Helo Indonesia

Lebar Lebur Lebaran, Kembali Kesettingan Awal

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Minggu, 22 Maret 2026 10:50
    Bagikan  
R
R

R - Gufron Azis Fuandi

Oleh Gufron Azis Fuandi
Ustadz

SETELAH sebulan bertemu bulan yang penuh berkah dan ampunan, kita bergembira ria dan bersyukur merayakan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Sesuai sabda Nabi Muhammad Saw: "Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Tuhannya" (Bukhari Muslim). 

Istilah lebaran yang sudah menasional digunakan, berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata lebar yang artinya "sudah" atau "sudah selesai".
Karena pada hari ini, 1 Syawal, kita sudah menyelesaikan kewajiban berpuasa, mengekang hawa nafsu serta kewajiban membayar zakat fitrah.

Tak berhenti sampai di situ, lebaran tak hanya menyelesaikan suatu kewajiban tetapi juga adalah "leburan" atau melebur, yakni meleburnya diri kita kepada berbagai kebaikan yang muncul dibawa oleh keberkahan bulan Ramadan. 

Sifat-sifat kebaikan dalam diri kita dan menjauhnya diri kita dari segala sifat angkara seperti dzalim, serakah, suka pamer, menipu dan mengikuti hawa nafsu. Idul Fitri kembalinya manusia kepada fitrah. Kembali kepada kondisi awal bagaimana manusia diciptakan untuk pertama kalinya. Yaitu sebagai hamba Allah. Bukan hamba kekuasaan, bukan hamba harta dan juga bukan hamba dunia.

Fitrah  artinya  kondisi awal asal kejadian, seperti saat seorang dilahirkan. Suatu keadaan yang suci dari kesombongan dan keserakahan. Sehingga Idul Fitri (kembali kepada fitrah) dalam bahasa sekarang bisa dipahami sebagai di resetting, di reset ulang atau dikembalikan kepada setelan awal yaitu sebagai muslim.

Rasulullah Saw bersabda: "Kullu mauludin Yuu ladu alal fitrah, Fa abawahu, Au Yuhawwidanihi Au Yunassiranihi Au Yumajjisanihi"
Artinya: "Semua anak 
dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), Maka orang tuanya (lingkungan)lah  yang menjadikannya (anak tersebut) Yahudi, Nasrani atau Majusi". (Hr. Muslim).

Oleh karena itu fitrah bukan hanya dimaknai sebagai bersih tanpa noda, tetapi kembali kepada Islam, menjadi hamba Allah sebagai mana untuk apa diciptakan. Bagaimana setelan/ setting awal manusia diciptakan dan dilahirkan?

Allah Sang Maha Pencipta menjelaskan dalam Al Quran. Pertama, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Sang Maha Pencipta.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

"Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz dzariyat: 56)

Kedua, sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi yang bertugas untuk memakmurkan bumi. Bukan menghancurkan atau memporak porandakan bumi ini.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ إِنِّی جَاعِلࣱ فِی ٱلۡأَرۡضِ خَلِیفَةࣰۖ قَالُوۤا۟ أَتَجۡعَلُ فِیهَا مَن یُفۡسِدُ فِیهَا وَیَسۡفِكُ ٱلدِّمَاۤءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّیۤ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan (manusia) khalifah di bumi. "Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [Al-Baqarah: 30]

Ayat pertama menunjukkan visi diciptakan nya manusia. Sedangkan ayat kedua menegaskan
misi hidup manusia, yakni sebagai khalifatullah fil ard, yang bertugas memelihara dan memakmurkan bumi, dengan menjaga keseimbangan dan keselarasan semua makhluk hidup di atas muka bumi secara ber keadilan.

Bila visi dan misi ini tidak dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maja yang terjadi sudah pasti adalah kekacauan, penindasan serta adi gang, adi gung dan adi guno. Selamat Hari Raya Idul Fitri."
~Semoga kita termasuk orang orang yang kembali kepada fitrah~

Allahu a'lam bi shawab.
(Gaf)

"Selamat Hari Raya Idul Fitri."
~Semoga kita termasuk orang orang yang kembali kepada fitrah~