Helo Indonesia

Rektor USM di Workshop LCC: Di Era Kreatif, yang Adaptiflah yang Bertahan

Minggu, 15 Maret 2026 11:25
    Bagikan  
Rektor USM di Workshop LCC: Di Era Kreatif, yang Adaptiflah yang Bertahan

Rektor USM Supari saat menjadi keynote speaker workshop menulis oleh USM LCC

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM LCC) menyelenggarakan workshop bertajuk “Kreatif Menulis pada Era Industri Kreatif,” pada Kamis (12/3/2026) lalu, di Ruang Teleconference, Menara USM.

Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker) Rektor USM Dr Supari ST MT.

Kegiatan menghadirkan narasumber sastrawan Triyanto Triwikromo dan CEO PT Marimas Putra Kencana yang juga content creator edukatif, Harjanto Kusuma Halim, dipandu Direktur USM LCC, Adi Ekopriyono, diikuti para mahasiswa dan dosen.

Baca juga: Mudik Gratis Jateng 2026 Dijamin Aman: 325 Bus Lulus Ramp Check, Sopir Tes Urine

Supari mengemukakan, menulis sesungguhnya bukan soal merangkai kata, melainkan cara merangkai pikiran. Menulis adalah proses mendisiplinkan gagasan, latihan kejujuran intelektual. Bahkan lebih dari itu, menulis adalah latihan keberanian, yakni keberanian untuk memiliki sudut pandang.

Kreativitas memiliki nilai sosial dan kultural. Tulisan dapat membangun kesadaran. Narasi dapat mengubah perspektif. Konten dapat membentuk karakter generasi.

''Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai titik awal membangun budaya menulis. Titik awal membangun keberanian berpikir. Titik awal membangun integrasi antara kedalaman akademik dan kelincahan digital. Mari kita membuka pikiran, membuka diri terhadap ide-ide baru, dan berani bereksperimen,'' kata Supari.

Adaptif

Pada era industri kreatif ini,  katanya, mereka yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif. Bukan yang paling cepat, melainkan yang paling kreatif.

Baca juga: Prihatin OTT KPK di Cilacap, Ahmad Luthfi: Sudah Saya Ingatkan Berulang Kali

Menurut Triyanto, secara teologis menulis adalah respons manusia terhadap perintah Tuhan, “Bacalah!” Apa yang dibaca? Tentu saja tulisan, tapi ada perintah lain, yaitu “Tulislah!”.

Secara historis, katanya, menulis adalah tindakan perekaman jejak, upaya untuk melawan lupa, mengekalkan sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi, tindakan menziarahi masa depan. Secara filosofis, menulis adalah tindakan untuk mengekspresikan diri.

“Aku menulis karena itu aku meruang dan mewaktu. Aku menulis karena itu aku kontekstual,'' ujranya.

Harjanto Halim mengungkapkan, ide visualisasi gagasan atau tulisan bisa diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari, di mana pun, kapan pun. “Sering ide itu muncul pada kondisi kita rileks. Biasanya, saya spontan membuat konten,” katanya. (Aji)

*