✕

Kiat Pakar RSUP Kariadi Lindungi Keluarga dari Ancaman Kesehatan Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 20:36
dr Thomas Handoyo dan dr Moh Syarofil Anam

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan atau hambatan jarak pandang, melainkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Partikel mikro halus dalam asap mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga ke paru-paru.

Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi di wilayah terdampak karhutla sepanjang 18 Agustus hingga 21 September 2026. Yang lebih memprihatinkan, 40.363 kasus di antaranya dialami oleh anak usia balita.

Baca juga: Polda Metro Jaya Membongkar Pabrik Pembuatan Obat Keras Ilegal, 2 Pelaku Utama Masih Buron

Data yang diberitakan oleh ANTARA pada 22 September 2026 tersebut menggambarkan betapa besarnya dampak krisis udara bersih di daerah terdampak. Meski angka tersebut merangkum total kejadian ISPA di wilayah tersebut--bukan secara individual membuktikan seluruhnya murni akibat asap-- kehadiran paparan asap karhutla memperburuk kondisi kesehatan pernapasan warga.

Bahaya asap dan langkah perlindungannya dibahas dalam Instagram Live Unlimited Talks bertajuk “Ancaman Asap Karhutla bagi Kesehatan”, Minggu, 18 Oktober 2026. Dipandu host Unik Oke, diskusi ini menghadirkan dr Thomas Handoyo SpPD-KPMK, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam konsultan pulmonologi dan medik kritis RSUP Dr. Kariadi Semarang, serta Dr dr Moh. Syarofil Anam, MSiMed SpA, dokter spesialis anak RSUP Dr Kariadi Semarang sekaligus Ketua IDAI Cabang Jawa Tengah.


DokterThomas menjelaskan, paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu peradangan. Gejalanya bisa berupa batuk, iritasi hidung, rasa tidak nyaman di dada, hingga gangguan pernapasan. Anak balita, lansia, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta orang dengan penyakit kronis atau daya tahan tubuh yang terganggu perlu lebih waspada.

Waspadai Napas Cepat dan Berat

Keluhan yang menetap atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperiksakan. Jika terjadi sesak napas berat atau kondisi memburuk dengan cepat, pertolongan medis harus segera dicari.

Anak-anak menghadapi risiko tersendiri karena organ pernapasannya masih berkembang. Menurut Dr dr Moh. Syarofil Anam, partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan berisiko memperburuk kondisi anak yang memiliki asma atau penyakit paru lainnya.

Orang tua perlu mewaspadai napas yang cepat atau berat, tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, bibir membiru, penurunan kesadaran, atau anak tidak mampu minum. Gejala tersebut merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera. Batuk dan demam juga perlu dinilai dengan cermat karena gangguan pernapasan tidak selalu disebabkan oleh paparan asap; infeksi atau kondisi medis lain juga dapat menjadi penyebabnya.

Perlindungan paling penting bagi anak adalah mengurangi paparan. Bayi berusia di bawah dua tahun tidak dianjurkan memakai masker, sehingga perlu dijauhkan dari asap dan udara tercemar. Untuk anak yang lebih besar, masker yang sesuai dapat menjadi perlindungan dalam situasi tertentu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan menghindari aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara sangat buruk. Pemenuhan gizi dan imunisasi sesuai jadwal juga penting untuk menjaga kesehatan anak.

Baca juga: Basyarnas MUI Jateng Direvitalisasi, Eman Sulaeman Siap Hadirkan Solusi Hukum Akuntabel

Dalam sesi tanya jawab bersama Unik Oke, dr Thomas turut meluruskan anggapan bahwa banyak minum air putih dapat membersihkan paru-paru dari asap. Menjaga kecukupan cairan memang penting, tetapi minum air bukan cara langsung untuk menghilangkan partikel asap yang sudah masuk ke saluran pernapasan. Langkah utama tetap mengurangi paparan.

Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, terutama aktivitas fisik berat. Tutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan rumah. Jika tersedia dan sesuai kebutuhan, alat pembersih udara dengan penyaring HEPA dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. Pantau pula informasi kualitas udara dari sumber resmi agar aktivitas dapat disesuaikan dengan kondisi.

Bagi penderita asma atau penyakit kronis, pengobatan perlu tetap dijalankan sesuai anjuran dokter. Jangan mengubah atau menghentikan obat sendiri. Jika keluhan muncul atau kondisi penyakit memburuk, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Melalui Unlimited Talks, kedua narasumber mengingatkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat. Data kasus ISPA di wilayah terdampak menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan. Mengurangi paparan, mengenali tanda bahaya, dan mencari pertolongan medis pada waktunya merupakan langkah penting. (Aji)

Berita Terkini