Helo Indonesia

Potret Sejuk dari Borobudur: Simfoni Musik Dunia dan Gema Doa Kebangsaan Satukan Hati Warga

1 jam 37 menit lalu
    Bagikan  
Potret Sejuk dari Borobudur: Simfoni Musik Dunia dan Gema Doa Kebangsaan Satukan Hati Warga
+

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Yuliyanto

MAGELANG, HELOINDONESIA.COM - Candi Borobudur kembali membuktikan kedudukannya bukan sekadar mahakarya batu peninggalan masa lalu, melainkan monumen hidup peradaban yang penuh kehangatan.

Pada Sabtu (31/10/2026), kawasan wisata super prioritas di Kabupaten Magelang ini menyuguhkan pemandangan menakjubkan: gemerlap persiapan konser penyanyi kelas dunia, Andrea Bocelli, berdiri bersisian dengan khusyuknya doa bersama ratusan warga lokal untuk keselamatan bangsa

Baca juga: Ajak Kolaborasi 123 Kampus, Ahmad Luthfi Tunggu Pengabdian UGM di Jateng

Dua peristiwa dengan latar belakang berbeda itu berlangsung secara berdampingan. Suara alunan musik kelas dunia berpadu dengan syahdu doa istighosah dari Masjid Al Ikhlas, Dusun Ngaran I. Tidak ada gesekan, tidak ada provokasi. Yang ada hanyalah keindahan toleransi yang dibalut dalam kedewasaan bermasyarakat.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah memberikan apresiasi mendalam atas terciptanya situasi yang damai tersebut. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Yuliyanto, menilai bahwa apa yang terjadi di Borobudur adalah bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia mampu merangkul perbedaan.

"Kami memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda. Namun, hari ini masyarakat telah menunjukkan bahwa perbedaan tersebut dapat disikapi dengan saling menghormati tanpa harus mengganggu hak maupun aktivitas orang lain," ujar Kombes Pol Yuliyanto.

Doa untuk Negeri di Tengah Gemerlap Dunia

Kegiatan istighosah dan doa bersama yang digelar Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) ini berlangsung khusyuk. Acara yang dimulai sejak pukul 13.30 WIB tersebut dihadiri oleh puluhan warga, tokoh agama, perwakilan ormas, dan lembaga bantuan hukum.

Ketua FMBB, Puguh Triwarsono, menyampaikan bahwa doa bersama ini adalah wujud cinta kasih mereka terhadap tanah air, khususnya kawasan Borobudur. Warga menitipkan harapan besar agar Borobudur tidak sekadar menjadi panggung hiburan, tetapi tetap menjadi denyut nadi perekonomian dan kebudayaan masyarakat setempat.

Melalui doa tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi mereka secara santun. Mereka berharap pengelolaan kawasan Candi Borobudur ke depan bisa lebih merangkul masyarakat lokal, menghidupkan kembali denyut ekonomi pedagang kecil, serta menjaga nilai-nilai luhur cagar budaya. Penyampaian aspirasi ini dikemas dalam nuansa kekeluargaan yang santun, tanpa provokasi.
Kehadiran Ketua Forum Ukhuwah Islamiah Magelang Raya (FIUIMARA), Priyo Waspodo, dan perwakilan LBH AVADHANA, Ivan Dafis, semakin menguatkan pesan perdamaian tersebut. Mereka sepakat bahwa perjuangan untuk kesejahteraan warga harus tetap berada di jalur yang elegan dan beradab.
Pendekatan Humanis dari Kepolisian
Keberhasilan menjaga harmoni ini tidak lepas dari peran serta aparat keamanan. Polda Jateng bersama TNI, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan menerapkan pendekatan yang humanis dan persuasif selama proses pengamanan.
"Terima kasih kepada saudara-saudara yang telah menjaga ketertiban, kepada para pengunjung dan wisatawan yang mengikuti arahan petugas, serta masyarakat sekitar yang turut menjaga lingkungan tetap kondusif," lanjut Kombes Pol Yuliyanto.
Polri, lanjutnya, hadir bukan untuk membatasi hak masyarakat, melainkan untuk memastikan setiap orang mendapatkan perlindungan yang sama. Penyelenggaraan konser yang berjalan lancar dan doa bersama yang penuh khidmat menjadi bukti nyata bahwa demokrasi dan kebebasan berekspresi bisa berjalan selaras.
Menutup keterangannya, Kombes Pol Yuliyanto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat semangat kebersamaan. Perbedaan pandangan, kata dia, tidak seharusnya memecah belah persaudaraan, melainkan menjadi kekayaan budaya yang memperkokoh persatuan bangsa. (Aji)