HELOINDONESIA.COM - Peranakan Semarang menjadi salah satu Ethnowllness Nusantara (Etna) yang merupakan hasil asimilasi budaya Tiongkok Singapura, Malaysia dan Indonesia.
"Jadi tradisi Etna Peranakan ini, sebetulnya mengadopsi beberapa kultur, tapi yang bagus-bagus," ujar Pakar Gizi, Dr med Dr Maya Surjadjaja, dari International Anti Aging Fellowship seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (6/5/2025).
Salah satu anggota di Indonesian Wellness Master Association (IWMA) mengungkapkan, karena terabsorsi pada waktu itu menjadi kohesif, united, dan menjadi satu dengan identitas Peranakan itu sendiri.
Dikatakan Dr Maya, di abad 15 di Semenanjung Malaysia, ada banyak kerajaan. Banyak kota-kotanya. Misalnya Siam (Thailand) dan mereka itu punya relasi dengan Tiongkok.
Baca juga: 27 Pabrik Stop Beli Singkong Sehari Setelah Aliansi Demo Hujan Batu
Kemudian di Jawa, saat Admiral Cheng Ho, Chinese muslim datang ke Malaka dan Jawa dari tahun 1405-1433 dengan menggunakan kapal.
Dan tahun 1459, kerajaan dari China memberikan satu princes pilihan bernama Hang Li Po sebagai hadiah kepada Sultan Malaka.
Dikutip dari Malay Annals, Hang Li Po dikirim oleh Dinasti Ming untuk menikahi Sultan Malaka bernama Mansur Shah.
"Hang Li Po ini bukan datang sendiri. Princes nya dikirim dengan juga membawa bangsawan dan pembantunya. Jadi datang sepaket," ujarnya.
Baca juga: Wamendagri Kunjungi Kendal, Tinjau Kesiapan Desa Margorejo untuk Kopdes Merah Putih
Dan Hang Li Po ini beranak pinak dan memberikan keturunan-keturunan, sehingga menjadi kelas tersendiri.
"Itulah yang dinamakan Peranakan.Dan terjadilah asimilasi budaya. Dan peranakan-peranakan ini pun terjadi migrasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura. Dan mereka memiliki kultur Peranakannya yang sama banget," ujarnya.
Di Indonesia, term ini sudah dipakai untuk keturunan di abad 15- 16. Mereka datang ke Nusantara di masa kolonial era dan mereka sangat social pervilage, kelasnya lebih tinggi dan disebut cabang atas.
Karena waktu itu ras Peranakan mengikuti politik dan ekonomi pemerintahan yang ada. Kalau di Malaya mereka tinggal di rumah-rumah British.
Baca juga: Pemprov Lampung Dukung Penuh Pendidikan Perawat Berkualitas dan Berbasis Nilai Keislaman
"Karena memang sosial ekonominya lebih baik dan di beberapa lokasi yang lain. Dan mereka mengadopsi sebagian kultur atau Nusantara secara custom dan berasimilasi sehingga menjadi budaya lokal yang khas yang disebut Peranakan," tandasnya.
