Oleh Gufron Azis Fuadi
ADA awan yang yang serius dan rajin menunggu syuruq (terbitnya matahari) sambil berdzikir dan kemudian diakhiri dengan salat Isyraq dua rakaat yang dilakukan setelah matahari terbit berlalu sekira 15 menit. Mengapa? "Saya hanya sedang menikmati keadilan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya tanpa pilih kasih," katanya.
Karena bagi dia, prosesi syuruq dan salat Isyraq ini merupakan atau semacam konsesi dan solusi bagi hamba-Nya yang rindu ke Baitullah tetapi belum diberikan kemampuan untuk menunaikan ibadah tersebut.
Semua orang yang beriman pasti menginginkan untuk pergi ke Baitullah menunaikan haji dan atau umrah.
Ada rindu yang membuncah saat melihat handai taulan yang memposting dirinya sedang khusuk atau bahagia dengan latar belakang Kabah yang mulia.
Bahkan ada rindu dendam untuk menuntaskan kerinduan itu bila suatu saat nanti Allah memberikan kemampuan membayar ongkos travelingnya. Lebih lebih umrah Ramadhan yang pahalanya setara dengan haji.
Meskipun rindu dendam saat melihat orang yang setiap tahun bisa bersimpuh di depan rumah Nya termasuk iri, tetapi iri dalam hal ini termasuk yang dibolehkan, selama tidak merusak hati.
Bagi mereka yang memiliki kerinduan tapi belum berkemampuan menuntaskannya maka Allah memberi peluang mendapatkan pahala yang sama dengan pahala haji dan umrah, sebagaimana sabdanya SAW:
“Barangsiapa yang melaksanakan salat subuh secara berjama’ah duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan salat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh. Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”(Hr. Tirmidzi)
Hal ini mungkin senada dengan kisah para sahabat Nabi SAW berikut ini:
Dari Abu ra Hurairah , ia berkata, “Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi SAW. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah.
Nabi SAW lantas bersabda: maukah kalian Aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir salat sebanyak tiga puluh tiga kali.”
Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari no. 843).
Meskipun kemudian perihal ini diketahui dan juga diamalkan oleh orang orang kaya. Sehingga para sahabat miskin pun mengadu kembali kepada nabi. Tetapi Nabi menjawabnya dengan, "... Inilah karunia Allah yang diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki..." (Hr. Muslim, 595)
Orang yang tidak (jadi) berangkat haji boleh jadi mendapatkan pahala haji mabrur. Bahkan bisa menjadi sebab mabrur nya ibadah haji para hujaj yang datang langsung ke Baitullah dan Armina sebagaimana kisah Ali bin Muwaffaq, tukang sol sepatu dari Damaskus yang tidak jadi berangkat haji karena semua ONH yang yang dikumpulkannya disedekahkan kepada keluarga miskin yang sangat membutuhkan sebagaimana dikisahkan oleh ulama mujahid Abdullah bin Mubarak berdasarkan mimpinya saat tertidur ketika istirahat di sekitar Masjidil Haram...
Sungguh Allah memamg Maha Adil!
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)
-
