HELOINDONESIA.COM -Suku Batak memiliki akar tradisi kesehatan tradisional dan perawatan kecantikan yang disebut dengan Kusuk Batak.
Kusuk Batak ini bisa memberikan ketenangan jiwa dengan perawatan kecantikan dan tradisi pengobatannya.
Jadi bagaimanakah ketenangan jiwa yang diperoleh dari Kusuk Batak ini.
Prof Dr Rusmin Tumanggor, Guru Besar Antropologi Kesehatan Budaya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan bahwa dalam kepercayaan suku Batak, dalam jiwa manusia 14 unsur.
Baca juga: Kota Bandarlampung Terendam Banjir, Rumah Mobil Terseret Arus
Keempat belas unsur itu meliputi, pikiran, perasaan, pemahaman, pengenalan, pertimbangan, khayalan, insting beragama, insting kebutuhan biologi, karya cipta, ingin berprestasi, harga diri, kata hati, sosial dan pengambilan keputusan.
"Dari 14 unsur itu diharapkan akan tenang dengan adanya salah satu intervensi dari Kusuk Batak," ujar Prof Rusmin Tumanggor.
Dengan tenang jiwanya, lanjut Prof Rusmin Tumanggor, tentu akan berproses kepada anatominya. Yaitu kepalanya, lehernya, badannya tangannya, kakinya.
Kemudian diharapkan dia akan berubah dan berkembang sehingga nampak kecantikannya sebagai sebuah fisik yang didorong oleh unsur jiwa yang tenang.
Baca juga: Popsivo Polwan Catat Empat Kemenangan Beruntun usai Tekuk Livin di Proliga 2025
Dalam kepercayaan suku Batak, dengan jiwa yang tenang akan menimbulkan rasa percaya diri dan mampu berkreasi sebagaimana yang diharapkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Diungkapkan Prof Rusmin Tumanggor, wilayah suku bangsa Batak berada di Pulau Sumatera Utara. Terdiri dari kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Dairi, Karo dan Simalungun.
"Namun sekarang sudah menjadi banyak pemekarannya kepada kabupaten-kabupaten," papar Prof Rusmin Tumanggor.
Dalam sejarahnya, sambung anggota dari Indonesia Wellness Master Association (IWMA, suku bangsa Batak sudah dikenal sejak 5000 tahun.
Baca juga: Jembatan Wisata Sumur Putri Rungkat dan Hanyut Terbawa Banjir
Kota Barus yang kini berada di kabupaten Tapanuli Tengah menjadi salah satu pelabuhan internasional sebagai pusat perdagangan khususnya rempah-rempah berupa kapur barus, kemenyan, pala, cengkeh bahkan sutera.
Dengan demikian, kata Prof Rusmin Tumanggor, suku Batak sudah mengenal berbagai kebudayaan dan peradaban bahasa, komunikasi ekonomi, organisasi sosial spiritual keagamaan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian.
"Lambat laun barulah wilayah lainnya semakin dikenal di tanah Batak sampai dengan kondisi sekarang ini," ujarnya.
Yang menarik, Prof Rusmin Tumanggor juga menyinggung soal marga-marga Batak yang menjadi ciri khas kehidupan sosial suku bangsa Batak.
Baca juga: Begini Tanggapan PT PITS Terkait Aksi Demo dari GPMH, Simak!
"Catatan bagi kita yang sampai sekarang belum ada penelitiannya yang sangat mendasar yaitu marga-marga di Batak itu. Apakah memang sudah mulai dikenal sejak 5000 tahun yang lalu atau baru sekitar 3 atau empat abad yang lalu.
"Ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti ke depan," tandasnya.
