HELOINDONESIA.COM - Kesehatan dan kebugaran tradisional Betawi sudah membudaya dan turun temurun dipraktikkan. Salah satu yang paling sering diterapkan adalah dalam pernikahan adat Betawi.
Dalam pernikahan terdapat proses yang tak bisa dilakukan dengan instan. Dimulai dari proses pra perkawinan yang terdiri dari delengin, lamaran dan putus.
Kemudian dilanjut dengan pelaksaan upacara palang pintu, ijab kabul, sembe penganten dan tundangan.
“Ada juga paska pernikahan. Terdapat tradisi pulang tige ari, negor dan laksa penganten,” terang Yahya Andi Saputra, praktisi kesenian Betawi dalam webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2024 pada Senin (18/11/2024).
Baca juga: Buntut Video Dinas Disusupi Kampanye Paslon, PDB Lapor ke Bawaslu Kendal
.
Menurut Yahya Andi Saputra, filosofi perawatan kesehatan tradisional Betawi merupakan warisan leluhur yang bertujuan untuk hidup seimbang penuh arti, berseri segar dan alami.
Ini juga dipraktikkan kepada kaum perempuan yang hendak melangsungkan pernikahan.
Salah satu prosesi pernikahan Betawi ada yang disebut dengan “piare tangas”.
Ini merupakan cara perempuan Betawi dalam menjaga kesehatan dengan lulur dan tangas atau kum (ramuan) , potong centung dan ngerik, malam pacar dan hari akad.
“Tangas atau disebut juga dengan kum adalah proses mandi kembang yang bisa memberikan banyak manfaat. Seperti membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang tertinggal di pori-pori kulit tubuh,” jelas Yahya Andi Saputra.
Selain itu, dengan kum tubuh pengantin juga menjadi harum. Sebab aroma mangir dan jamu yang dilulur dan diminumnya selama “dipiare” sudah berbaur dengan wangi gaharu yang keluar dari tubuh.
Baca juga: Sutradara Pesimistis Soal Sekuel film Crazy Rich Asians
“Sehingga tidak berkeringat ketika dirias atau saat duduk di puade,” tambah aktivis Lembaga Kesenian Betawi (LKB) ini.
Yahya Andi Saputra pun terang-terangan ramuan jamu yang digunakan penganten perempuan ketika hendak ke persinggahan.
Ramuan jamu itu terdiri dari pinang muda (areca catechu), tai angin (usnea barbata), biji kedaung (parkia roxburghii), kapulaga (elettaria cadamomum)
jahe (zingeberis officinale), kayu manis (cinamomum burmanii), secang (caesalpinia sappan), sereh (cymbopogon citratus/nardus) dan buah maja (aegle marmelos).
“Ramuan ini digodog sebelum diminum dan dilakukan sehari sebelum akad nikah,” tambah Penerima Penghargaan Kebudayaan Bidang Pelestari, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015 ini.
Baca juga: Makam dan Rumah Nia Kurnia Sari Gadis Penjual Gorengan Jadi Tempat Wisata, Netizen Sayangkan
Persiapan Tangas itu sendiri, menurut Yahya Andi Saputra, pertama menyiapkan peralatan yang perlu disediakan. Kedua, kembang setaman (7 rupa), ramuan tambahan yakni jeruk purut, pandan wangi, akar wangi, daun mangkokan, daun sereh, dll, paso gerabah, kursi rotan bolong-bolong atau bale pelupu (kursi yg bagian tengahnya diberi lubang), tikar pandan yang dilapisi bahan tipis atau brokat dg hiasan renda-renda keemasan dan penutupnya.
Sementara ramuan Tangas terdiri dari bunga mawar, kenanga, cempaka, melati Akar wangi (Andropogon zizanioides) Jeruk purut (Citrus hystrix) Sereh (Cymbopogon citratus), Pandan wangi (Pandanus amaryllfolium) Daun bluntas (Pluchea indica) Daun kemuning (Murraya paniculata) Serutan kayu secang (Caesalpinia sappan) Daun dilem (Coleus) Kulit buah delima (Punica granatum) Klabet (Trigonella foenum-graceum).
Dalam praktiknya dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, kembang setaman dan segenap ramuan dimasak dg air sampai mendidih lalu dituang ke dalam paso.
Kedua, calon pengantin perempuan duduk di atas kursi bolong-bolong dan di bawah kursi diletakkan paso yg mengepulkan uap.
Baca juga: Profil dan Biodata Lengkap Keisya Levronka
Ketiga, dikerudungi/ ditutupi dengan kain/tikar pandan berukuran 1 x 1 m dengan tutup di bagian atas, agar uap ramuan tidak keluar tertiup angin.
Keempat, Tangas dikerjakan sampe tukang piare yakin aroma ramuan telah meresap ke tubuh calon pengantin perempuan, yakni selama 15 menit, maksimal 20 menit.
