Makam Syekh Djangkung Ramai Dikunjungi Peziarah Setiap Akhir Pekan

Minggu, 24 November 2024 17:18
Ade
POPULER: Makam Syekh Djangkung atau Saridin yang terletak di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini begitu popular para peziarah. Foto: Dok

PATI, HELOINDONESIA.COM -Wisata religi Makam Syekh Djangkung atau Saridin yang terletak di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini begitu populer para peziarah. Tidak mengherankan, makam tersebut masih sangat ramai dikunjungi wisatawan.

Apalagi jika akhir pekan dan hari libur nasional, para peziarah semakin ramai mengunjungi makam yang terletak kurang lebih 17 Km dari pusat kota Pati ke arah selatan. Pengunjung hanya membutuhkan waktu 30 menit dari pusat Kota Pati. Begitu juga saat upacara haul yang menandai penggantian kelambu, di mana diadakan setiap tanggal 15 Rejeb Jawa.

Syekh Djangkung diperkirakan wafat pada 15 Rejeb 1563 tahun Saka. Syekh Djangkung dimakamkan di Desa Landoh, Kayen, Kabupaten Pati. Itulah sebabnya, setiap tanggal 15 Rejeb Jawa pun biasanya masyarakat menggelar buka luwur di makam Syeh Djangkung.

Istri Syekh Djangkung bernama Retno Jinolo dan RA Pandan Arum. Makam istrinya juga berada di kompleks makam Syekh Djangkung.

Kategori Sejarah

Di Profil Daya Tarik Wisata Kabuapten Pati 2024 yang dikeluarkan oleh Dinporapar Kabupaten Pati, Makam Syekh Djangkung masuk kategori sejarah dengan sun kategori religi. Ada 29 detinasi wisata yang diprofilkan oleh Dinporapar Kabupaten Pati, salah satunya kategori sejarah Makam Syekh Djangkung.

Syekh Djangkung juga dikenal sebagai tokoh penyebar agaman Islam di Pati pada abad ke-15. Sampai sekarang,  makam tersebut masih terawat hingga sekarang. Banyak peziarah, dari Pati maupun dari luar daerah, di makam yang berada di utara Pegunungan Kendeng ini.

Silsilah dari Syeh Djangkung ada beberapa versi. Di antaranya ada yang mengatakan Syeh Djangkung putra dari Sunan Muria. Namun, ada pula yang menyebut dia putra dari Ki Ageng Karingan yang ada di Tayu, Pati. Silsilah Syeh Djangkung ada dua versi, itu berbeda dengan silsilah yang ada di ketoprak.

Syekh Djangkung semasa remaja dikenal bernama Saridin. Saridin sempat berkelana sampai ke daerah Mataram yang saat itu sedang dilanda wabah dan peperangan. Saat bertemu Sultan Agung, Saridin yang memiliki kesaktian itu diminta membantu menangani wabah penyakit dan peperangan. Singkat cerita, Saridin dapat menunaikan tugasnya. Oleh Sultan Agung, dia diberi wilayah kekuasaan di Pegunungan Kendeng sebelah utara.

Wabah Penyakit

Syekh Djangkung dimintai adu kesaktian dan benar-benar memiliki kesaktian, kemudian diajak bergabung untuk menghadapi wabah penyakit dan peperangan itu. Lama kemudian itu dinikahkan dengan kakak Sultan Agung yang bernama Retno Jinoli.

Ceritanya dulu sini masih hutan masih gunung, kemudian Syekh Djangkung itu diberi kekuasaan separuh atau gunung sebelah utara Gunung Kendeng ke utara wilayah Syekh Djangkung. Gunung Kendeng ke selatan wilayah Sultan Agung. Ada pembagian wilayah masing-masing.

Syekh Djangkung juga sempat berguru kepada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Saat menjadi murid Sunan Kudus, Syeh Djangkung sering memamerkan kesaktiannya kepada para santri lainnya. Sunan Kudus pun tidak suka terhadap sikap Syekh Djangkung tersebut.

Konon, Sunan Kudus, tak mau menerima Syekh Djangkung menjadi muridnya karena sifatnya yang suka pamer kesaktian. Karena sifat tersebut tidak disukai oleh Sunan Kudus, sifat tersebut dianggap mencerminkan kesombongan. (ADE)






 

Berita Terkini