannya harimau di perbatasan TNWK-GGP.

Isi spanduknya: Harap berhati-hati, area ini telah dijumpai aktivitas keberadaan harimau sumatera (1) Diharapkan untuk sementara tidak beraktivitas lebih dari jam (pukul) 16.00 WIB, (2) Segera laporkan ke petugas jika ditemukan tanda-tanda baru keberadaan harimau.

undefined

Jejak harimau di perkebunan nanas GGP

Menurut Kabag Legal PT GGP PGA4 Anang Orbananto didampingi stafnya, Miky Kharisma, Minggu (15/2/2026), pihaknya telah pula mengingatkan para karyawan agar berhati-hati di area perbatasan dengan TNWK.

"Para pekerja diminta senantiasa berkelompok dan tak lebih dari pukul 16.00 WIB di area perbatasan," ujarnya. Pihak sekuriti perusahaan juga patroli buat mematikan keadaan baik-baik saja, tambah Miki Kharisma.

Sabtu (14/2/2026), Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) MHD Zaidi berharap harimau TNWK tidak seperti di TNBBS. Selama ini, harimau TNBBS relatif hidup nyaman, nyaris tak pernah konflik dengan petani sekitar kawasan hutan.

Baca juga: TNWK Ungkap soal Jalan-Jalan Sorenya Harimau TNWK ke Kebun PT GGP

Sebelumnya, Jumat (13/2/2026), sekitar pukul 16.00 WIB, diperkirakan, harimau jantan berusia sekitar lima tahun meninggalkan jejak di kawasan perkebunan nanas PT GGP di Labuhanratu, Kabupaten Lampung Timur.

Kemunculan harimau sekitar permukiman penyangga TNWK umumnya terjadi pukul 18.00–05.00 WIB. Satwa dilindungi tersebut dikenal aktif berburu pada malam hari dan menyusuri wilayah tepi hutan yang berbatasan dengan kebun warga.

undefined

Kemunculan harimau cenderung meningkat saat musim kemarau panjang dan mangsa alami dalam kawasan berkurang. Selain itu, gangguan habitat seperti perambahan hutan, kebakaran lahan, dan aktivitas manusia turut mempersempit ruang jelajah satwa.

Keberadaan harimau sumatra di Way Kambas menjadi penanda penting ekosistem, namun sekaligus peringatan bahwa ruang jelajah satwa dan manusia kian beririsan. (HBM)