Helo Indonesia

Menjemput Kehadiran Tangis Bayi, dr. Imam Ghozali Siapkan Fertility Center di RSUDAM

Herman Batin Mangku - Ragam -> Kesehatan
1 jam 19 menit lalu
    Bagikan  
RSUDAM
HELO LAMPUNG

RSUDAM - Ilustrasi

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Ada pasangan yang datang ke rumah sakit membawa keluhan. Ada pula yang datang membawa sesuatu yang jauh lebih sunyi: harapan. Harapan untuk mendengar tangis bayi dari rumah yang selama bertahun-tahun terasa terlalu senyap.

Bagi pasangan yang menghadapi persoalan fertilitas, perjalanan menuju hadirnya seorang anak bukan perkara sederhana. Ada pemeriksaan, konsultasi, penantian, keputusan medis, bahkan tidak jarang perjalanan panjang ke berbagai fasilitas kesehatan.

undefined

Di tengah perjalanan itulah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung tengah menyiapkan layanan baru: Klinik Fertilitas atau Fertility Center. Bukan sekadar ruang konsultasi, Fertility Center diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan yang lebih terintegrasi di RSUDAM.

Di balik arah pengembangan tersebut ada sosok Direktur RSUDAM, dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes. Di bawah kepemimpinannya, pengembangan layanan diarahkan secara bertahap. Bukan hanya membangun fasilitas, tetapi menyiapkan ekosistem pelayanan yang mencakup dokter, tenaga kesehatan, teknologi, sarana-prasarana, sistem informasi hingga standar keselamatan pasien.

Sebab rumah sakit, bagi Imam Ghozali, pada akhirnya bukan sekadar bangunan tempat orang berobat. Ia adalah tempat orang menitipkan harapan. Fertility Center dirancang dimulai dari sesuatu yang paling mendasar: mendengarkan dan memahami persoalan pasien.

Konsultasi kemudian dilanjutkan dengan evaluasi dan pemeriksaan sesuai kebutuhan. Di antaranya pemeriksaan ginekologi, USG transvaginal, pemeriksaan dan analisis sperma, serta pemeriksaan penunjang lainnya.

Tidak ada satu jalan yang berlaku sama bagi semua pasangan. Hasil pemeriksaan menjadi dasar bagi dokter menentukan penatalaksanaan sesuai kondisi dan indikasi medis.

Dari sana, roadmap pelayanan reproduksi berbantu disiapkan secara bertahap. Mulai dari natural cycle, kemudian Intrauterine Insemination (IUI), hingga pengembangan menuju In Vitro Fertilization (IVF).

Setiap tahap membutuhkan kesiapan.
Kesiapan fasilitas. Kesiapan dokter dan tenaga kesehatan. Kesiapan laboratorium. Kesiapan sistem pelayanan. Dan yang tidak kalah penting, kesiapan rumah sakit menjaga keselamatan pasien.

Karena itu, pengembangan Fertility Center tidak dibangun dengan logika serba cepat, disusun bertahap.

Ketika Teknologi Bertemu Kemanusiaan

IUI menjadi salah satu layanan yang dipersiapkan. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan sperma yang telah melalui proses preparasi ke dalam rahim menggunakan kateter khusus, pada waktu yang disesuaikan dengan proses ovulasi.

Namun di balik prosedur medis itu ada manusia. Ada pasangan yang mungkin telah menunggu bertahun-tahun. Ada kecemasan sebelum pemeriksaan. Ada harapan setelah tindakan. Dan ada pula kemungkinan harus kembali menjalani proses berikutnya.

Karena itu, pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. RSUDAM menempatkan edukasi pasien, ketepatan identitas, privasi, keamanan, dokumentasi serta informasi mengenai persiapan dan tindak lanjut sebagai bagian penting dari sistem pelayanan.

Teknologi boleh semakin maju.
Tetapi pasien tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa digantikan mesin: rasa aman dan kepercayaan.

Bukan Hanya Soal Fertilitas

Fertility Center juga tidak dirancang sebagai layanan yang berdiri sendiri.Roadmap RSUDAM mengarah pada pengembangan ekosistem kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan. Di dalamnya termasuk layanan gangguan haid dan menopause, endometriosis, serta Center Endometriosis & Minimally Invasive Gynecology.

Dengan konsep tersebut, pasien diharapkan tidak berjalan sendiri dari satu layanan ke layanan lain.Asesmen, pemeriksaan, penatalaksanaan hingga tindak lanjut dirancang dalam alur pelayanan yang semakin terintegrasi.

Di sinilah rumah sakit mencoba mengubah cara pandang: pasien bukan sekadar nomor rekam medis, melainkan seseorang yang memiliki perjalanan penyakit, kebutuhan, kecemasan dan harapan yang harus dipahami secara utuh.

Imam Ghozali dan Rumah Sakit yang Terus Bergerak

Menjadi direktur rumah sakit rujukan terbesar milik Pemerintah Provinsi Lampung bukan pekerjaan ringan. Ada ribuan pasien yang datang dengan persoalan berbeda. Ada dokter dan tenaga kesehatan yang harus terus dikembangkan kompetensinya.

Ada fasilitas yang harus dipersiapkan. Ada teknologi yang harus mengikuti zaman. Dan ada sistem pelayanan yang harus terus diperbaiki. Dalam konteks itulah pengembangan Fertility Center menjadi bagian dari arah kepemimpinan dr. Imam Ghozali.

Ia mendorong agar pengembangan layanan tidak dilakukan hanya karena mengejar label baru, tetapi berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kesiapan rumah sakit. Karena itu, pengembangan SDM menjadi bagian penting.

Tim yang dipersiapkan melibatkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (FER), perawat, tenaga laboratorium dan andrologi, tenaga administrasi serta unit terkait lainnya. Pelatihan dan peningkatan kompetensi pun menjadi bagian dari tahapan penguatan layanan.

Dari sisi fasilitas, rancangan pengembangan mencakup ruang konsultasi, pemeriksaan dan monitoring, ruang tindakan, fasilitas operasi dasar, laboratorium andrologi dan embriologi serta fasilitas pendukung lainnya.

Sementara integrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) diarahkan untuk memperkuat pencatatan, pelaporan, keamanan data dan kesinambungan pelayanan.Semua itu menunjukkan satu hal: membangun layanan kesehatan ternyata bukan sekadar membeli alat atau menyiapkan ruangan.

Bagi pasangan yang bertahun-tahun menunggu kehadiran buah hati, istilah itu bisa memiliki arti yang jauh lebih dalam. Di balik sebuah konsultasi mungkin ada doa. Di balik sebuah pemeriksaan mungkin ada kecemasan. Di balik sebuah tindakan mungkin ada harapan. 

Dan di balik sebuah rumah sakit, ada tanggung jawab untuk menjaga semuanya dengan ilmu pengetahuan, ketelitian dan kemanusiaan. Itulah arah yang tengah dibangun RSUDAM.

Di bawah kepemimpinan dr. Imam Ghozali, pengembangan Fertility Center menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang rumah sakit untuk memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan di Lampung.

Bukan janji bahwa semua harapan akan berakhir dengan hasil yang sama.
Sebab dunia medis tidak mengenal kepastian seperti itu.

Tetapi setidaknya, ketika layanan disiapkan dengan tenaga profesional, fasilitas yang memadai, sistem yang terintegrasi dan standar keselamatan yang kuat, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperjuangkan harapannya di rumah sendiri.

Di RSUDAM, harapan itu sedang disiapkan sebuah rumah. Namanya Fertility Center. Dan di balik persiapannya, ada sebuah ikhtiar yang lebih besar: menjadikan rumah sakit bukan hanya tempat menyembuhkan tubuh, tetapi juga tempat manusia merasa bahwa harapannya didengar. (Humas RSUDAM)