Helo Indonesia

Budhe Somplak Unboxing Beras Bantuan Bulog, Dibeli dari Uang Rakyat, Haruskah Berterima Kasih?

Satwiko Rumekso - Ekonomi
51 menit lalu
    Bagikan  
Kemasan Beras Bantuan Pangan Bulog
@budhesomplak

Kemasan Beras Bantuan Pangan Bulog - Tidak dicantumkan Kedaluarsa dan Bacth Produksi, Kontrol Kualitas dan keamanan pangan dipertanyakan

HELOINDONESIA.COM -Selama ini pemerintah melalui Perum Bulog menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat berupa beras gratis.

Program bantuan sosial tersebut ditujukan untuk membantu keluarga penerima manfaat dalam memenuhi kebutuhan pokok, terutama di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga pangan.

Namun, di balik penyaluran bantuan tersebut, tidak sedikit masyarakat yang penasaran mengenai mutu beras yang diterima.

Mulai dari kualitas fisik, aroma, hingga daya tahan setelah dimasak menjadi pertanyaan yang kerap muncul di media sosial. Rasa penasaran itu kemudian dijawab oleh konten kreator Dewi Pertiwi atau yang lebih dikenal sebagai Budhe Somplak, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada 15 Juli 2026.

Baca juga: Ayo Rame-rame Dirikan Koperasi Terus Kelola Tambang dan Minyak, Rakyat Sejahtera Bukan Mimpi

Dalam videonya, Budhe Somplak memperlihatkan langsung kemasan beras bantuan Bulog yang diterimanya.

Hal pertama yang menjadi sorotannya adalah tidak ditemukannya informasi mengenai tanggal produksi, nomor batch produksi, maupun tanggal kedaluwarsa pada kemasan.

Catatan redaksi: Produk pangan umumnya mencatumkan informasi tersebut agar konsumen mengetahui kapan produk diproduksi, berapa lama masa simpannya, sekaligus memudahkan proses pengawasan mutu apabila ditemukan masalah pada suatu kelompok produksi tertentu.

Nomor batch produksi memiliki fungsi penting untuk melacak asal-usul produk apabila terjadi keluhan kualitas atau dugaan cacat produksi, sehingga produsen dapat melakukan penelusuran dan penarikan produk secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Sementara itu, pencantuman tanggal kedaluwarsa atau masa simpan membantu konsumen mengetahui batas waktu produk masih layak dikonsumsi serta menjadi bagian dari sistem pengendalian kualitas pangan.

undefined

Sambil menunjukkan kemasan beras tersebut, Budhe Somplak mengatakan bahwa ia hanya menemukan tulisan Bulog, Badan Pangan Nasional, Bantuan Pangan, keterangan "tidak untuk diperjualbelikan", serta informasi berat beras medium 10 kilogram.

"Para pemerintah ini memaksa kita untuk memberikan kode produksi, tanggal kedaluwarsa, tanggal segala macam. Lah ini produk mereka enggak dikasih. Cuma ada kata Bulog, Badan Pangan Nasional, Bantuan Pangan, tidak untuk diperjualbelikan, beras medium 10 kg." kata Budhe Somplak heran

Baca juga: Ngawur! Program MBG Untuk Lapangan Kerja, Bedakan Tujuan dan Dampak Kebijakan

Ia juga mempertanyakan kapan beras tersebut diproduksi karena tidak ada informasi yang dapat dijadikan acuan.

"Enggak ada produksinya kapan. Jadi mana tahu kita ini kapan diproduksinya? Tahun berapa kita enggak tahu."

Budhe Somplak kemudian mengaitkan hal tersebut dengan pengalaman sebelumnya saat mencoba memasak beras bantuan tersebut.

"Makanya waktu dicoba kemarin, enggak ada 24 jam mereka sudah busuk. Ini enggak ngerti kualitasnya seperti apa. Ini yang diberikan kepada masyarakat kita."

Ia juga menilai kualitas bantuan pangan seharusnya menjadi perhatian karena berasal dari anggaran negara.

"Kalau dibilang berterima kasih, berterima kasih dari mana? Ini dibeli dari uang kita, dikasih ke masyarakat kita. Harusnya yang diproduksi bagus, dan aku yakin para menteri maupun anggota DPR makannya enggak seperti ini. Makan (beras) nya jauh lebih baik daripada ini."

Hasil Saat Dimasak

Setelah memasak beras bantuan tersebut, Budhe Somplak mengaku menemukan beberapa karakteristik yang menurutnya berbeda.

"Baunya apek. Agak-agak cokelat. Rasanya sih oke. Ini enaknya dibuat nasi goreng karena pera (kering)."

Menurut pengakuannya, nasi yang dihasilkan memiliki tekstur lebih kering sehingga dinilai lebih cocok dijadikan nasi goreng.

Dicek Keesokan Harinya

Budhe Somplak kemudian kembali memperlihatkan kondisi nasi pada keesokan harinya. Ia mengklaim nasi tersebut telah mengalami perubahan kondisi dalam waktu kurang dari satu hari.

"Guys, raskin wis bosok (busuk), mbleketek iki lho (nasi lembek). Padahal baru kemarin sore masak. Kalau beras yang beli dari petani-petani kita sendiri sampai dua sampai tiga hari masih mantap."

Pernyataan tersebut merupakan pengalaman pribadi yang disampaikan melalui unggahan media sosial.

Hingga artikel ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari Perum Bulog maupun Badan Pangan Nasional terkait klaim yang disampaikan dalam video tersebut.***(AdiG)