Oleh Gufron Aziz Fuadi
KALA itu, Jumat pagi, 5 Januari 1996, helikopter militer Israel berputar-putar di langit Beit Lehiya. Tak lama kemudian, telepon genggam Yahya Ayasy berdering dan pada saat yang sama bom meledak. Yahya Ayasy, ahli perakit bom yang paling dicari Israel, syahid.
Ratusan ribu rakyat Palestina meratapi kepergiannya. Gema adzan, takbir seolah tak hendak berhenti bergema di langit Palestina. Ribuan pemuda yang datang bergelombang untuk mensalatkan jenazahnya ditangkap militer Israel. Seperempat juta warga mengiringi mengantar jenazahnya. Ribuan orang membanjiri jalanan sepanjang 40 km.

Gufron Aziz Fuadi
Spanduk protes tiba tiba tersebar dimana-mana. Tidak hanya di Palestina tetapi juga Yordania, Oman dan beberapa negara lainnya. Spanduk bertuliskan: "Dengan jiwa dan darah, kami tebus engkau wahai Ayasy," yang lain, "Kami semua Yahya Ayasy".
Hamas menegaskan bahwa terbunuhnya Yahya Ayasy bukan pertanda akhir kisah perlawanan terhadap Zionis. Hamas menyatakan, "Semua putra Hamas adalah Yahya Ayasy dan perang melawan Yahudi adalah kewajiban!"
Baca juga: Menkop dan UKM Teten Masduki Jalan Santai Launching HPN 2024 di Monas
Di rumah orangtuanya, di Nablus, dihadapan ribuan masyarakat yang menyampaikan belasungkawa, sebelum Salat Gaib, ayahnya mengatakan, "Sejarah perlawanan takkan berakhir dengan kematian anakku. Masih ada ribuan pemuda Palestina yang akan meneruskan jejaknya!"
Beberapa hari sebelumnya seorang warga Palestina, Usamah Kamal Hamad memberi sebuah handphone kepada Yahya. Tapi instingnya merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sehingga sudah sepekan HP tersebut tidak disentuhnya.
Tapi takdir Allah lebih kuat dari instingnya. Beit Lehiya di timur Gaza sudah ditakdirkan sebagai tempat tarikan napas terakhirnya jauh dari kota kecil tempat kelahirannya, Rafat sebelah barat daya Kota Nablus.
Belakangan diketahui bahwa Usamah Kamal adalah bagian dari intelejen Israel.
Keadaan masyarakat yang tertindas dan selalu tercekam membuat Yahya Ayasy selalu gelisah dan mendorong nya untuk belajar dengan keras. Jiwanya melarangnya untuk berputus asa tetapi mendorongnya untuk memahami bahwa hidup itu harus berisi perjuangan.
Baca juga: Kicut Kongsi Dagang Pepaya, Warga Cirebon Masuk Sel Polres Lamtim
Sehingga akhirnya membuat Ayasy tumbuh menjadi pemuda sederhana yang tidak kehilangan jiwa ulet dan gigih. Kuliah di Teknik Elektro Universitas Beir Zeit, dirinya menjadi ahli merakit bom dan bergabung dengan Hamas saat didirikan pada tahun 1987.
Intelijen Israel menempatkan dia sebagai buronan Hamas yang paling dicari karena dipandang sebagi otak di balik urusan mission impossible bom pejuang Hamas. Tidak kurang 13 kali, menurut Israel, Ayasy ada di balik pengeboman militer Israel.
Untuk diketahui, salah satu yang membedakan Hamas dengan Fatah atau PLO adalah Hamas tidak melakukan pengeboman di luar wilayah Palestina (Israel). Tidak seperti peristiwa Black September misalnya.
September Hitam adalah peristiwa saat Olimpiade München 1972. Pada 5 September 1972, kelompok September Hitam (Black September) yang terdiri dari orang-orang Palestina menyandera dan membunuh 11 atlet Israel dan seorang polisi.
Hamas selalu menarget sasarannya di dalam wilayah Palestina (Israel) sebagai daerah perang, bukan di luar wilayah Darul Harbi.
Perang Palestina Israel kali ini membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina tidak akan pernah berhenti sebelum tercapainya kemerdekaan. Free Palestine!
Isy kariman aw mut syahidan, merdeka ataoe mati!
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
