Helo Indonesia

Resolusi Seniman Lampung pada Art Camp 2024 DKL.

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Sabtu, 28 September 2024 13:59
    Bagikan  
DKL
Helo Lampung

DKL - Art Camp 2024 (Foto DKL/Helo)

LAMPUNG, HELO INDONESIA.COM -- Para penggiat seni Lampung mendeklarasikan "Resolusi Lampung Art Camp 2024” yang berisi tujuh poin pada kegiatan Lampung Art Camp 2024 di Wira Garden, Batu Putuk, Kota Bandarlampung, 24–26 September 2024.

Ketujuh poin dari seniman dari Tanah Lada berupa “Resolusi Lampung Art Camp 2024” yaitu;

Pertama, mendukung terbentuknya Kementerian Kebudayaan.

Kedua, memfasilitasi serta memberikan ruang diskusi dan ruang publik sebanyak-banyaknya bagi penggiat seni dan komunitasnya demi menghidupkan ekosistem kesenian di Provinsi Lampung.

Baca juga: Art Camp DKL 2024, Wadah Leburnya Beragam Seni dan Seniman

Ketiga, meningkatkan alokasi anggaran yang lebih berpihak pada gerakan seni di akar rumput (grassroots).

Keempat, menyelenggarakan silaturahmi dan pasar kesenian akbar yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Baca juga: Suhu Politik Naik, Ada Oase Pameran 77 Perupa di DKL PKOR Wayhalim

Kelima, mendorong terbitnya peraturan pemerintah daerah, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Keenam, melibatkan secara aktif peran dewan kesenian, pada proses penyusunan kebijakan pembangunan dibidang seni budaya.

Ketujuh, dalam membantu keberlangsungan seniman Lampung, pemerintah daerah wajib menyiapkan platform-platform digital untuk mempromosikan karya seniman secara luas.

undefined

Kepala Disparekraf Lampung Bobby Irawan mewakili Pj Gubernur Samsudin yang membuka kegiatan pertama ini pada Selasa malam (24/9/2024) dan ditutup Ketua Akademi Lampung (AL) Anshori Djausal, Kamis (26/9/2024).

Pada momen Lampung Art Camp 2024, Dewan Kesenian Lampung (DKL) sebagai penyelenggaranya mengingatkan kembali perjalanan panjang wadah para seniman Sang Bumi Ruwa Jurai pada 17 September 1993.

undefined

DKL lahir 31 Tahun lalu tetapnya 17 September 1993. "Mudah-mudahan DKL bisa lebih berperan penting dalam menumbuhkembangkan dan pemajuan kebudayaan di Provinsi Lampung,” kata Anshori Djausal.

Dia berharap Lampung Art Camp 2024 ini akan menjadi batu penjuru kegiatan Lampung Art Camp yang berikutnya, tak hanya berhenti pada momentum ini, tetapi harus terus berkelanjutan.

Anshori Djausal mengharapkan para seniman Lampung pada Lampung Art Camp berikutnya hadir dengan gagasan dan karya-karya yang lebih baik lagi dengan mengusung potensi dan kearifan lokal budaya Lampung.

undefined

Sementara itu, Ketua Umum DKL Profesor Satria Bangsawan tema yang diambil merupakan penguatan partisipasi masyarakat dalam membangun ekosistem kesenian di Lampung.

Kegiatan ini melibatkan berbagai aspek kesenian, terutama yang beririsan dengan Obyek kesenian meliputi 7 aspek, yaitu musik, tari, Seni teater sastra, film, seni rupa dan seni tradisi.

Dalam kemah seni budaya ini berbagai kegiatan digelar meliputi: Gathering, Workshop, Diskusi dan Performing Art.

Kegiatan ini lanjut lanjut, Satria even ini, membeberkan bertujuan membangun persahabatan lintas seni dan memperkaya perspektif mereka tentang cabang kesenian masing-masing.

Kemudian mendorong pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan tradisi dalam berkesenian yang ada di masyarakat Lampung.

Even ini juga dimaksudkan untuk memotivasi orang Lampung merayakan keunikan budaya mereka sendiri.

Kemudian memantik untuk menciptakan ruang bagi orang-orang dari berbagai latar belakang kesenian bertemu, berinteraksi, dan membangun pemahaman bersama.

Sebelumnya Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid, B.A., M.A., Ph.D dalam pidato kebudayaannya mengatakan, Lampung Art Camp 2024 ini berkumpul bukan untuk merayakan sesuatu yang lebih dari sekedar seni.

Tetapi, lanjutnya, tempat berkumpul untuk merayakan tanah lada simbol dari kekayaan alam Lampung yang selama berabad abad telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan budaya kita.

“Lampung sebagai tanah yang kaya akan warisan dan tradisi telah memberikan kontribusi besar dalam bentuk identitas bangsa kita," ujarnya.

"Merayakan Tanah Lada Menjalin Simpul Seni Budaya” adalah cerminan dari komitmen tak hanya menjaga warisan ini tetapi juga menjalin simpul simpul yang menyatukan seni dan budaya dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujar Hilmar dalam VT- nya.

Hilmar mengingatkan bahwa kebudayaan adalah denyut nadi masyarakat dan seni adalah maninfestasi dari jiwa yang hidup dalam kebudayaan tersebut.

Semua itu tertuang dalam UU Nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan kita memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya melestarikan tetapi juga memajukan kebudayaan Indonesia ditengah peradaban dunia.

“Tugas kita tak hanya sekedar menikmati karya seni tetapi bagaimana menjaga dan memajukan warisan budaya agar tetap hidup berkembang dan beradaptasi dengan zaman yang terus berubah,” pesan. (Christian Saputro)