HELOINDONESIA.COM - Menko Polhukam Mahfud MD memberikan arahan pada Forum Koordinasi Sentra Gakkumdu (Penegakan Hukum Terpadu) dalam penanganan Tindak Pidana Pemilu di Hotel Claro, Makassar, Kamis 13 Juli. Pada kesempatan itu dia teringat burung Maleo asal Sulawesi dan mengungkap filosofinya.
“Saya sampaikan kepada pihak-pihak yang menjadai bagian dari Sentra Gakkumbu untuk selalu mengantisipasi sejak awal dan mencegah terjadinya tindak pidana dalam pelaksanaan Pemilu,” kata Menko Mahfud.
Dia mengaku senang bisa kembali ke Makassar, untuk memberikan arahan pada Forum Koordinasi Sentra Gakkumdu dalam Penanganan Tindak Pidana Pemilu.
“Bersama Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dan Forkopimda, saya sampaikan pada 272 sentra Gakkumdu di luar Sulsel yang mengikuti secara daring, bahwa upaya pencegahan tindak pidana harus lebih dimasifkan dengan semangat penegakan hukum,” ungkapnya.
Baca juga: Liburan Sekolah Kampung Inggris Pare Kediri, Diserbu Pelajar dan Mahasiswa dari Berbagai Penjuru
Menko Mahfud juga mengemukakan bahwa kehadirannya di Makassar untuk memberikan keynote speech pada Seminar Nasional ASEAN bertema “Kepemimpinan strategis Indonesia di ASEAN di tengah rivalitas geopolitik dan ancaman kejahatan transnasional” di Universitas Hasanuddin Hotel Makassar.
Di hadapan Rektor Unhas dan Rektor UIN Alauddin, juga seluruh sivitas akademika, dia menyampaikan beberapa tantangan aktual yang dihadapi ASEAN saat ini, dimana tahun ini juga Indonesia menduduki keketuan ASEAN 2023. Indonesia akan mengusung prioritas memperkuat kesatuan dan soliditas ASEAN, sesuai dengan Visi ASEAN 2045, Asian Century dan Visi Indonesia Emas 2045.
Di bagian itulah, kemudian Menko Mahfud MD mengungkap perihal burung Maleo yang merupakan khas asal Sulawesi. Menurut dia, burung Maleo tetap bisa berjalan di tanah, meski bisa terbang tinggi.
Baca juga: Anies Belum Deklarasikan Cawapres, Pengamat : Masih Tarik Ulur di Internal Koalisi Perubahan
“Dalam logo Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023, terdapat ikon burung Maleo, burung khas endemik Sulawesi. Burung Maleo, walaupun dapat terbang tinggi, tetap mampu berjalan di tanah.
“Filosofi inilah yang diangkat oleh Indonesia untuk Keketuaan di ASEAN, bahwa ASEAN harus kembali menapak tanah, merangkul kepentingan di tingkat akar rumput agar memberikan dampak sebesar-sebesarnya pada masyarakat,” kata Menko Polhukam Mahfud MD. (*)
(Winoto Anung)
