BANDARLAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Tiga tahun lalu, Coki ditemukan hanya sebutir telur di antara hiruk-pikuk kawasan Pelabuhan Panjang, Kota Bandarlampung. Tak ada yang menyangka, dari telur itulah kelak muncul seekor buaya yang panjang tubuhnya kini telah mencapai sekitar 2,5 meter.
Wike, warga Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, yang merawatnya Coki selama tiga tahun di kolam kecil teras rumahnya. Setiap hari, dia memberi ayam dan menjaganya seperti hewan peliharaan lainnya.
Tubuhnya yang dulu kecil berubah menjadi tubuh reptil yang panjang dan kuat. Rahangnya menyimpan kekuatan yang tak bisa disamakan dengan kucing, anjing, atau hewan rumahan lainnya.
Dan ketika seekor buaya sepanjang itu hidup di tengah permukiman padat sekitar Pelabuhan Panjang. Ada tetangga, anak-anak, dan orang-orang yang setiap hari berjalan di depan rumah Gang Rajawali, Jalan Teluk Ambon, Pidada.
Sampai akhirnya, ada yang memviralkannya. Video dan kabar tentang buaya yang dipelihara warga Panjang itu menyebar. Apa yang sebelumnya menjadi cerita kecil di sebuah rumah, mendadak menjadi perhatian banyak orang.
Senin (21/9/2026), pukul 10.45 WIB, lima personel Damkarmat Kota Bandarlampung bersama kepolisian, kecamatan, kelurahan dan warga mengevakuasi Coki.
Wike bersedia menyerahkan satwa tersebut kepada petugas setelah dijelaskan mengenai keselamatan warga dan penanganan satwa liar. Namun di balik penyerahan itu, ada sebuah perasaan yang barangkali tidak mudah dijelaskan antara Coki dan keluarga Wike.
Selama itu Coki tumbuh di lingkungan manusia. Sang pemilik bahkan berharap masih bisa mengetahui bagaimana keadaan Coki setelah meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya hidup.
Di situlah cerita ini menjadi lebih dari sekadar berita tentang seekor buaya, ada manusia yang merasa kehilangan, ada warga yang merasa lega adanya seekor satwa liar yang sebenarnya sejak awal tidak pernah memilih jadi hewan peliharaan.
Kini ketika ukurannya telah mencapai sekitar 2,5 meter, ruang itu menjadi terlalu sempit dan risikonya terlalu besar. Sebab buaya yang terlihat tenang tetap membawa naluri predator di dalam tubuhnya.
Petugas selanjutnya berkoordinasi dengan pihak yang berwenang untuk menentukan penanganan Coki. Harapannya, satwa tersebut mendapatkan tempat yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan alaminya.
Coki pun meninggalkan rumah di Pidada. Tak ada yang tahu apakah ia memahami perpisahan itu. Mungkin tidak. Bagi seekor buaya, dunia barangkali hanya tentang air, tanah, makanan, suhu tubuh dan naluri bertahan hidup.
Tetapi bagi manusia, Coki meninggalkan sebuah cerita tentang seekor buaya yang bermula dari telur, tangan manusia yang membesarkannya, dan warga yang akhirnya merasa cemas. Di Gang Rajawali, halaman rumah itu kini kembali lengang.
Tak ada lagi tubuh panjang Coki yang bergerak perlahan di sana. Yang tersisa mungkin hanya kenangan tiga tahun—ketika seekor buaya kecil datang sebagai telur, tumbuh menjadi besar, lalu akhirnya pergi karena dunia manusia tak lagi cukup aman untuknya.
Kadang-kadang, mencintai makhluk hidup bukan berarti mempertahankannya, tapi juga harus tahu kapan harus melepaskan. (Alya)