LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Iseng nanya, "rendang atau semur" lalu dibalik "semur atau rendang" dan alhasil didapat lima jawaban tercepat, Senin (9/6/2025).
Di antaranya, Arinta Chelsea Ramadani (18), warga Perum Bukit Bilabong Jaya, Kelurahan Bilabong Jaya, Langkapura, Bandarlampung, pilih rendang.
Alumnus SMA Negeri 16 Bandarlampung yang saat kelas 2 pernah menjadi Ketua English Club tahun lalu ini menyebut, citarasa kuliner rendang sebagai karkhas tak tergantikan.
"Idul Fitri, Idul Adha, rendang sih. Secara, rendang dah go internasional juga kan. Kalau pantengin di sosmed kan suka viral tuh warga Sumatra Barat nyumbang rendang ke mana gitu. Ke daerah laen yang lagi kena bencana, ngerayain sesuatu bareng orang Minang di tanah rantau, bahkan ke rakyat Palestina. Pokoknya kalo aku, rendang is the best," ujar Chelsea, yang tahun ini lulus tes diterima di Prodi Teknik Kimia Fakultas Teknik Unila ini.
Sementara, Purnama Hidayah, ibu muda cum jurnalis, aktivis perempuan dan calon advokat asal Sukadana, Lampung Timur, pilih semur.
"Tim semur," sahut Ipung, demikian sapaan karib pegiat Komunitas Relawan Pekerja Migran Indonesia (Kawan PMI) setempat, jejaring mitra Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) ini.
Pun Puji Lestari, aktivis 98, alumnus Akademi Pariwisata Satu Nusa (Akparsan) Lampung, kini ASN Dinas Pariwisata Lampung ini. Semur.
Rendang, per hikayat tercatat merupakan kuliner asli Nusantara, berdasarkan catatan tertulis abad ke-19 menyebut bahwa rendang muncul pada abad ke-16, saat masyarakat Minangkabau mulai berlayar ke Selat Malaka dan Singapura. Lalu, sumber lainnya juga ada menyebut rendang sudah ada sejak Kerajaan Pagaruyung memerintah tahun 1347-1375.
Tertakdir menjadi masakan tradisi masyarakat Minang, rendang juga dikaitkan dengan tradisi merantau orang Minang, daging yang dimasak dengan dikeringkan, dibumbui aneka rempah, membuat rendang tahan lama, cocok dibawa dalam perjalanan jauh.
Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan wajib acara perayaan adat, kenduri atau penyambutan tamu kehormatan serta hidangan spesial pada Hari Raya.
Rendang juga berposisi istimewa. Empat bahan pokok digunakan memasak rendang melambangkan keutuhan masyarakat Minang.
"Dagiang" (daging sapi) melambangkan “naniak mamak” (para pemimpin suku adat). "Karambiah" (kelapa) ini perlambang “cadiak pandai” (cerdik dan pandai), "Lado" (cabai) ini perlambang “alim ilama” (tokoh ulama, pengajar agama), dan "pemasak" (bumbu) melambangkan masyarakat Minang.
Sejarawan Universitas Andalas, Prof. Dr Gusti Asnan, pernah menerangkan, rendang telah tersebar luas sejak orang Minang merantau untuk berdagang pada awal abad ke-16.
"Rendang juga termasuk dalam kesusastraan Melayu klasik seperti Hikayat Amir Hamzah yang membuktikan bahwa rendang sudah dikenal dalam seni masakan Melayu sejak tahun 1550-an atau pertengahan abad ke-16," jelas Profesor.
Notabene, setelah tahun 2018 rendang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu dari lima hidangan nasional Indonesia, kuliner ajaib yang dapat bertahan berminggu-minggu dalam suhu ruangan ini, telah beberapa kali pula memperoleh pengakuan sebagai salah satu hidangan terenak, terlezat, ternikmat, terbaik, terunik, di dunia.
CNN International misal, telah beberapa kali memasukkan rendang ke dalam daftar "50 Makanan Terenak di Dunia".
Lalu, TasteAtlas, nobatkan rendang sebagai hidangan kelapa terbaik di dunia tahun 2024 dan dengan skor 4,5 bintang pada 2025 ini.
Rendang juga masuk daftar "Makanan Terbaik Dunia" versi TasteAtlas pada peringkat ke-67. Kemudia, rendang juga pernah menjadi tema Google Doodle pada 21 Agustus 2024, yang menandai acara memasak rendang daring terbesar sepanjang masa, sekaligus penanda keakraban masyarakat dunia dengan si dia.
Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) infonya telah menimbang rendang untuk didaftarkan sebagai warisan budaya takbenda.
Dan menjadi "bonus akal sehat", selain dari rendang daging sapi, kini kita juga mengenal baik kuliner "aseli lho" Indonesia yang bahan baku bumbunya semirip rendang. Paling mudah dibayangkan, rendang jengkol, suka?
Sedangkan semur, yang belakangan ketahuan ternyata bukan berasal dari Belanda sesuai asal katanya yakni "smoor" (masakan daging yang direbus dengan bawang dan tomat secara perlahan), lantas usai dibawa ke Indonesia akrab di lidah, di jemari: semur. Ini.
Konon, semur daging sapi kuno yang memiliki keajaiban sulit dijelaskan dengan sifatnya nan sederhana hangat bergizi, beri nuansa tepat (menjelaskan kenapa semur daging sapi jadi makanan yang menenangkan seantero dunia).
Senada halnya rendang, selain rasa dihasilkan, metode persiapan memasaknya pun memiliki keunggulan yang berguna: mengolah potongan daging biasanya keras, kurang diminati, jadi hidangan siap santap.
Tak heran, manusia telah memasak daging dengan metode pengapian kecil dalam cairan selama berabad-abad. Bangsa Romawi Kuno merebus daging sapi dalam anggur, rempah, dan kismis untuk buat hidangan "copadia".
Bangsa Viking mencampurnya bareng dengan kacang-kacangan dan kulit kayu giling dalam air panas di atas bara, dimasak jadi "skause". Bahkan, ada penyebutan tentang konsumsi daging rebus dalam Kitab Perjanjian Lama.
Nah, bentuk semur daging sapi modern yang kita kenal, demikian seperti disitat dari laman Yahoo.com, berasal dari Prancis abad ke-14, dengan resep yang pertama kali dicetak oleh Taillevent, seorang koki kerajaan dan penulis buku resep.
Berdasarkan resepnya, semur daging sapi secara resmi muncul dalam sejarah dan tidak pernah pudar sejak saat itu. Sampai menjadi "smoor" saat tiba di Belanda, menjadi semur saat tiba di Indonesia, dan menjadi "enak nih" saat tiba saatnya kita ditraktir makan rendang dan semur sekaligus, di meja makan rumah calon mertua ataupun tetangga. (Muzzamil)
