LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional menyatakan empat benda cagar budaya (BCB) dari Lampung naik peringkat nasional di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Keempatnya adalah (1) Prasasti Bungkuk, (2) Arca Pewujudan Bodhisattva, (3) Arca Megalitik Gunung Langkap, (4) Prasasti Dalung Bojong.
Ketua TACB Provinsi Lampung, Anshori Djausal mengucapkan terima kasih kepada TACB Nasional pada sidang pleno yang digelar secara daring. TACB Nasional di Jakarta sedangkan TACB Lampung dan Lampung Timur di Ruang Sidang Kantor Disdikbud Provinsi Lampung.

Ketua TACB Anshori Djausal dan Kepala BPK Lampung Kuswanto saat mengikuti sidang pleno peningkatan empat arca.
Dia dan anggota TACB Provinsi Lampung dan TACB Kabupaten Lampung Timur merasa terbayar perjuangan panjang selama ini untuk menjadikan keempat BCB mulai dari peringkat kabupaten, provinsi, hingga sampai peringkat nasional.
Menurut Anshori, keempat BCB tersebut memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang menjadi bagian penting perjalanan sejarah dan budaya Indonesia buat pemahaman dan pengembangan historis kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

TACB Lampung, TACB Lampung Timur, dan BPK Lampung
Pada sidang pleno yang dipimpin Dr. Junus Satrio Atmojo, peserta yang hadir dari TACB Provinsi Lampung adalah Anshori Djausal, Maskun, Diana Lisa, Hermansyah, dan Heni Astuti, M.IP yang sekaligus penjabat Kabid Kebudayaan Disdikbud Lampung.
Dari TACB Kabupaten Lampung Timur, hadir Ni Putu Galih Pratiwi, Kian Amboro, Ahmad Hambali, dan Roliyanti. Mereka didampingi wakil dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur. Hadir pula Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Lampung, Kuswanto.
Keempat BCB yang naik peringkat nasional jadi Cagar Budaya Nasional (CBN) berasal dari Kabupaten Lampung Timur:

(1) Prasasti Bungkuk
Prasasti berbahan batu andesit berukuran panjang 63 cm, lebar 63 cm, tinggi 70 cm, dan tebal 25 cm merupakan peninggalan Era Klasik (Hindu-Budha) yang ditemukan pada 25 Maret 1985 di Dusun Karanganyar, Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung
BCD ini memiliki 13 baris tulisan beraksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno yang tak terbaca utuh lagi akibat adanya kerusakan. Prasasti ini mirip dengan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Karang yang merujuk pada Kedatuan Sriwijaya di wilayah Lampung.
Prasasti Bungkuk yang berisi kutukan atau sapatha kepada ditemukan di Dusun Karanganyar, Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, 25 Maret 1985. Prasasti tersebut kini tersimpan di Rumah Informasi CBN Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur.

(2) Arca Pewujudan Bodhisattva
Arca perwujudan Bodhisattva terbuat dari batu andesit ini berukuran lebar 46 cm, tinggi 90 cm, dan diameter 65 cm merupakan peninggalan periode Klasik (Hindu-Budha) Abad XIV Masehi. Kondisi arca cukup baik ini terkait pengaruh politik dan kebudayaan Majapahit.
Secara historis, arca ini merupakan perwujudan seorang tokoh penguasa atau bangsawan lokal yang dimuliakan lewat bentuk Bodhisattva dilihat dari sikap tangan bhadragrimudra. Hal ini menunjukan masyarakat wilayah tersebut telah mengenal tradisi yang berhubungan dengan pusat-pusat peradaban Budha di Jawa.
Arca menunjukkan karakter ikonografi dan estetika yang khas, sekaligus menjadikan arca ini memiliki nilai kelangkaan dari segi tipologi, rancangan artistik, dan konteks arkeologisnya. Prasasti kini tersimpan di Rumah Informasi CBN Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur.

(3) Arca Megalitik Gunung Langkap
Arca yang terbuat dari batu andesit berukuran lebar 40 cm, tinggi 100 cm, dan diameter 47 cm yang diperkirakan peninggalan Abad XIV-XV Masehi awalnya dinamakan Arca Gramadewata. Setelah dikaji pada rapat pleno, namanya diganti jadi Arca Megalitik Gunung Langkap, sesuai lokasi ditemukannya.
Arca tersebut berbentuk antropomorfik yang menggambarkan sosok laki-laki dalam posisi duduk bersila di atas lapik berbentuk lingkaran polos. Kondisi arca tergolong baik. Meskipun terdapat indikasi keausan pada permukaan akibat faktor usia.
Secara keseluruhan, penggambaran anatomi yang kaku, proporsi tubuh yang tidak naturalistis, serta ornamen yang sederhana menunjukkan karakter seni lokal yang memadukan unsur tradisi setempat dengan pengaruh ikonografi Hindu-Buddha.

(4) Prasasti Dalung Bojong
Prasasti Dalung Bojong terbuat dari tembaga berukuran panjang 36 cm, lebar 24 cm, tebal 5 mm, dan berat 200 gram. Prasasti ini semacam Piagam logam yang dimilik dan disimpan jadi semacam pusaka secara turun dari keluarga Hasanuddin Waka di Desa Bojong, Kecamatan Sekampung Udik.
Keistimewaannya dengan prasasti serupa, Prasasti Dalung Bojong yang beraksara Arab Pegon berbahasa Jawa ragam Banten berisi 32 baris dan dapat dikelompokkan 11 pasal dengan baris terakhir berupa kolofon atau penutup yang memiliki tahun pembuatannya, yakni akhir tahun 1102 Hijriyah.
Prasasti ini berisi tentang regulasi tata kelola pejabat daerah, pengawasan aktivitas pelayaran dan perdagangan, kewajiban produksi lada, serta ancaman sanksi terhadap pelanggaran keamanan dan ketertiban. Dalam sidang, yang masih jadi pekerjaan rumah, bagaimana mengamankan prasasti tersebut sekaligus dapat "dinikmati' atau diapresiasi orang lain. (HBM)
