LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM----
Di tengah dinamika ekonomi nasional dan fluktuasi harga komoditas, Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, memastikan harga sejumlah komoditas unggulan daerah masih berada dalam kondisi relatif stabil.
Stabilnya harga tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas perdagangan di Tubaba masih berjalan normal. Namun, di balik kondisi yang kondusif itu, pemerintah daerah mulai mewaspadai potensi berkurangnya produksi singkong akibat perubahan pola tanam petani.
Kepala Dinas Koperindag Tubaba, Achmad Nazaruddin, mengatakan pihaknya secara rutin melakukan pemantauan harga komoditas strategis di sejumlah pabrik dan lapak pengepul guna memastikan stabilitas pasar sekaligus menyediakan data yang akurat bagi masyarakat dan pelaku usaha.
"Hasil pemantauan menunjukkan harga komoditas unggulan di Tubaba masih relatif stabil. Secara umum aktivitas perdagangan juga berjalan baik dan tidak ditemukan permasalahan yang signifikan," ujar Achmad Nazaruddin saat dikonfirmasi, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit berada pada kisaran Rp2.600 hingga Rp2.900 per kilogram di Lapak/Pabrik Berkah Jaya, Tiyuh Candra Jaya.
Sementara itu, komoditas karet tercatat diperdagangkan dengan harga harian Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram, sedangkan harga mingguan mencapai Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram berdasarkan data dari Sangratu Grup di Gedung Ratu.
Untuk komoditas tebu, harga berada di angka Rp515 per kilogram berdasarkan data PT GMP. Adapun singkong diperdagangkan seharga Rp1.900 per kilogram berdasarkan pemantauan di PT BTI.
Komoditas pangan lainnya juga menunjukkan kondisi yang stabil. Harga Gabah Kering Giling (GKG) tercatat sebesar Rp8.700 per kilogram, sedangkan jagung berada di kisaran Rp4.350 per kilogram berdasarkan hasil pemantauan di PP Nyoman Raisa, Tiyuh Marga Kencana.
Menurut Achmad, secara umum tidak ada kendala berarti dalam rantai perdagangan enam komoditas unggulan tersebut. Perubahan harga yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat serta perkembangan ekonomi global, termasuk dinamika ekspor dan impor yang berdampak pada pasar komoditas nasional.
Meski demikian, Koperindag memberikan perhatian khusus terhadap komoditas singkong. Achmad mengungkapkan, mulai berkurangnya luas tanam singkong menjadi sinyal yang perlu diantisipasi.
Ia menjelaskan, rendahnya harga singkong yang sempat anjlok hingga di bawah Rp1.000 per kilogram pada tahun sebelumnya membuat sebagian petani memilih beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
"Kondisi itu membuat sebagian petani menilai budidaya singkong kurang menguntungkan sehingga memilih menanam komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi lebih baik," katanya.
Jika tren tersebut terus berlanjut, kata Achmad, bukan hanya petani yang terdampak, tetapi juga industri pengolahan singkong di Provinsi Lampung yang selama ini bergantung pada pasokan bahan baku dari sentra-sentra produksi, termasuk Kabupaten Tulang Bawang Barat.
Karena itu, Koperindag akan terus memperkuat pemantauan harga komoditas, meningkatkan koordinasi dengan pemerintah maupun pelaku usaha, serta mendorong terciptanya kepastian pasar yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan industri.
"Kami berharap kebijakan harga yang berpihak kepada petani serta adanya kepastian pasar dapat menjaga minat masyarakat untuk tetap membudidayakan singkong, sehingga produksi komoditas ini tetap berkelanjutan dan mampu mendukung kebutuhan industri di Lampung," pungkas Achmad.
(Rohman)