Oleh Prof. Sudjarwo *
JUDUL tulisan ini bukanlah judul lagu yang sangat populer dari grup musik Panbers tahun 1970, tapi terinspirasi judul berita Helo Indonesia Lampung tentang kepiluan para pedagang UMKM yang berharap mengais rezeki tapi puput akibat lampu padam hingga tengah malam di Pekan Raya Lampung (PRL), Senin (9/10/2023).
Seakan, hilangnya malam itu melengkapi malam-malam sejak pembukaan PRL, Jumat malam (6/10/2023), para pengunjung tak meledak seperti acara serupa tahun-tahun sebelumnya. Padahal, para pedagang itu menyewa jutaan berharap dagangannya laris manis, balik modal dan sisa buat ngangsur sumbangan komite anak sekolah.
Terlepas dari siapa yang salah, panitia atau PLN (sudah dibantah pihak PLN), mari kita berkontemplasi sejenak untuk merenungkan situasi ekonomi rakyat yang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Kemarau sejak tiga bulan lalu dan diprediksi baru hujan bulan depan telah berdampak pada hasil pertanian rakyat.
Baca juga: Pilu, Para Pedagang UMKN Pekan Raya Lampung Sepi Lampu Padam
Daya beli masyarakat terjun bebas. Bantuan langsung tunai (BLT) yang juga tidak semua warga mendapatkannya hanya penghilang dahaga sejenak. Mereka harus berjuang keras agar bisa memasak beras dan lauk seadanya. Roda ekonomi petani berputar lambat dan berdampak pada sektor jasa masyarakat perkotaan.
Bagaimana mau ke PRL jika tiket masuknya lumayan buat satu dua kilo beras, belum lagi rengekan anak-anak kuliner atau belanja sesuatu yang dijajaki pada pedagang UMKM maupun kaki lima.
Mereka yang datang kemungkinan masyarakat lapisan tertentu, bukan rakyat kebanyakan. Bisa jadi ada instruksi sehingga perlu datang setor muka dan pulang.
Baca juga: Bakar Sampah, Rumah Kos Ludes di Labuhan Ratu, Kedaton
Rakyat saat ini tidak perlu hiburan yang konsumtif. Mereka memerlukan biaya untuk bertahan hidup. Harga beras yang melonjak saja sudah membuat mereka terpukul, terhenyak dari buaian yang didengung-dengungkan: pertanian makin jaya, pembangunan berhasil, rakyat makin sejahtera, bla bla bla.
Wong cilik hanya nerimo. Mereka ikhlas dengan pasrah bahwa semua ini kehendak Tuhan yang harus diterima dengan sabar dan terus ikhtiar. Protes, bisa-bisa dicap tak propemerintah.
Mari kita berkunjung ke-pasar-pasar tradisional, dengarkan keluhan mereka, dan tanyakan pada diri sudah berbuat apa kita untuk mereka. Di Pasar tradisional Wayhalim saat ditanyakan apakah mereka pernah berkunjung ke Pekan Raya Lampung?
Ternyata dari sepuluh pedagang ditanya secara acak; tidak satupun mereka pernah datang; bahkan mereka berkomentar lebih penting berhemat saat ini, karena belum tentu jualan besok ada yang membeli.
Baca juga: Bawaslu Mesuji Sudah Kumpulkan Semua Bukti Keterlibatan Kades Sinarlaga Ikut Timses Caleg
Biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan PRL sudah seharusnya dialihkan menjadi Pekan Hujan Lampung (PHL). Upaya teknologi rekayasa awan, yang Indonesia adalah paling jago melakukannya, sebaiknya itu dilakukan saat ini guna membasahi Sang Bumi Ruwa Jurai.
Serahkan upaya rekayasa itu kepada perguruan tinggi dan ahlinya dari lembaga lain, dan beri pendanaan yang diperlukan; sehingga manfaat akan hujan itu berdampak lanjut pada kehidupan ekonomi rakyat.
Rakyat sudah lelah mendengar narasi-narasi yang hanya enak terdengar di telinga. Giliran ditagih, pemerintah daerah mengatakan itu kewenangan pusat. Pemerintah pusat dengan manis mengatakan kewenangan pemerintah daerah.
Akhirnya leher rakyat yang sakit karena matanya nanar melihat bola liar antara pusat dan daerah. Lebih celaka lagi, jika ada yang kritis melihat persoalan, maka dengan ringan di beri label: nyinyir, sok pintar, dan paling ujung antipemerintah, bahkan tidak segan memberi label radikal.
Baca juga: Bawaslu dan Pemkab Tulangbawang Sama-Sama Jaga Netralitas ASN
Orang seperti ini ramai-ramai dijauhi, dimusuhi, bila perlu diberondong lewat buzzer agar citra pemerintah tetap indah di mata dunia maya.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, justru mari kita kembali keeksistensi, bahwa kita adalah pelayan rakyat. Jika rakyat mengalami penderitaan seyogyanya pemimpin yang peka akan terkena pilu terlebih dahulu. Tidak salah jika kemudian kita bertanya: Pekan Raya Lampung itu milik siapa, buat siapa?
Manakala hajatan itu hanya untuk pemuas segelintir orang demi capaian anggaran dan pendapatan saja, maka perlu evaluasi. Terimakasih HBM yang selalu melihat persoalan dari perspektif lain, sehingga menjadikan hidup lebih hidup.
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
