Helo Indonesia

Yesus Tak Pernah Rayakan Natal, Alkitab Tak Beri Perintah Merayakannya

Satwiko Rumekso - Lain-lain
Minggu, 15 Desember 2024 20:50
    Bagikan  
Natal
Istimewa

Natal - Alkitab tak beri perintah merayakan Natal

HELOINDONESIA.COM - Setiap tahun pada 25 Desember, oleh umat Kristen, Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Namun tak semua tradisi yang identik dengan Natal mengandung unsur agama, ada juga yang merupakan pengaruh dari budaya Barat seperti pohon Natal, kartu dan berbagi hadiah, hingga kisah tentang Sinterklas.

Menurut para teolog Mesir, pada awalnya Natal diperingati sebagai sebuah perayaan sekitar tahun 200 Masehi di Aleksandria. Beragam perkiraan tanggal kapan persisnya perayaan tersebut pun bermunculan mulai dari 20 Mei, 19 atau 20 April.

Di beberapa tempat lain perayaan dilakukan pada 5 atau 6 Januari, ada juga yang merayakannya di bulan Desember. Khusus untuk perayaan pada 25 Desember ini dimulai tahun 221 Masehi oleh Sextus Julius Africanus. Perayaan ini barulah diterima secara lebih luas tepatnya di abad ke-5.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah perdebatan, apakah Natal yang dirayakan setiap Desember adalah benar merupakan peringatan hari kelahiran Yesus Kristus atau bukan.

Baca juga: Mengenal Asal Usul Pohon Natal dan Tradisinya

Mengingat beberapa pendapat, seperti yang disebutkan dalam Lukas 2:8, yang menyebutkan bahwa pada malam itu para gembala masih menjaga dombanya di padang rumput.

Namun sepajang pelayanannya apakah Yesus pernah merayakan Natal?

Ternyata tidak ada catatan sejarah atau ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Yesus pernah merayakan Natal.

Alkitab tidak memberikan perintah atau petunjuk bagi para pengikut Yesus untuk merayakan kelahirannya. Perayaan-perayaan yang dijelaskan dalam Alkitab umumnya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Israel dan ajaran-ajaran Yesus sendiri, seperti Perjamuan Kudus.

Perayaan Natal seperti yang kita kenal sekarang ini sebenarnya merupakan perpaduan antara tradisi Kristen dan tradisi Romawi kuno. Tanggal 25 Desember dipilih karena bertepatan dengan perayaan matahari musim dingin dalam kalender Romawi. Gereja kemudian mengadopsi tanggal ini dan mengaitkannya dengan kelahiran Yesus.

Baca juga: Jenis-jenis Olahraga yang Membuat Napas Menjadi Panjang

Tidak semua aliran Kristen merayakan Natal. Beberapa aliran, seperti Saksi-Saksi Yehuwa dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, tidak merayakan Natal karena mereka berpendapat bahwa perayaan ini tidak memiliki dasar Alkitab yang kuat dan terpengaruh oleh tradisi pagan.

Mengapa Tanggal 25

Tanggal 25 Desember dipilih untuk merayakan Natal karena bertepatan dengan perayaan matahari musim dingin dalam kalender Romawi. Perayaan ini disebut Saturnalia, sebuah festival yang merayakan kelahiran kembali matahari. Dengan memilih tanggal yang sama, Gereja berusaha untuk mengkonversi orang-orang Romawi yang merayakan Saturnalia ke dalam tradisi Kristen.


Alkitab tidak memberikan tanggal pasti kelahiran Yesus. Para teolog dan sejarawan telah mencoba memperkirakan tanggal yang paling mungkin, namun belum ada kesepakatan yang bulat. Oleh karena itu, tanggal 25 Desember lebih bersifat simbolis daripada berdasarkan fakta sejarah yang konkret.