Oleh Gufron Aziz Fuadi *
GENERASI yang sekarang berumur 40 tahun ke atas tentunya akrab dengan kosa kata "amburadul". Ungkapan ini cukup populer tahun '80-90-an.
Menurut KBBI, amburadul adalah centang perenang, berantakan, porak-poranda. Kata yang merujuk pada kondisi tidak teratur,
Secara berseloroh, guru saya saat itu, 1988 mengatakan kondisi dakwah saat ini amburadul atau disorganizide. Dia mengkaitkannya dengan pembahasan amradhul ummah fi dakwah atau penyakit umat dalam dakwah.
Problematika dan tantangan yang dihadapi umat Islam hari ini tidaklah ringan. Dakwah menghadapi tantangan yang tidak tunggal atau sendiri sendiri, tetapi terorganisir dan sistematis.
Hal itu bukan masalah baru, tetapi sesuatu yang sudah dihadapi oleh para nabi ribuan tahun yang lalu, termasuk Nabi Musa. Beliau menghadapi tantangan oligarki, yaitu koalisi Rezim Firaun dengan konglomerat (Qarun) dan Haman (teknokrat, menteri segala urusan semacam Sengkuni).
Baca juga: Guru Gunduli Belasan Siswi SMP di Sukodadi, Puan: Sanksi Itu Bukan Intimidasi dan Merendahkan
Firman Nya: Dan (juga) Qarun, Firaun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (Al Ankabut: 39)
Oleh karena itu, dakwah dan amar makruf nahi munkar yang dilakukan secara infiradiyyah (individual) dan juziyyah (parsial dan sektoral) tidak akan berjalan efektif. Dakwah yang dilakukan secara individualisme, kelompokisme dan sektoral adalah sebuah penyakit yang harus diobati agar kembali kepada dawah yang sehat: syamil dan mutakamil.
Dawah yang lengkap dan menyeluruh serta saling terkait. Ust. Hilmi sering mengingatkan bahwa amar ma'ruf nahy munkar adalah usaha mengkonsolidasikan anasir kebaikan untuk menggeser dan menggusur koalisi kemungkaran.
Dawah infiradiyyah akan berdampak pada mentalitas (al-ma’nawiyyah) dan aktivitas (al-‘amaliyyah) seorang dai. Diantaranya:
Pertama, dampak terhadap mentalitas (al-ma’nawiyah)
Da’i yang berdakwah secara infiradi secara maknawi cenderung emosional (al-infi’aliyyah); yakni sekedar mengikuti suasana hati atau kecenderungan pribadi. Dakwahnya menjadi serampangan (at-tahawur), tidak berdasarkan pandangan dan perencanaan yang matang.
Baca juga: PKS Menyatakan Masih Tetap Mendukung Anies baswedan Pasca Penujukan Cak Imin Jadi Bakal Cawapres
Al-Infiradiyah pun cenderung menggiring pada figuritas (al-wijahiyah) pada sang dai. Hal ini berbahaya terutama jika para pengikut da’i infiradi ini bersikap fanatik kepadanya. Dan kemudian bisa memunculkan sikap otoriter (al-istibdadiyah) seorang da’i, minimal susah mendengar pendapat orang atau pihak lain.
Imam Malik Rahimahullah, mengatakan:
“Tidak ada seorangpun setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kecuali perkataannya itu ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan, kecuali Nabi Saw.” (Ibnu Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi juz II, hal. 111-112).
Dalam puncak ketenaran, da’i infiradiyyah pun sangat rentan terpapar perasaan merasa hebat (al-i’tizaziyyah). Sikap seperti ini menyeret seorang da’i pada egosentrisme (al-ananiyyah); ia tidak mampu melihat suatu persoalan dari perspektif orang lain; tidak bisa menarik kesimpulan dari apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilihat oleh pihak lain.
Ia menganggap dirinyalah pusat perhatian dan hanya pendapatnya sajalah yang penting. Dengan mentalitas seperti ini tidak heran jika yang muncul selanjutnya adalah sikap meremehkan (al-intiqashiyyah). Akhirnya potensi perpecahan (at-tafriqah) di tengah-tengah umat pun semakin berkembang.
Kedua, dampak terhadap al-‘amaliyyah (aktivitas).
Dakwah yang dilakukan secara infiradiyyah cenderung bergaya spontanitas (al-‘afwiyyah) tidak punya langkah strategis dan sistematis. Hal ini karena minimnya musyawarah yang bisa menampung banyak pendapat.
Padahal Allah Ta’ala berfirman,
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat diantara mereka…”
(QS. As-Syura, 42: 38).
Baca juga: PKS Lampung Tegak Lurus Usung Anies Capres RI 2024
Dengan dakwah semacam ini setiap tindakan dan langkah-langkah tidak akan terevaluasi dengan baik; tidak ada pertanggung jawaban (‘adamul mas’uliyyah) dengan demikian sangat minim perbaikan.
Tanpa musyawarah dan langkah-langkah strategis, dakwah infiradiyyah berpotensi menjadi gerakan dakwah yang parsial (al-juz’iyyah). Dakwah yang menitikberatkan pada sebagian ajaran Islam dan mengabaikan sebagian ajaran Islam yang lainnya. Maka akan tumbuhlah fenomena-fenomena kontradiktif (at-tanaqudhat) di tengah-tengah masyarakat. Kelompok yang satu meremehkan kelompok yang lain. Bahkan saling menyalahkan, bahkan membid'ahkan.
Dawah harus membawa perubahan kearah Islam yang wadhih, yang komprehensif dan integral. Tidak asyik dengan yang parsial dan mengabaikan bagian yang lainnya. Karena kehidupan dunia yang semakin kompleks tidak akan mungkin dihadapi secara individual dan parsial.
Singkatnya, biar tidak terlalu panjang, para dai perlu memahami hakikat Islam yang syamil dan mutakamil sehingga bisa
menuntunnya pada kerja-kerja dakwah Islam yang menyeluruh dan integral yang mencakup aspek keyakinan (al-i’tiqadi), moral (al-akhlaki), sikap (as-suluki), perasaan (as-syu’uri), pendidikan (at-tarbawi), kemasyarakatan (al-ijtima’i), politik (as-siyasi), ekonomi (al-iqtishadi), militer (al-‘askari), dan hukum (al-jina’i).
Wallahua'lam bi shawab (Gaf)
* Ketua Wilayah Sumbagsel DPP PKS
