SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pemerintah selayaknya hadir dalam upaya pengembangan dan inovasi produk hasil kreasi warganya. Lewat dukungan itu, harapannya inovasi yang diciptakan warga dapat berkembang dan menular ke warga lainnya.
Lihatlah inovasi yang diciptakan warga Kota Semarang Kis Gantoro (57) yang tinggal di RT 05/ RW II Wonodri Semarang. Lelaki ini berhasil melahirkan inovasi produk pengolahan sampah organik.
“Saya mencoba mengolah sampah organik rumah tangga dengan teknologi sederhana yang harapannya bisa dimanfaatkan oleh warga,” ujarnya di Semarang, Selasa 8 Juli 2025.
Kreativitas Kis Gantoro berupa pemanfaatan galon bekas air mineral, ragi dan tanah, sampah organik yang diolahnya dengan cermat, hingga diubah menjadi media tanam siap pakai.
Jika biasanya pengolahan sampah organik diubah menjadi kompos, namun di tangan lelaki lulusan Teknologi Pertanian UGM ini, didesain langsung menjadi media tanam.
“Jadi nanti tidak perlu pupuk lagi, cukup sampah organik atau sisa daun. Dan waktunya cukup pendek, sekitar 3 minggu sudah bisa dipanen,” imbuh Sekretaris RW II Wonodri ini.
Soal teknik pembuatan, dia menyebut tidak perlu risau karena memang didesain sangat sederhana dan simpel dipraktikkan oleh warga.
Awalnya, cukup siapkan bekas galon air mineral yang dipotong ujungnya namun dengan tetap menyisakan ujung sebagai tutup nantinya. Setelah itu, masukkan sampah organik seperti sisa sayuran hasil olahan rumah tangga dan juga tulang-tulang kecil sisa ikan atau ayam, bisa juga sampah daun.
“Jangan tulang yang besar seperti tulang sapi atau kambing ya, karena akan lama proses urainya,” tambahnya.
Selanjutnya masukkan ragi khusus untuk sampah (Trichoderma dan Aspergillus niger) lalu tumpuk tanah di atasnya.
“Tidak perlu diaduk, biarkan saja selama tanahnya sudah menutup semua sampah di bawahnya,” imbuh Pak Kis, panggilan karibnya.
Tidak Berbau
Menariknya, teknologi yang diciptakan Kis Gantoro ini tidak berbau, tidak berair dan tidak memunculkan maggot sehingga tidak akan dikerubuti lalat.
Atas upayanya mengkreasikan teknologi pengolahan sampah ini, Kis Gantoro diganjar dengan penghargaan Juara 2 Kreanova tahun 2023 yang digelar Pemkot Semarang dan Brida (Badan Riset dan Inovasi Daerah).
“Di tahun 2019 saya juga pernah meraih juara 2 Kreanova atas inovasi kreasi membuat vertical garden,” ujar Pak Kisa bangga.
Sayang, lomba hanya sekadar lomba karena Pemkot Semarang tidak berupaya lebih jauh mengembangkan inovasi warganya. Tidak adanya pelatihan lanjutan bagi warga, kurangnya pemasaran serta sosialisasi dari kreasi warga, menjadikan temuan Pak Kis mandek.
Maka, dukungan Pemkot Semarang diperlukan. Apalagi Walikota Agustina Wilujeng saat ini sangat serius dengan isu lingkungan dimana salah satu programnya adalah pilah sampah di tingkat rumah tangga. (Aji)
