JAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Dalam produksi sebuah film, baik fiksi maupun dokumenter, tenaga riset sangat dibutuhkan demi membuat konten yang kaya data dan akurat.
Tenaga riset tidak hanya membantu dalam memahami budaya dan konteks lokal, tetapi juga memastikan bahwa cerita yang diangkat relevan dan otentik, sehingga dapat diterima oleh audiens di dalam maupun luar negeri.
Pentingnya mutu sebuah film, membuat rumah produksi mengikutsertakan tenaga riset untuk membantu mereka menyusun cerita dan skenario yang kuat, yang tidak melenceng dari nilai-nilai aktual.
Baca juga: Bedah Buku Pendidikan Pancasila, Supari: USM Itu Indonesia Banget
Terlebih rumah produksi asing atau yang berkelas internasional, yang ingin membuat film dokumenter atau fiksi dengan latar belakang lokasi dan budaya di Indonesia, pasti akan merekrut tenaga riset lokal untuk membantu menyusun kekuatan ceritanya.
Kisah Periset Dodid Wijanarko
Salah satu periset Indonesia yang sudah lama berkecimpung di dunia film adalah Dodid Wijanarko.
Sudah hampir 10 tahun, Dodid membantu rumah produksi, baik lokal Indonesia maupun yang dari luar negeri dan bertaraf internasional, untuk menyusun data film fiksi, non-fiksi, dan juga dokumenter.
Awal karier Dodid memang dari dunia perfilman, menjadi sutradara berbagai film dokumenter.
Saat akan membuat film-film dokumenternya, ia akan melakukan sejumlah riset untuk memperkaya konten.
Ia pun berkeliling ke berbagai pulau, terbang ke banyak kota di Indonesia, untuk mengumpulkan data dari beragam narasumber, baik masyarakat lokal, pemegang kepentingan di suatu daerah, atau pelaku seni dan budaya.
“Dari situlah awalnya, saya merasa banyak hal menarik saat melakukan riset untuk sebuah film dokumenter,”ujarn dia dalam keterangannya Selasa 29 Oktober 2024.
Data yang didapatkannya pun ia kumpulkan untuk proyek-proyeknya sendiri. Hingga akhirnya, berkat kekuatan getok tular, keahliannya itu banyak “didengar” pihak asing.
Kerja sama dengan Rumah Produksi Asing
Proyek kerja sama dengan rumah produksi asing pertamanya adalah dengan kementerian desain Singapura.
Kala itu, seorang teman memintanya melakukan riset untuk program dari kementerian desain Singapura, tentang mengukur kebahagiaan masyarakat Indonesia.
“Di situ, saya bekerja dengan kru film dari Singapura dengan latar berlakang yang berbeda-beda, seperti desain grafis, sosiolog, dan pakar komunikasi. Itu awal mula saya akhirnya memutuskan terjun jadi periset, meski masih tetap menyutradari dokumenter,” ujar laki-laki kelahiran 19 Oktober ini.
Begitu terjun ke dunia riset untuk film, Dodid pun semakin sering mendapat tawaran kerja sama dari banyak rumah produksi asing.
Baca juga: Hermansyah Bakri Berjaya di Turnamen Biliar Antarmedia 2024
Sebut saja seperti James Morgan Film UK, BHP Singapore, MSG Sphere-US, Indocina Bangkok, ZDF Digital Jerman, Silverback-UK, Kementerian Design, Singapore, Emergency Picture-US, Imagine Picture-US.
Beberapa proyek film besar sudah digelutinya. Seperti dokumenter Netflix Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, David Blaine Do Not Attempt produksi National Geographic, dokumenter Australia Au Lorun-I Am Weaving, dan beberapa dokumenter soal kekayaan alam Indonesia seperti kehidupan orang utan.
“Saat ini saya sedang melakukan riset untuk dua film fiksi Indonesia dan 3 dokumenter dari rumah produksi internasional,” papar Dodid.
Menurut Dodid, tak hanya film dokumenter saja yang butuh riset. Film fiksi juga membutuhkan data riset untuk memperkuat akurasi cerita, penguatan karakter dan tokoh, juga penguatan soal lokasi dan budaya-budaya lokal.
Salah satu proyek film fiksi yang lagi digarapnya, awalnya sudah jalan proses produksi, yaitu pengerjaan skenario.
Namun sang sutradara mentok pada beberapa hal, pada beberapa titik cerita yang ternyata butuh data akurat. Seperti soal proses hukum, dan soal kehidupan tokoh perempuan yang berasal dari suku tertentu.
“Karena beda suku dan daerah, akan beda karakternya. Orang pesisir dan gunung tentu saja beda. Nah di sinilah, peran tenaga riset dibutuhkan,”ujar Dodid.
Ada kalanya, selepas data riset dikumpulkan, seluruh skenario harus dibangun ulang demi keakuratan cerita.
“Apalagi film sejarah, butuh riset visual, hubungan antar-tokoh, setting lokasi dan tahun, sisi pertemanan antar-tokoh, dan lain-lain.”
Tantangan Riset Film
Banyak tantangan yang dihadapi periset untuk memgumpulkan data bagi proyek film.
Pertama, tenaga riset acap kali harus masuk ke lokasi-lokasi yang masih “perawan”, keluar masuk hutan di pedalaman Indonesia.
Kemudian, tenaga riset juga harus bisa melakukan pendekatan kultural ke masyarakat lokal demi bisa memperoleh data yang lengkap.
“Pendekatan ini bisa dilakukan 3-4 hari dengan sekadar ngobrol santai dengan mereka.”
Tak jarang, ada penolakan-penolakan dari masyarakat lokal. Tapi hal ini bisa diatasi saat tim periset bisa menyampaikan dengan baik soal tujuan positif dari film, atau mengikutsertakan masyarakat untuk andil sebagai kru film.
Sementara itu, tantangan paling riskan adalah ketika harus menggarap proyek yang sifatnya investigasi, seperti dokumenter soal kasus Kopi Sianida Jessica Wongso, atau soal hal-hal sensitif seperti kehidupan orang utan di hutan Kalimantan.
“Padalah dokumenter soal orang utan ini banyak sekali manfaatnya, kami bisa menyebar awareness soal pentingnya menjaga hutan demi kelangsungan ekosistem orang utan,” papar Dodid.
Melalui segala tantangan dan rintangan, jika data sudah terkumpul, maka tugas penting periset berikutnya adalah merumuskan data dan mencari beberapa angle atau fokus yang paling layak dan menarik untuk diangkat.
Sayangnya, meski peran tenaga riset sangat krusial dalam pembuahan sebuah film, namun jumlah periset di Indonesia masih teramat minim.
Hal itulah yang membuat Dodid berinisiatif mendirikan kelas riset di bawah payung Do Research.
“Karena Indonesia ini kaya dengan keanekaragaman suku, budaya, satwa, dan faunanya. Hal itulah yang membuat rumah produksi asing selalu berminat menggarap proyek film berbau Indonesia. Hal ini seharusnya membuat dunia riset Indonesia makin berkembang,”pungkas Dodid. (Aji)
