HELOINDONESIA.COM - Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah militer Israel melancarkan serangan terhadap jaringan terowongan milik Hizbullah di perbatasan selatan Lebanon.
Menurut laporan New York Post, terowongan sepanjang hampir 2 kilometer itu tidak hanya berfungsi sebagai jalur penyelundupan senjata tetapi juga sebagai markas pertahanan yang lengkap.
Pasukan Israel melaporkan bahwa mereka menemukan sejumlah besar senapan AK-47, bahan peledak, peluncur roket, senapan sniper, rudal anti-kendaraan, dan berbagai senjata lainnya di dalam terowongan tersebut.
Selain itu, terowongan ini dilengkapi fasilitas memadai seperti listrik, jaringan pipa, kamar tidur, kamar mandi, hingga cadangan makanan kaleng yang cukup untuk lebih dari 100 orang bersenjata.
Pasukan Israel menghadapi perlawanan dari anggota Hizbullah ketika mereka masuk ke dalam terowongan. Pertempuran sengit di ruang terbatas ini berakhir setelah pasukan Israel berhasil merebut kendali penuh.
Baca juga: 5 Agenda Vinicius Jr Setelah Menang Ballon d’Or 2024, Berpesta dan Berikan Jam Rolex Gratis
Dalam terowongan tersebut juga ditemukan perangkap dan ranjau, menunjukkan bahwa fasilitas ini didesain untuk pertahanan jangka panjang. Menurut Jerusalem Post, ledakan dalam serangan ini begitu kuat sehingga getarannya terdeteksi di 284 komunitas Israel dan Tepi Barat.
Israel Temukan Tiga Terowongan Lain yang Dibangun Hizbullah
Militer Israel mengklaim telah menemukan setidaknya tiga terowongan lain yang melanggar perbatasan dan merupakan bagian dari rencana Hizbullah untuk memperluas kontrol hingga ke wilayah Galilea, Israel utara.
Israel menyebut temuan ini sebagai bagian dari ancaman strategis Hizbullah terhadap keamanan nasionalnya dan meluncurkan serangan balasan terhadap Iran sebagai balasan langsung atas ketegangan yang meningkat.
Sebagai tanggapan atas serangan ini, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada 28 Oktober 2024 untuk membahas situasi di Timur Tengah. Mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional AS untuk Timur Tengah, Panikov, menekankan bahwa peran Amerika Serikat sangat penting dalam mengontrol eskalasi ini.
Dia mengatakan: “Jika pemerintahan Biden tidak mengambil langkah untuk menekan Israel agar tidak menyerang fasilitas nuklir atau energi Iran, keputusan Israel mungkin akan berbeda.”
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menepis spekulasi mengenai pengaruh Amerika atas tindakan Israel. Dalam pernyataan resminya, dia menegaskan bahwa pemilihan target Israel berdasarkan kepentingan nasional semata, tanpa campur tangan dari pihak luar.
Iran Siap Membalas, Peringatan dari Presiden Mesir
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran, menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerahkan hak untuk membalas serangan Israel. Ia meminta Amerika Serikat untuk menekan Israel agar tidak bertindak lebih jauh.
“Iran tidak akan menahan diri, dan kami berhak membela diri,” kata Baghaei, yang disertai dukungan dari Presiden Mesir yang menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk melindungi kedaulatannya.
Baca juga: Adik Bakar Kakak di Malang Gara-gara Kamar Mandi di Rumah Warisan
Di sisi lain, laporan dari platform media sosial X menyebutkan bahwa Iran siap melakukan balasan dalam waktu 24 jam dan mengancam akan menembakkan 4.000 rudal ke Israel. Meski informasi ini belum dapat dikonfirmasi secara independen, ancaman tersebut memicu kekhawatiran eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Presiden AS Joe Biden Mengimbau untuk Menahan Diri
Presiden AS Joe Biden menyerukan agar kedua belah pihak menghindari eskalasi yang dapat memicu perang besar di Timur Tengah. AS khawatir bahwa jika konflik antara Israel dan Iran terus memanas, hal ini dapat melebar menjadi konflik regional yang lebih luas, yang berpotensi menjerat negara-negara lain dalam pergolakan ini, termasuk Gaza yang saat ini juga berada dalam situasi tegang.
Serangan Israel Berhasil Melemahkan Pertahanan Iran, Kata Netanyahu
Pada 27 Oktober 2024, Netanyahu kembali menyampaikan pernyataan bahwa serangan Israel berhasil merusak kemampuan pertahanan Iran. Dia menegaskan bahwa operasi ini merupakan langkah preventif Israel untuk mengurangi ancaman di perbatasan dan melindungi warganya dari serangan kelompok militan yang berafiliasi dengan Iran.***