Puji Antusiasme Kirab 1 Sura Mangkunegaran, Sekda Jateng: Tradisi Adalah Kekuatan Kita!

Rabu, 17 Juni 2026 10:32
Sekda Jateng Sumarno saat menghadiri acara Kirab Pusaka Hajad Dalem Mapag 1 Sura Be 1960

SOLO, HELOINDONESIA.COM - Ribuan pasang mata memadati setiap ruas jalan di sekitar Pura Mangkunegaran Kota Surakarta untuk menjadi saksi hidup prosesi sakral Kirab Pusaka Hajad Dalem Mapag 1 Sura Be 1960 yang digelar pada Selasa malam 16 Juni 2026.

Di tengah lautan manusia yang membeludak, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, tampak hadir di barisan depan. Ia tidak sekadar menonton, melainkan turut larut mengikuti prosesi ritual yang menjadi salah satu magnet budaya terbesar di Kota Bengawan tersebut.

Baca juga: Gandeng Indosat, FE USM Cetak Mahasiswa Siap Tempur di Industri Digital

Bagi Sumarno, Kirab Malam 1 Sura memiliki dimensi yang sangat luas. Ini bukan sekadar ritual tahunan yang berulang, melainkan sebuah benteng pertahanan budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun, sekaligus roda penggerak yang ampuh bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah.

"Tentu kami dari Pemprov Jateng mengapresiasi Pura Mangkunegaran, karena ini merupakan bagian dari nguri-uri (merawat) budaya dan tradisi. Budaya dan tradisi adalah kekayaan tak ternilai yang kita miliki di Jawa Tengah," tegas Sumarno, yang malam itu hadir mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Dia menilai, besarnya antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab menunjukkan tradisi budaya masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perkembangan zaman.

"Tadi bisa dilihat bersama, antusiasme masyarakat luar biasa. Sepanjang jalan penuh. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini juga menjadi pemicu pergerakan ekonomi di Kota Surakarta," ujar Sumarno.

Kirab pusaka dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X memberikan perintah pemberangkatan.

Enam pusaka Mangkunegaran yang sebelumnya menjalani ritual jamasan dibawa keluar oleh para abdi dalem untuk dikirab mengelilingi kawasan kota.

Baca juga: Cetak Sejarah! Kimsin Poo Seng Tay Tee Asal Tiongkok Hadir Perdana di Perayaan Ke-166 Semarang

Pusaka yang dikirab terdiri lima tombak dan satu pusaka yang ditempatkan di dalam jodang atau kotak kaca. Ribuan peserta mengikuti prosesi dengan berjalan kaki tanpa alas dan menjalani laku tapa bisu atau berjalan dalam keheningan.

Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju Ngarsopuro melalui Jalan Diponegoro. Kemudian melintasi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, dan kembali ke Pura Mangkunegaran.

Tahun ini, Kirab Malam 1 Sura Mangkunegaran dihadiri sekitar 10.000 tamu undangan dan diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari keluarga besar Mangkunegaran, masyarakat umum, pejabat pemerintah, hingga sejumlah tokoh publik nasional.

Program Kebudayaan

Menurut Sumarno, pelestarian tradisi yang dilakukan Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran selama ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.

"Apa yang dilakukan teman-teman di Kasunanan maupun Mangkunegaran menjadi bagian dari program pemerintah Jawa Tengah juga. Karena itu kegiatan-kegiatan budaya seperti ini terus kita fasilitasi dan kita dukung," katanya.

Baca juga: HUT Ke-344, Bandarlampung Perkuat Semangat Bersinar Menuju Indonesia Emas 2045

Tidak hanya menyaksikan kirab, masyarakat juga menantikan momen perebutan air jamasan pusaka setelah prosesi selesai. Air yang digunakan untuk membersihkan pusaka tersebut dipercaya membawa keberkahan.

Salah seorang warga, Marimin (54), mengaku rela datang untuk mendapatkan air jamasan.

"Tadi ambil air jamasan. Buat minum, mencari berkah dari sini," tuturnya.

Tahun ini, rangkaian peringatan 1 Sura berlangsung lebih sakral melalui tirakatan selama 24 jam yang dibagi dalam tiga fase.

Seluruh rangkaian akan ditutup pada Rabu pagi dengan meditasi dan Laku Catur Sembah sebagai ritual menyambut fajar.(Aji)

Berita Terkini