HARI INI adalah hari ke-27 bulan Rajab. Hari ini merupakan hari libur nasional dalam rangka hari besar keagamaan. Umat Islam di Indonesia biasanya menggelar majelis atau pengajian untuk memperingati peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Saw yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian (619 M), setelah wafatnya Siti Khadijah, istri Beliau, dan Abu Thalib, paman Beliau.
Keduanya merupakan pendukung utama dakwah Nabi. Meskipun sang paman hingga akhir hayatnya tidak masuk Islam, ia mengakui kebenaran Islam yang dibawa dan didakwahkan oleh kemenakannya, yang dicintainya melebihi cinta kepada anak-anaknya sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana hidayah bekerja: sepenuhnya bergantung pada kehendak Pemilik-Nya.
Hasil terbesar dari peristiwa Isra’ Mi‘raj adalah diwajibkannya salat lima waktu bagi umat Islam. Karena itu, salat sering disebut sebagai mi‘rajul mukminin. Bukan hanya karena perintah salat tidak disampaikan melalui Malaikat Jibril sebagaimana perintah-perintah lainnya, melainkan karena Allah Swt memanggil Nabi Muhammad Saw secara langsung hingga ke Sidratul Muntaha.
tempat tertinggi yang bahkan Malaikat Jibril pun tidak sanggup mencapainya.
Dalam hal ini, Al-‘Allamah Al-Alusi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalat adalah bentuk “kenaikan” ruhani seorang hamba. Jika Nabi Muhammad Saw melakukan Mi‘raj dengan jasad dan ruhnya ke langit, maka umatnya melakukan Mi‘raj dengan ruh dan hati setiap kali mereka bertakbir menghadap kiblat.
Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa orang yang salat seolah-olah sedang meninggalkan alam materi (mulk) menuju alam spiritual (malakut). Jika saat takbiratul ihram hati masih memikirkan kunci motor yang hilang atau masakan yang belum matang, maka Mi‘raj-nya bisa gagal di gerbang pertama. Ia belum “terbang”, masih terikat pada bumi.
Selain itu, bacaan tahiyat dalam salat merupakan bagian dari dialog Nabi Saw ketika bertemu dengan Allah Swt. saat Mi‘raj di Sidratul Muntaha.
Diriwayatkan, saat menghadap Allah, Rasulullah Saw mengucapkan:
“Attahiyyatul mubārakātush shalawātuth thayyibātulillāh.”
(Segala kehormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.)
Kemudian Allah Swt. menjawab:
“Assalāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh.”
(Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, beserta rahmat dan keberkahan-Nya.)
Karena Nabi Saw tidak egois, saat menerima limpahan salam, rahmat, dan berkah tersebut, beliau tidak ingin memilikinya sendiri.
Beliau juga menginginkannya untuk umat yang saleh, sehingga menjawab:
“Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shālihīn.” (Semoga keselamatan juga tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Dari kejauhan, Malaikat Jibril dan para malaikat lain yang menyaksikan dialog agung itu pun berseru dengan persaksian:
“Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muhammadan rasūlullāh.” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Inilah asal-usul bacaan tahiyat, yang bersumber dari dialog mulia antara Nabi Muhammad Saw dan Allah Swt. pada peristiwa Isra’ Mi‘raj, yang membuat para malaikat kagum hingga mereka mengikrarkan persaksian.
Dialog dalam bacaan tahiyat tersebut memberikan pelajaran kepada para pemimpin agar tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri dan keluarganya, tetapi selalu berusaha agar umat atau rakyatnya memperoleh kesempatan yang sama untuk merasakan keselamatan, kenikmatan, dan keberkahan.
Dalam kehidupan nyata, teladan ini juga beliau praktikkan. Rasulullah Saw sejatinya adalah seorang yang berkecukupan, namun memilih gaya hidup sederhana, yang juga diterapkan kepada anak dan istri-istrinya. Sementara harta dan kekayaannya banyak dihabiskan untuk bersedekah serta diinfakkan di jalan dakwah dan perjuangan.
Suatu hari, di musim dingin dan masa paceklik, telik sandi mengabarkan terbentuknya pasukan sekutu (Ahzab) antara kaum kafir Quraisy dan kabilah Arab lainnya untuk menyerang Madinah. Untuk menghambat musuh agar tidak dapat masuk kota, atas usulan sahabat Salman Al-Farisi, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat menggali parit (khandak) sedalam 3–4 meter, selebar 5–6 meter, dan sepanjang sekitar 6 kilometer.
Dalam pekerjaan berat itu, Rasulullah Saw tidak bertindak sebagai “mandor kawat”—pemimpin yang malas tetapi banyak makan—melainkan ikut menggali dan memecah batu. Padahal beliau dalam keadaan sangat lapar, hingga mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar.
Melihat kondisi tersebut, sahabat Jabir bin Abdillah segera pulang ke rumah. Ia menyembelih seekor kambing miliknya dan meminta istrinya memasak untuk Rasulullah Saw dan beberapa orang sahabat. Setelah masakan siap, Jabir menghampiri Rasulullah Saw dan membisikkan undangan makan hanya untuk beliau dan beberapa sahabat, karena seekor kambing tentu tidak cukup untuk ribuan sahabat yang sedang menggali parit.
Namun apa yang terjadi? Rasulullah Saw memerintahkan Jabir agar tidak membuka panci masakan hingga Beliau sendiri yang datang membukanya dan menuangkan hidangan tersebut. Kemudian Rasulullah Saw menyeru seluruh sahabat agar datang ke rumah Jabir untuk makan bersama.
Mendengar hal itu, Jabir dan istrinya menjadi ketar-ketir, sebab mereka hanya memiliki satu kantong gandum dan seekor kambing. Namun dengan mukjizat Nabi, sekantong gandum dan seekor kambing tersebut ternyata mampu mengenyangkan ribuan sahabat. Bahkan Rasulullah Saw masih memerintahkan para sahabat membawa pulang makanan untuk keluarga masing-masing.
Adapun Rasulullah Saw, beliau baru makan setelah seluruh sahabat kenyang. Itupun dari panci yang sama, bukan dari masakan khusus sebagai jatah pimpinan.
Mendahulukan umat daripada diri dan keluarganya bukanlah sekadar slogan, melainkan pilihan sadar dalam gaya hidup. Maka ketika para ummahātul mukminīn—sebutan bagi istri-istri Nabi Saw—bersepakat meminta tambahan nafkah, beliau memberi dua pilihan: pertama, diberikan harta berlimpah tetapi diceraikan; kedua, tetap bersama Nabi Saw dengan kehidupan sederhana.
Teladan seperti ini memang berat dan sulit ditiru. Karena kita bukan nabi.
Namun setidaknya, para pemimpin yang beragama Islam seharusnya berusaha meneladani gaya hidup Rasulullah Saw semampunya. Misalnya, dengan tidak perlu membelikan permaisurinya puluhan tas Hermes dan deretan rak sepatu mewah.
Shallū ‘alan nabī…
Wallāhu a‘lam bish-shawāb
(Gaf)
