HELOINDONESIA.COM - Suara warna Nahdlatul Ulama (NU) atau nahdiyin diperebutkan para capres. Kemudian menjadi lebih jelas setelah muncul duet Anies Baswedan-Cak Imin (Anies-Cak Imin).
Sebab, dengan demikian sebagian warga NU akan mendukung pasangan Anies-Cak Imin, dan di pihak lain ada seruan dari Ketua PBNU yang melarang pengurus ormas itu ikut-ikutan bermain politik.
Satu hal lagi, kubu keluarga besar Gus Dur (mantan Ketua PBNU dan mantan Presiden RI) jelas-jelas tidak mau kompromi dengan Cak Imin. Sebab dulu dianggap mengkude Gus Dur, saat masih memimpin PKB.
Dengan begitu, maka diduga tidak akan langsung menjadi besar dukungan kepada pasangan capres-cawapres Anies-Cak Imin. Faktanya, di permukaan pendapat para tokoh NU yang berpengaruh sudah terfragmentasi atau terpecah-pecah.
Baca juga: Usai Cegat Rocky Gerung, Para Relawan Jokowi Apresiasi Kepolisian
Dengan kondisi fragmentasi pendapat para tokoh berpengaruh, seperti Ketua PBNU KH Yahya Staquf, Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama), Yenny Wahid (keluarga Gus Dur), Ketua PBNU Jatim KH Marzuki Mustamar) dan Cak Imin (PKB), maka akan sulit duet Anies-Cak Imin berharap suara mayoritas Nahdliyin.
Artinya, duet Anies-Cak Imin bukan serta merta menjadi resep manjur uuntuk merebut suara nahdliyin tersebut. Di kalangan Mataraman atau Jawa Timur sisi barat yang berbatasan dengan Jawa Tengah, Masyarakat di sana sangat akrab dengan nama Ganjar Pranowo. Bahkan ada yang berkata: nek ora Ganjar, wis ora (kalau bukan Ganjar, nggaklah).
Dalam Pemilu 2019 yang lalu juga menunjukkan perolehan suara PKB hanya 9,69 dari total suara sah, sekitar belasan juta.
Baca juga: Kapok Kena Prank KPP, Demokrat Tak Lagi Minta Jatah Cawapres Sebagai Syarat Berkoalisi
Maka menurut pengamat politik Adi Prayitno langkah politik memasangkan Anies Baswedan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di Pilpres 2024 tidak akan serta-merta mampu menarik dukungan dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) atau nahdiyin.
Menurut Adi Prayitno tidak semua warga NU maupun pemilih PKB mau mendukung Muhaimin sebagai bakal calon wakil presiden atau cawapres.
Dia menegaskan, sekitar 85 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Dari proporsi itu, hampir separuhnya merupakan nahdiyin. Namun, perolehan PKB pada Pemilu 2019 hanya 9,69 persen dari total suara sah.
“Jadi, mayoritas nahdiyin tidak memilih PKB, tetapi partai lain,” kata Adi Prayitno, Rabu 6 September, di Jakarta.
Adi juga menganggap upaya Muhaimin menggaet suara nahdiyin bakal menghadapi tantangan berat. Sebab, sejauh ini terlihat sekali di permukaan saja, hubungan PKB dengan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) tidak rukun.
"Dalam kondisi solid atau rukun dengan NU PKB hanya memperoleh suara 9,6 persen, lalu sekarang terlihat berkonflik dengan PBNU," jelas Adi Pray.
Baca juga: Tiba dengan Selamat, Rombongan 48 Jemaah Umrah via Bandara JB Soedirman Purbalingga Mengaku Puas
Selain itu ada data yang menunjukkan gap antara perolehan suara PKB di pemilu lalu dengan elektabilitas Muhaimin saat ini. Berbagai survei menempatkan tingkat keterpilihan politikus yang beken dengan panggilan Cak Imin itu hanya 1-2 persen.
"Ada jarak pemilih PKB yang tidak memilih Muhaimin. Pemilih NU tidak harus memilih Muhaimin,” tandas Direktur Parameter Politik Indonesia itu.
Menurut analisanya, soal elektabilitas Cak Imin yang masih rendah meski nahdiyin pemilik hak pilih ada puluhan juta jiwa. Pertama, sampai saat ini popularitas Cak Imin masih di bawah Ganjar Pranowo maupun Prabowo Subianto.
Di daerah basis pemilih PKB pun Ganjar Pranowo yang dikenal sebagai politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki elektabilitas paling tinggi. “Orang NU dengan PDI Perjuangan memiliki hubungan yang bagus," kata Adi.
Kedua, sebagian warga NU mendukung Prabowo karena ketua umum Partai Gerindra itu dianggap dekat dengan Presiden Jokowi. (**)
