Komitmen Sido Muncul Menuju Usia 75 Tahun: Jaga Mutu dan Keamanan Produk Berbasis Riset Ilmiah

Kamis, 22 Januari 2026 14:57
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat

JAKARTA, HELOINDONESIA.COM - PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) bersiap menapaki usia ke-75 tahun pada November 2026. Seiring bertambahnya usia perusahaan, perusahaan jamu ini menegaskan komitmennya menjaga kualitas dan mengembangkan produk-produknya.

Komitmen ini menjadi fondasi perusahaan dalam mempertahankan kepercayaan konsumen dari generasi ke generasi.

Sido Muncul berawal dari usaha jamu rumahan yang dirintis Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta pada 1930. Dari racikan jamu tradisional, berlanjut ke jamu godokan pada 1940, hingga resmi berdiri sebagai perusahaan pada 1951 dan tumbuh sebagai produsen jamu dan obat herbal nasional.

Baca juga: Laga Liga 4 Jateng Persik Kendal vs Persikama Magelang Ricuh, Suporter Turun ke Lapangan

Inovasi besar dilakukan pada 1992 dengan meluncurkan Tolak Angin cair siap minum dalam kemasan sachet, yang praktis dan higienis, dan mudah dibawa kemana-mana.

Untuk menjaga mutu dan keamanan produk Tolak Angin, Sido Muncul bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, melakukan penelitian dan pengujian ilmiah yang mencakup uji toksisitas (keamanan), uji mutu bahan baku herbal, serta uji Pra klinis dan uji khasiat

Direktur Sido Muncul, Dr HC Irwan Hidayat, menegaskan bahwa sejak awal Sido Muncul tidak ingin sekadar memproduksi jamu, tetapi mengembangkan produk herbal berbasis penelitian dan ilmiah.

“Sebagai perusahaan terbuka, kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Irwan Hidayat saat konferensi pers Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Selasa 20 Januari 2026.

Irwan mengungkapkan, sejak tahun 2000 Sido Muncul telah melakukan uji toksisitas dan uji khasiat, sebuah langkah yang pada saat itu tergolong maju untuk produk jamu di Indonesia.

Untuk sebuah jamu, ini adalah sebuah kemajuan. Bahkan saat itu, Tolak Angin merupakan pionir produk jamu di Indonesia yang diuji secara ilmiah," ucapnya.

Baca juga: Berhasil Dievakuasi, Wanita Lansia Meninggal Usai Hanyut di Sungai Bengawan Solo

Penelitian dan pengujian tidak hanya dilakukan pada Tolak Angin, tetapi juga pada produk lain seperti temulawak dan food suplement.

"Kami tidak bisa bergantung pada opini. Kami berpatokan pada hasil riset yang diuji secara ilmiah dan sudah kami lakukan sejak 23 tahun lalu. Uji toksisitas membuktikan secara ilmiah bahwa Tolak Angin tidak bersifat toksik, tidak merusak ginjal, tidak merusak hati, tidak merusak pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria maupun wanita pada penggunaan dosis sesuai anjuran," jelas Irwan.

Uji Toksisitas Subkronis Tolak Angin Cair

Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr apt Ipang Djunarko SSi MSc menjelaskan, uji toksisitas subkronis dilakukan untuk memastikan keamanan produk dalam penggunaan jangka panjang.

“Kami melakukan uji toksisitas subkronis sebagai tahap awal untuk menentukan keamanan suatu produk. Ini merupakan tuntutan dari Badan POM,” kata Ipang Djunarko.

Ipang menjelaskan, pengujian dilakukan selama 90 hari pada hewan uji tikus jantan dan betina, dengan berbagai tingkatan dosis, mulai dari dosis normal hingga dosis yang sangat tinggi setara dengan konsumsi 9 sachet sekaligus per hari.

“Pengujian dilakukan dengan pengamatan gejala klinis, uji darah, uji kimia klinik, serta pemeriksaan histologi pada organ-organ vital meliputi paru-paru, limpa, jantung, usus, lambung, ginjal, hati, serta organ reproduksi hewan uji,” ujarnya.

Hasilnya, tidak ditemukan efek toksik yang membahayakan. “Selama 90 hari perlakuan, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada organ vital. Fungsi ginjal dan hati juga tidak mengalami gangguan,” jelasnya.

Penggunaan Jangka Panjang

Peneliti lainnya dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, apt Phebe Hendra PhD, menambahkan bahwa hasil uji toksisitas menunjukkan Tolak Angin relatif aman untuk penggunaan jangka panjang.

“Uji toksisitas subkronis dilakukan pada tikus jantan dan betina selama 90 hari hingga dosis tertinggi, dan tidak ditemukan kematian maupun perubahan gejala klinis,” ungkap Phebe.

Dia menjelaskan, jika dikonversikan ke manusia, durasi 90 hari pada hewan setara dengan sekitar 101 bulan atau delapan tahun penggunaan.

“Hasil ini menunjukkan bahwa Tolak Angin cair relatif aman digunakan dalam jangka panjang, selama digunakan sesuai dosis yang dianjurkan,” katanya.

Phebe juga menekankan bahwa dalam pengujian, dosis yang digunakan jauh lebih tinggi dibandingkan dosis konsumsi normal.

Sementara itu, Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang Dr dr Neni Susilaningsih MSi menjelaskan, selain uji keamanan yang dilakukan oleh tim Sanata Dharma,, dilakukan pula uji khasiat yang dimulai dari penelitian pada hewan hingga uji khasiat pada manusia.

"Pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu menunjukkan peningkatan jumlah limfosit T, peningkatan kadar sitokin seperti interferon dan interleukin, yang menandakan peningkatan respons imun. Tanpa mempengaruhi fungsi ginjal maupun hati melalui pemeriksaan kadar ureum, kreatinin. SGOT dan SGPT," jelasnya.

Dokter Neni mengungkapkan bahwa hasil uji toksisitas dan uji khasiat tersebut menjadi syarat penting dari Badan POM.

“Inilah yang membuat Tolak Angin dapat naik level dari jamu menjadi obat herbal terstandar,” pungkasnya.
Berbasis Riset
Komisaris Independen PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr Adib Khumaidi, SpOT, menegaskan bahwa riset dan pengujian ilmiah merupakan bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada publik.

“Perlu saya perjelas dan pertegas bahwa apa yang ada di dalam sachet ini merupakan sebuah pembuktian. Scientifically proven berarti semua proses produksi, termasuk Tolak Angin, berbasis pada proses akademis dan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya.

Baca juga: Dukung Rumah Singgah Pasien Kanker, YKI Gandeng USM

Lebih lanjut, Adib menuturkan, komitmen Sido Muncul menjaga mutu dan keamanan produk tercermin melalui kolaborasi aktif dengan berbagai institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan, baik dalam riset maupun pengembangan edukasi herbal. Upaya ini selaras dengan kebijakan pemerintah lewat UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 tentang pengembangan obat bahan alam.

"Sido Muncul telah menyusun sebuah kompendium berisi informasi bahan alam, dilengkapi jurnal-jurnal penelitian dari dalam dan luar negeri," tuturnya.

Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F Noya, menilai komitmen riset ilmiah menjadi alasan utama dirinya bersedia mendukung produk tersebut.

"Ketika diminta menjadi brand ambassador, pertanyaan saya sederhana: apakah produk ini merugikan atau menguntungkan masyarakat? Jawabannya ada pada data dan kajian ilmiah,” ujar Andy.

Keterbukaan Sido Muncul dalam membawa riset ke forum akademik, menurut Andy menjadi bukti keseriusan perusahaan menjaga mutu dan keamanan sebuah produk.

“Semua dijelaskan berbasis data dan kajian ilmiah oleh para pakar dan dokter. Kalau ada yang meragukan, silakan membantah dengan kajian ilmiah lain, bukan dengan asumsi,” tegasnya.
Level Industri Modern

Brand Ambassador Tolak Angin lainnya, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, menilai Sido Muncul berhasil membawa jamu ke level industri modern tanpa meninggalkan akar tradisionalnya.

“Yang membedakan Sido Muncul adalah memodernisasi jamu hingga masuk ke standar industri farmasi, dengan uji laboratorium dan standar ilmiah sehingga dapat diterima oleh komunitas akademik,” ujar Rhenald.

Ia menambahkan, pengalaman pribadinya menggunakan Tolak Angin selama bertahun-tahun di luar negeri menunjukkan penerimaan yang luas terhadap produk herbal Indonesia yang berbasis riset.

"Saya berharap Sido Muncul terus berkembang, semakin tangguh di dalam negeri dan semakin besar di pasar internasional,” tambahnya.

Di penghujung konferensi pers, Direktur Marketing PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Maria Reviani Hidayat, menyampaikan bahwa edukasi publik terhadap keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi saat ini, khususnya bagi generasi muda. Ia berharap paparan ilmiah dari para narasumber dapat menjadi rujukan yang kredibel bagi konsumen.

“Melalui kegiatan hari ini, kami berharap dapat memberikan informasi yang benar dan berkualitas kepada konsumen. Saya yakin konsumen juga semakin pintar, orang pintar kan minum Tolak Angin. Jadi yang pintar tentu saja bisa memilah informasi yang benar dan tidak, lalu dia bisa memilih produk yang baik juga, ujarnya.

Hingga kini, Sido Muncul terus melakukan inovasi agar produk-produknya semakin diterima oleh para konsumen. Untuk produk Tolak Angin sendiri telah memiliki beberapa varian yaitu Tolak Angin Cair, Tolak Angin Serbuk, Tolak Angin Tablet, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Anak, Tolak Angin Kapsul, dan Tolak Angin Batuk. (Aji)

Berita Terkini