HELOINDONESIA.COM -Sejumlah kendaraan buatan China dilaporkan mengalami persoalan pada komponen roda dan suspensi. Kerusakan yang mencakup komponen struktural tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya ditemukan di pasar domestik China, tetapi juga dilaporkan terjadi pada kendaraan yang beredar di sejumlah negara, termasuk Malaysia, Rusia, dan Indonesia.
Persoalan ini turut menjadi sorotan kalangan mekanik. Mereka tidak hanya menghadapi kerusakan komponen, tetapi juga kesulitan dalam proses pembongkaran dan perbaikan akibat rancangan konstruksi kendaraan yang dinilai kurang memperhatikan aspek kemudahan perawatan.
Salah satu mekanik membagikan pengalamannya ketika menangani mobil yang mengalami patah pada bagian sasis bawah. Dalam rekaman yang beredar, ia memperlihatkan kerusakan tersebut sekaligus mengkritik kualitas rancangan komponen kendaraan.

"Lihat, patah lagi kan. Saya tidak berani menyebutkan model mobil apa ini. Desainer ini tidak hanya memangkas bahan, tetapi juga sangat bodoh," keluhnya.
Menurut mekanik tersebut, salah satu persoalan utama terletak pada pemilihan material komponen suspensi. Ia membandingkan konstruksi kendaraan tersebut dengan mobil lain yang menggunakan material lebih kokoh.
Pada umumnya, menurut penjelasannya, komponen suspensi kendaraan lain menggunakan paduan aluminium padat hasil penempaan. Sementara itu, komponen pada mobil yang sedang diperbaikinya disebut menggunakan pelat besi tipis hasil pencetakan.

"Suspensi mobil lain menggunakan paduan aluminium padat yang ditempa, sementara dia menggunakan cetakan pelat besi tipis. Naik ke pinggiran trotoar saja bisa membuat as roda belakang bengkok," ujarnya, sebagaimana dilansir Whats.in.China.
Selain persoalan ketebalan dan kekuatan material, mekanik itu juga menyoroti desain pemasangan komponen di bagian bawah kendaraan. Menurutnya, harga suku cadang pengganti sebenarnya relatif murah. Namun, proses penggantian justru menjadi rumit karena posisi baut dan sekrup tidak dirancang agar mudah dilepas.
"Kalau patah ya diganti saja. Komponen ini setipis apa pun tidak akan sampai dua ratus nilainya, seharusnya tidak mahal. Tapi saudara-saudara, bagaimana cara membongkarnya? Sekrup tidak bisa dicabut, baut kiri kanan tidak bisa ditarik keluar," tambahnya.
Kondisi tersebut membuat mekanik harus melakukan pembongkaran lebih luas untuk mengganti komponen yang rusak. Pekerjaan yang semestinya dapat diselesaikan dalam waktu singkat akhirnya membutuhkan waktu dan tenaga tambahan.
"Pekerjaan yang jelas-jelas bisa diselesaikan dalam sepuluh menit, malah mengharuskan kita membongkar as roda belakang, melipatgandakan waktu pengerjaan," tegasnya.
Kritik mekanik tersebut pada akhirnya tidak hanya ditujukan pada kualitas material, tetapi juga filosofi perancangan kendaraan. Ia menilai desain yang dibuat tanpa mempertimbangkan kemudahan perbaikan justru membebani konsumen dan teknisi bengkel.
"Desainer dari negara lain membuat desain sekadar untuk mencari uang, desainer ini tidak hanya untuk menipu uang, intinya benar-benar menyusahkan," pungkasnya.
Keluhan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas kendaraan tidak cukup dinilai dari harga jual, fitur teknologi, maupun tampilan eksterior. Kekuatan material, ketahanan komponen keselamatan, serta kemudahan perawatan juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan konsumen sebelum membeli kendaraan.***(AGj)
