SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Tekad besar Provinsi Jawa Tengah untuk memulangkan pesta olahraga terbesar nasional, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII tahun 2032, terpaksa harus diparkir dulu. Rencana megah untuk maju sebagai tuan rumah bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi batal terealisasi setelah DIY memilih mundur di detik-detik akhir.
Kabar mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh Ketua Umum KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, selepas pembukaan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Jateng di Hotel Grasia Semarang, Sabtu 4 April 2026. Acara tahunan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Baca juga: Ribuan Warga Demak Bertahan di Pengungsian, Ahmad Luthfi Guyur Bantuan Rp 236 Juta
Sujarwanto mengungkapkan, sejak awal pihaknya memiliki keinginan kuat untuk menjadi tuan rumah PON 2032. Bahkan, dukungan juga datang dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Ketua DPRD Jateng Sumanto sehingga berbagai desain persiapan telah mulai dirancang.
“Kita sebenarnya sangat ingin menjadi tuan rumah PON 2032. Keinginan itu juga sudah disampaikan oleh Bapak Gubernur, sehingga kita mulai menyiapkan berbagai hal untuk menuju ke sana,” ujarnya, didampingi Wakil Ketua Umum I KONI Jateng Urip Sihabudin dan Sekum Budi Santoso.
Namun, menurut dia, terdapat tradisi dalam penyelenggaraan PON di mana satu provinsi dinilai kurang ideal untuk menanggung beban penyelenggaraan sendiri. Karena itu, Jawa Tengah menggandeng DIY untuk maju bersama.
“Biasanya memang tidak cukup satu provinsi, sehingga kita mengajak Yogya untuk mencalonkan diri bersama. Tapi dalam dinamika pembahasan, keputusan itu membutuhkan pertimbangan yang luas,” katanya.
Kesempatan yang dinilai strategis itu akhirnya terlepas setelah DIY menyatakan belum siap. Padahal, Jawa Tengah ingin memanfaatkan momentum, mengingat pernah menjadi tuan rumah PON pertama dan belum kembali mendapatkan kesempatan kedua.
“Sebenarnya ini peluang yang ingin kita ambil, tapi karena DIY belum siap dan belum ada kesepakatan, maka kita juga harus mundur. Kita melandai dulu,” tegasnya.
Selain masalah kesiapan sang partner, faktor non-teknik berupa perubahan jadwal pendaftaran dari KONI Pusat ikut menjadi plot twist yang mengurungkan langkah Jateng. Deadline pendaftaran yang awalnya dipatok hingga Mei 2026, mendadak dimajukan menjadi 1 April.
“Waktu pendaftaran yang dimajukan membuat persiapan semakin sempit, apalagi bertepatan dengan momentum jelang Lebaran. Kita sudah maksimal, tapi situasinya tidak memungkinkan,” ungkapnya.
Walaupun demikian, pihaknya memastikan Jawa Tengah tidak menutup peluang untuk kembali mencalonkan diri pada kesempatan berikutnya.
“Kesempatan berikutnya tentu akan kita coba lagi,” tandasnya.
Baca juga: Perkuat Kompetensi Digital, 100 Siswa SMK Texmaco Semarang Kunjungi FTIK USM
Dia menandaskan, berdasarkan informasi yang diterima, pasangan provinsi yang telah mendaftar sebagai calon tuan rumah PON 2032 adalah Lampung dan Banten.
Proses Panjang
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah, Muhammad Masrofi, menambahkan, rencana pencalonan bersama DIY sebenarnya telah melalui proses panjang. Namun keputusan mundur diambil DIY setelah melalui berbagai pertimbangan.
“Awalnya kita ingin maju bersama Yogyakarta. Tapi di detik-detik terakhir, setelah diskusi yang cukup mendalam, mereka memutuskan untuk mengundurkan diri dari pencalonan bersama,” jelas Masrofi.
Ia menegaskan, langkah ini masih sebatas pencalonan, bukan penunjukan resmi sebagai tuan rumah. Dengan batalnya pencalonan tersebut, Jawa Tengah otomatis tidak masuk dalam proses seleksi.
“Ini kan baru tahap mencalonkan diri, belum penunjukan. Jadi ketika tidak jadi mencalonkan, ya otomatis tidak ikut dalam proses selanjutnya,” ujarnya.
Baca juga: Bodo Ketupat Dusun Juwono, Tradisi Turun Temurun yang Menguatkan Iman dan Imun
Masrofi juga menilai, skema tuan rumah bersama menjadi pilihan realistis mengingat besarnya kebutuhan anggaran penyelenggaraan PON.
“Kebutuhan biaya PON itu sangat besar. Kalau ditanggung bersama dua provinsi tentu lebih ringan. Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan prioritas pembangunan daerah,” katanya.
Terkait peluang menggandeng provinsi lain, da memastikan hal tersebut tidak memungkinkan karena pendaftaran telah resmi ditutup lebih awal.
“Awalnya ditutup 1 Mei, tapi dimajukan jadi 1 April. Jadi sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari pasangan baru,” jelasnya.
Meskipun gagal mendaftar, Masrofi menegaskan tidak ada kekecewaan berlebihan. Ia optimistis peluang menjadi tuan rumah masih terbuka di masa mendatang.
“Tidak ada kekecewaan. Kesempatan masih ada di tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya. (Aji)
