LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Langit cerah, angin berhembus kuat, ketika tak kurang dari 15 naga turun dari langit menuju lahan kosong yang masih di-land clearing Grup Perusahaan Sinar Laut di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Jagabaya, Kecamatan Wayhalim, Kota Bandarlampung, Minggu (20/8/2023).
Kepala belasan naga sebesar manusia dewasa bahkan kepala truk terlihat memelototi ratusan orang yang menyaksikannya. Naga yang ekornya memanjang ke arah langit ikut memeriahkan HUT ke-78 RI yang digelar Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Lampung.
Mereka datang dari Kota Metro, Kabupaten Lampung Selatan (Tanjungbintang, Jati Agung, Kalianda, Palas), Kabupaten Lampung Tengah (Kalirejo, Bandarjaya), Kabupaten Pringsewu, dan tuan rumah Kota Bandarlampung.
Penggagas festival layangan sekitar 40-an tahun lalu Anshori Djausal dan Ketua Pelangi Lampung Gino Vanollie menggelar kembali festival layangan sebagai ajang silaturahmi dan bermain bersama layangan
Bang An menyerahkan plakat dan piagam kepada pemenang lomba layangan aduan (Fotoa Gino/Helo)
Baca juga: Gustavo Top Skor Sementara dengan 9 Gol, itu Tidak Ada Artinya Jika Arema Belum Menang
Para pelayang datang antusias berduyun-duyun dengan membawa truk dan mobil AVP yang juga mengangkut beragam layangan kebanggaan mereka, baik kreasi dua dimensi maupun layangan train naga dalam ukuran mini sampai yang super jumbo.
Kegiatan festival diawali dengan workshop pembuatan layangan sederhana yang diikuti oleh anak anak SDN Jagabaya 3 dan beberapa SD sekitar. Kegiatan workshop berlangsung selama 45 menit
Gino Vanollie terlihat sumringah melihat antusiasnya masyarakat memeriahkan festival layangan (Foto Ist/Helo)
Festival layangan terus berlangsung, satu per satu beragam layangan melayang di langit Kota Bandarlampung. Beberapa layangan tradisional sendaren/bapangan dan beragam layangan dua dimensi dengan bentuk simetris/asimetris mulai mewarna-warnikan langit kota ini.
Untuk kelas layangan aduan, 32 pelayang berlomba dengan sistem knock-out yang duelnya berakhir tepat pukul 13.30 WIB. Usai pertarungan layangan, giliran layangan train naga, yang rata rata berukuran jumbo mulai ikut memenuhi langit.
Baca juga: Balada PSIS Semarang, Sudah Kalah dari Persib lewat Dua Penalti juga Kehilangan Pemain Pilar
Salah satu layangan naga punya ukuran cukup ekstrim, dimana kepala naganya sebesar kepala mobil truk, badanya terdiri dari 150 keping yang masing masing berdiameter 90 cm, menjadikan train naga ini punya panjang lebih dari 150 meter dengan bobot tidak kurang dari 100 kg.
Jika angin berhembus kencang, perlu lebih dari 20 orang untuk menaikkanya, bahkan perlu alat berat untuk memancangnya.
Para pelayang nampak kompak dan bersemangat, sekalipun bermain di tanah yang tidak sepenuhnya rata, berbaur dengan tumpukan batu bahan bangunan.
Namun inilah salah satu lapangan sementara terbaik, ditengah semakin sedikitnya lapangan sebagai tempat bermain layang layang di kota Bandarlampung.
Budayawan Lampung Anshori Djausal yang akrab dipanggil Bang An) hadir bersama keluarga. Saat turut antusias dan memberi apresiasi tinggi.
"Saya bergembira, layangan Lampung kembali menggeliat. Kegiatan festival dan main bersama ini patut diapresiasi karena memberi ruang bagi para pelayang bertemu, saling mengenal, bertukar pengalaman dan bergembira bersama," ujar Bang An.
Baca juga: Guntur Romli Ngaku Keluar PSI Gegara Prabowo ke PSI, Ternyata Dia Sudah Caleg PDIP
Bang An lebih lanjut menjelaskan bahwa Lampung sejak tahun 90an adalah barometer kegiatan layang-layang sampai menggelar festival bertaraf internasional. Dengan modal peraih medali emas di ajang FORNAS dua tahun berturut turut adalah modal yang cukup untuk layangan Lampung bangkit.
Gino Vanollie optimis festival layangan bisa kembali bangkit. Agenda konsolidasi organisasi, kegiatan silaturahmi dan main bersama terus digalakkan, tak terkecuali kegiatan workshop.
Bendera Merah Putih ikut berkibar ke angkasa (Foto Gino/Helo)
Pada kegiatan kali ini Pelangi bersama PLN UID Lampung mencoba untuk terus mengkampanyekan bermain layangan yang aman, nyaman dan asyik. Melakukan edukasi kepada masyarakat untuk bermain layangan pada tempat yang seharusnya. Tidak bermain dikawasan permukiman, dekat jalan raya, terbebas dari jaringan listrik, tower.
Sedapatmungkin bermain layangan di lapangan yang aman, rata, tidak banyak lubang dan juga pokok pohon. Ini semua dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan baik bagi pelayang maupun masyarakat.
Sekalipun angin terus berhembus kencang sampai sore, namun satu per satu layangan harus kembali ke peraduannya. Langit terlihat kembali sepi, para pelayang undur diri untuk kembali esok hari menghiasi langit dengan beragam kreasi. (Rilis/HBM)