Helo Indonesia

Membunuh Pemimpin Lewat Bayang-Bayang Layar Gadget

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Rabu, 24 Mei 2023 10:21
    Bagikan  
Prof. Sudjarwo

Prof. Sudjarwo - (Foto Ist.)

Oleh Prof. Sudjarwo*

BAYANG-BAYANG terbentuk apabila cahaya terhalang suatu benda. Sinar yang merambat lurus bila terhalang sesuatu maka muncul bayangan seperti bentuk benda yang menghalanginya itu. Jika sumber cahayanya lemah, bayangan ikut samar-samar, tidak kentara.

Itu penjelasan dalam Wikipedia yang dapat dijadikan pembatas maknawi dari apa itu bayangan. Namun, definisinya dapat berbeda jika ditilik dari makna simboliknya. Makna simbolik itu yang sekarang sedang mendapatkan panggungnya melalui media sosial.

Lewat media sosial, seorang jurnalis senior provinsi ini mengatakan jelang Pemilu 2024 media sosial lebih efektif dan murah jika dibandingkan cara-cara lama, kampanye konvensional agar audiens yakin dengan sosok yang hendak ditawarkan sekaligus melibas lawan politik.

Asumsi tersebut bisa jadi sangat benar, lewat media sosial, mudah murah dan efektif membunuh karakter lawan. Ketika semua orang tak lepas lagi dari telepon genggam untuk mengetahui berbagai situasi, pisau yang dapat membunuh karakter seseorang pun bertebaran lewat gadget.

Secara filosofi, tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, pasti memiliki kekurangan bawaannya. Kekurangan lawan itulah yang kemudian dieksploitir sedemikian rupa dengan sehingga muncul kepermukaan sehingga semua orang bisa melihatnya.

Ibarat bermain sepak bola kaki, kelemahan yang muncul ke permukaan tersebut menjadi bola lambung yang siap dieksekusi hingga merobek gawang lawan. Permainan “membunuh bayang-bayang” seperti ini biasa dilakukan oleh mereka yang sudah mendapatkan pendidikan khusus spionase maupun contra spionase secara bersamaan pada level tertentu.

Kemudian, kemampuan tersebut diserap dan diterjemahkan oleh para ahli teknologi media, dibuatlah program yang isinya menjatuhkan sasaran. Tentu saja program disusun melalui penelitian yang cermat dan terukur.

Sempurnalah senjata yang dibuat dalam bentuk bayang-bayang yang di lepas ke dunia maya untuk dapat dibaca atau dinikmati oleh pemirsa agar ditelan sebagai suatu kebenaran

Senjata program ini menjadi semakin ampuh manakala sasaran memiliki karakter komunikasi politiknya buruk; kemudian diperparah lagi dengan karakter bawaan lahir yang temperamental.

Tipe temperamental seperti ini tidak mau mendengar nasehat orang lain, merasa diri mampu serta cenderung keras kepala; sehingga orang malas memberikan masukan.

Sementara orang yang ada di sekelilingnya adalah penjilat-penjilat kelas “Sengkuni” yang sangat pandai mengolah situasi dan kondisi; akibatnya sempurnalah pisau pembunuh bayang-bayang menghujam ke jantungnya.

Belum lagi ada kelompok yang ditugaskan mengamputasi sasaran agar semakin tidak memijak bumi; teknik yang biasa digunakan adalah mengeliminasi sasaran agar jauh dari interkasi setara, dan yang dikembangkan interaksi vertikal.

Hukum sosial yang dipakai adalah gunakan perintah atas bawah, potong jalur kiri kanan agar tidak terbangun networking dengan demikian sasaran menjadi sempurna “berkesendirian dalam keramaian”; akibat lanjut sasaran menjadi berperilaku “megaloman”.

Sempurna sudah kehancuran karakter sebagai tujuan membunuh bayang-bayang yang dimiliki sasaran.
Apa yang dikemukakan di atas dalam tataran bangun ilmu disebut sebagai midlle rank theory; sedang untuk diaplikasikan di lapangan tinggal siapa yang akan dijadikan sasaran; pemimpin formal atau informal.

Dengan kata lain, bisa Pak RT, Kades, Bupati, Gubernur bahkan Presiden sekalipun bisa dijadikan sasaran tembaknya.

Tinggal variable karakter menjadi pertimbangan tersendiri. Diantara bentuk karakter itu misalnya keras kepala, pendiam, banyak bicara atau kombinasi. Kemudian bentuk komunikasi yang dibangun selama ini seperti apa: bisa komunikasi senyap, komunikasi akomodatif dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu tidak heran jika akhir-akhir ini narasi-narasi yang bermunculan di media sosial seperti itu, sebenarnya memiliki pola yang berdasar pada teori di atas. Tinggal apakah pembaca terbius atau tidak, terjebak atau tidak; ini sangat tergantung kemasan yang dibuat sebagai pembungkusnya.

Bahkan menurut informasi yang perlu dicek kebenarannya, kita dapat memesan fragmen pendek pada penyedia jasa atas dasar lama durasi, bobot pemain, kualitas tampilan; tentu makin canggih makin mahal. Mulailah disini hukum “wani piro” berlaku sesuai kemasan.

Industri komunikasi publik tambaknya sekarang sedang naik daun, apalagi sebentar lagi ada pesta demokrasi; jelas saja media sosial akan menjadi media ampuh guna menjual narasi-narasi “nyinyir” untuk mendulang “cuan” ; tinggal bagaimana kita bersikap dewasa dalam menyimak semua produk itu, agar kita tidak terbawa arus menuju pusaran kebencian yang itu merupakan barang dagangan yang sangat laku saat ini.

Kita bisa menyimak dari kanal-kanal yang ada pada media sosial; tampilan yang bersifat mengarah kepada sikap kebencian banyak mendapat “like” dan “komen”; dan komennyapun ada yang bersifat “mendukung” atau juga “ngompori”. Banyak pihak yang terjebak, sehingga menjadi bahan “rujak”an para nitizen (warga dalam medsos).

Banyak diantara mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya memang jadi target sasaran. Tidak salah jika para cerdik-cendikia berpesan sekarang eranya untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi, terutama yang melalui media sosial; sebab keteledoran sedikit saja, maka malapeta yang akan datang.

Jargon “diam berarti emas” sudah sepatutnya ditambah dengan diksi “walau daun telinga serasa panas”; demi keselamatan diri dari marabahaya sambil zig-zag melakukan serangan balasan lewat karya.

* Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di
Pascasarjana FKIP-Unila