HELOINDONESIA.COM -Perempuan harus mampu merawat kesehatan dirinya dan keluarganya lebih dahulu atau self care sebelum merawat kesehatan orang lain.
Demikian pesan yang disampaikan Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo, mantan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2014-2024 seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (12/2/2025).
"Harkat martabat perempuan dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sebagai ibu bangsa sejak tahun 1935 mengembang tanggung jawab mulia.
Perempuan harus mempersiapkan generasi penerus yang memiliki kepribadian bangsa, pantang menyerah serta sehat jasmani dan rohani," papar Giwo.
Menurutnya, seorang ibu harus memiliki peran penting dalam mendidik generasi bangsa yang inovatif, kreatif, unggul sebagai agen perubahan, mampu menggerakkan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Baca juga: RIP: Sinnal Blegur, Sekjen LMND, Wasekjen Projo, Komisaris Perta Arun Gas, Berpulang
Saat ini, dikatakan Giwo, penduduk Indonesia mencapai 274 juta orang lebih. Dengan jumlah perempuan 50,5 persen dan laki-laki 49,5 persen.
"Dari sebanyak 49,5% sekitar 53,6% dari angka tersebut merupakan perempuan yang sedang berada di dalam usia produktif dengan potensi yang luar biasa di segala bidang. Perempuan banyak bergerak dalam berbagai bidang serta menempati posisi yang biasanya didominasi oleh laki-laki," jelasnya.
Pemerintah memiliki prioritas pembangunan nasional dalam 5 tahun ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM).Saat ini indeks pembangunan manusia atau IPM terus mengalami kemajuan yang signifikan.
Di tahun 2020, Indonesia memiliki urutan ke 107 dari 189 negara dengan skor 71,94. Adapun 3 indikator IPM yaitu angka harapan hidup, angka rata-rata lama sekolah dan standar hidup.
Baca juga: Persiapkan Retret Kepala Daerah,Elfianah Lakukan medical Check up
"Dari sisi kesehatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia sudah mencapai 73,4 tahun. Sementara negara-negara tetangga angka harapan hidup masyarakatnya di atas 80 tahun. Tentunya kita harus semangat untuk dapat meningkatkan usia harapan hidup di Indonesia," jelasnya.
Kemudian dari segi pendidikan, lanjut Giwo, rata-rata lama sekolah di Indonesia sebesar 8,54 tahun.
"Jadi hanya 9 tahun bersekolah dan dari segi standar hidup pengeluaran perkapita masyarakat Indonesia di angka 1,2 juta perkapita perbulan. Ini dari data Kementerian koperasi dan UMKM. Tentunya untuk mewujudkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dalam hal ini dapat diupayakan melalui penguatan sistem pendidikan dalam meningkatkan standar hidup," terang Giwo.
Penguatan pendidikan perempuan itu melalui pendidikan formal serta juga melalui pendidikan informal dan pelatihan kilat, kursus workshop simposium.
Baca juga: Pemkot Semarang Tak Batasi Kuota PKG Hari Ulang Tahun
"Saya mengetahui nih asosiasi dari Indonesia Wellness Spa Association (IWSPA) sering sekali mengadakan pelatihan-pelatihan untuk perempuan agar siap kerja," ujarnya.
Tentunya, untuk mewujudkan Indonesia unggul perlu menghasilkan manusia-manusia yang unggul dan maju. Salah satu kuncinya adalah tentunya meningkatkan kualitas dari sumber daya manusianya.
Indikator penting perspektif kesehatan yang harus diselesaikan untuk SDM yang unggul adalah mengenai angka kelangsungan hidup anak dan juga stunting, masalah kelangsungan hidup dewasa.
"Jika kita lihat kembali dari indeks ketahanan kesehatan Indonesia Indonesia sudah cukup baik menduduki peringkat ke-4 dari 10 negara di Asia Tenggara di tahun 2021 dengan skor indeks ketahanan kesehatan global sebesar 50,4," ungkapnya.
Menurutnya, penilaian ini meliputi 6 kategori yaitu sistem kesehatan, pencegahan, deteksi dan pelaporan kecepatan, merespon risiko lingkungan dan pemenuhan terhadap standar internasional.
Untuk menciptakan Indonesia unggul, sambung Giwo, dengan generasi yang sehat perlu memperhatikan beberapa masalah kesehatan yang terbesar. Seperti meliputi gizi buruk kemudian kematian ibu, kemudian kematian bayi.
"WHO menunjukkan dua pertiga sumber daya manusia di sektor Kesehatan global adalah perempuan dan 90% adalah perawat. Di di Indonesia jumlah tenaga medis pada tahun 2019 mencapai 1. 244,162 orang dengan presentasi perempuan lebih banyak," terangnya.
Dengan banyaknya jumlah tenaga kesehatan perempuan hal ini juga tidak lepas dan dalam posisi perempuan sebagai pelopor kesadaran akan kesehatan.
Baca juga: Suksesnya HPN 2025, Ketua Umum IKWI: Terima Kasih Kepada Warga Kalsel dan Semua Pihak yang Mendukung
Sebagai ibu rumah tangga yang mengetahui dalam keluarga kita yang sakit kita sendiri seorang ibu. Perempuan juga memiliki peran yang sangat vital sebagai pelopor dan kesadaran untuk kesehatan untuk diri, keluarga, prinsip -prinsip kesehatan perawatan mandiri atau lazimnya disebut self care," tandasnya.
