OLEH HERI WARDOYO*
KITA tiba di alam semesta ini seperti partikel mungil yang tersapu arus tak terbendung. Tanpa pilihan, kita muncul tepat di suatu titik dalam ruang dan waktu; bagian tarian kosmik yang terhampar miliaran tahun sebelum kita ada dan terus berlanjut lama setelah kita lenyap.
Atom dalam tubuh kita ditempa dalam inti bintang-bintang kuno yang meledak bermiliar tahun silam. Kita adalah hasil dari proses kelahiran dan kematian benda-benda langit, bagian dari arak-arakan materi yang berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain -- tanpa henti, tanpa putus.
Seperti kunang-kunang di jagat raya, kita bepergian bersama orang-orang lain, bersama orangtua kita, kerabat, saudara, bahkan juga lawan. Kita pun berkeliaran bersama bentuk kehidupan lain, dari bakteri tak kasat mata sampai gajah yang megah, bersama batu, lumut, laut, juga aurora; bersama meteor, planet, serta bintang, kuark, foton, supernova, dan lubang hitam, peluru dan telepon seluler, dan ... banyak sekali ruang kosong yang tak tepermanai banyaknya.
Arak-arakannya kaya, penuh warna, ramai dan misterius. Sebagai manusia, kelak kita akan meninggalkan itu semua. Tapi arak-arakan ini terus berlanjut. Lama sekali dari sekarang, arak-arakan itu akan pudar seperti hantu menjelang pagi, larut dalam samudera energi tempat asalnya.
Allah Maha Pencipta.
* Satupena Lampung
AGOES WIJANARKO
Agoes WIJANARKO bin Koesnan, wartawan senior yang memulai kariernya di SKH Lampung Post pada tahun '90-an dan terakhir Pemred Media Online hariansumatera.com wafat di Kota Bandarlampung, Rabu (19/3/2025) dan dimakamkan di Menggala, Kabupaten Tulangbawang. Innallilahi wainnailaihi rojiun.
RAMDHONI
Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah bin Chaerul Muluk, sastrawan, pemenang Hadiah Sastra Rancage 2018 di Kota Bandarlampung wafat pada Rabu (19/3/2025), pukul 19.32
Suntan Pangeran Indrapati Cakranegara VII ini akan dikebumikan di Kota Bandarlampung, Kamis (20/3/2025).
Sai Batin Marga Liwa kelahiran Solo, Jawa Tengah, 15 Juli 1981 ini menulis buku: Perempuan Penunggang Harimau (novel, 2011), Kitab Hikayat Orang-Orang yang Berjalan di Atas Air (kumpulan cerpen, 2012), Mirah Delima Bang Amat (kumpulan cerpen, 2017), Semilau (kumpulan sajak bahasa Lampung, 2017, yang meraih Hadiah Sastra Rancage 2018), Sihir Lelaki Gunung (kumpulan sajak, 2018), dan Kitab Pernong (kumpulan cerpen, 2022).