Helo Indonesia

Rektor UBL Serukan Kolaborasi Multipihak Hadapi Ancaman Krisis Iklim Global

Prty - Teknologi
1 jam 7 menit lalu
    Bagikan  
Rektor UBL Serukan Kolaborasi Multipihak Hadapi Ancaman Krisis Iklim Global

4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 yang digelar Universitas Bandar Lampung (UBL)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----Krisis iklim global yang semakin nyata mendorong lahirnya kolaborasi lintas sektor yang lebih konkret dan berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 yang digelar Universitas Bandar Lampung (UBL) di Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Rabu (20/5/2026).

Mengusung tema “Navigating Global Climate Challenges through Multi-Stakeholder Partnership”, forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah, sektor industri, organisasi masyarakat sipil, hingga media untuk membahas strategi menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Rektor UBL, Prof. M. Yusuf S. Barusman, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan ancaman nyata yang dampaknya telah dirasakan di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Perubahan iklim bukan lagi persoalan masa depan yang hanya menjadi bahan diskusi akademik. Kita telah menyaksikan berbagai fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya sulit dibayangkan. Beberapa waktu terakhir kita mengalami intensitas hujan yang sangat tinggi. Bayangkan apabila kondisi seperti itu terjadi terus-menerus dalam jangka panjang. Dampaknya tentu tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan pangan, ekonomi, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas sosial,” ujarnya.

Menurut Yusuf, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong lahirnya solusi dan kebijakan berbasis kolaborasi. Kampus, kata dia, tidak cukup hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

“Perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan respons kolektif. Universitas harus hadir sebagai katalisator lahirnya inovasi, penguatan kebijakan, sekaligus jembatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Ia menilai penanganan krisis iklim tidak dapat dilakukan secara parsial karena dampaknya telah meluas ke berbagai sektor strategis, mulai dari lingkungan, ekonomi, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan suatu bangsa.

“Karena itu, solusi terhadap tantangan global ini tidak dapat dilakukan secara individual. Kita membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, NGO, dan organisasi internasional,” tegas Yusuf.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh SDGs Center UBL tersebut merupakan bagian dari penguatan implementasi proyek Strengthening Capacities for Policy Planning for the Implementation of the 2030 Agenda in Indonesia and in the Global South Phase II (SDGs SSTC Phase II) yang didukung oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia.

Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan piagam kolaborasi MSP KEM11LAU sebagai simbol penguatan kemitraan multipihak dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Selain menghadirkan pembicara nasional dan internasional, ISGCS 2026 turut diisi dengan panel diskusi dan presentasi hasil riset. Sebanyak 35 presenter memaparkan berbagai penelitian dan praktik baik terkait pembangunan berkelanjutan, ketahanan iklim, serta penguatan kolaborasi multipihak.

Melalui penyelenggaraan forum internasional ini, UBL menegaskan komitmennya dalam membangun diplomasi akademik dan jejaring global guna mendukung percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.(( ubl)